Vira, 53 tahun, somewhere:
Sebagai perempuan, aku termasuk terlambat menikah. Aku menikah saat menginjak usia 37 tahun. Kusadari sepenuhnya, bahwa itu adalah resiko dari kesibukanku pada pekerjaan. Ya, aku terlalu sibuk mengejar karir, hingga urusan asmara terbengkalai. Namun pengorbananku tak sia-sia. Karirku melejit cukup bagus. Begitu juga dari segi ekonomi. Aku bisa membeli mobil dan rumah sendiri dari hasil jerih payahku. Selain itu tabunganku di bank lumayan banyak. Juga perhiasan emas simpananku.
Perkenalan dengan suamiku, sebut saja namanya Yono, terjadi karena diatur oleh salah seorang kerabatku. Setelah pertemuan itu aku merasa cocok dengannya. Begitu juga dengan Yono. Kami pun kemudian berpacaran. Yono adalah seorang duda beranak satu. Anaknya, Sebut saja namanya Heri, waktu itu masih duduk di bangku SD kelas 6. Menurut pengakuan Yono, ia bekerja di sebuah perusahaan distributor buku pelajaran sekolah.
Setelah yakin pada pilihanku, kami pun menikah. Sayangnya aku tak dikaruniai anak dari pernikahanku itu. Maka tak heran kalau perhatianku kucurahkan pada Heri.
Beberapa tahun kemudian aku dipindahtugaskan ke kantor pusat yang letaknya cukup jauh (sebut saja nama kotanya X) dari kantor cabang tempat aku mengawali karir di kota Y. Akibatnya, aku dan Yono harus tinggal terpisah. Di kota X aku mengontrak sebuah rumah sederhana yang tak jauh dari kantor. Yono sendiri kemudian memutuskan untuk boyongan ke rumahku, sementara rumahnya dikontrakkan.
Untuk mengobati rasa kangen, kadang aku yang datang ke kota X, kadang Yono dan Heri yang mendatangiku.
Rupanya, tinggal terpisah mendatangkan bencana bagiku.
Suatu ketika Yono dan Heri datang ke kotaku dengan mengendarai mobil baru. Aku senang karena kupikir usaha Yono berkembang pesat. Dengan mobil itu pula lah aku kemudian ikut Yono dan Heri kembali ke kota Y untuk menikmati cutiku.
Sampai di rumah, kulihat ada sepeda motor baru di garasi. Kata Yono itu milik Heri sebagai hadiah karena diterima di SMA negeri. Sebagai istri tentu saja aku bangga mendengar penuturan Yono.
Tak cuma itu. Ternyata di dalam rumah juga ada TV dan kulkas yang semuanya baru. Juga sofa untuk ruang tamu.
Aku mengingatkan Yono agar tidak terlalu menghambur-hamburkan uang. Kusarankan untuk menabungnya agar bisa digunakan untuk hal-hal lain yang jauh lebih penting.
Sekitar 2 bulan kemudian aku ditelepon adik perempuanku, sebut saja namanya Rina, yang tinggal di kota Y. Dia bilang mau pinjam perhiasanku untuk dipakai menghadiri acara kondangan. Di keluargaku memang sudah biasa seperti itu. Saling pinjam baju atau perhiasan saat ada acara-acara tertentu. Seperti biasa, kusuruh Rina untuk langsung saja mengambil di rumahku. Ia sudah tahu di mana aku meletakkan kunci brankas tempat aku menyimpan perhiasan-perhiasanku di dalam almari pakaian.
Satu jam kemudian ia kembali meneleponku. Katanya, perhiasanku telah berkurang banyak. Ia mengira aku menjualnya sebagian. Tentu saja aku kaget. Sudah lama aku tidak membuka brankas perhiasanku, baik untuk menambah, apalagi menjualnya. Kejadian itu membuat keluargaku geger. Betapa tidak. Jika dihitung-hitung, nilai perhiasanku itu tak kurang dari empat ratus juta rupiah.
Untuk memastikan keadaan, aku mengambil cuti dan pulang ke kota Y. Ternyata benar. Perhiasanku hilang lebih dari setengah, terutama yang terbuat dari emas. Kata Yono, beberapa bulan lalu ada seseorang yang kepergok olehnya masuk ke rumah, tapi keburu kabur. Ketika kutanyakan kenapa tidak memberitahuku, ia menjawab kalau tidak perlu karena tidak ada barang yang hilang. Menurut pengakuannya, ia tidak tahu kalau ada brankas di dalam almari pakaian.
Tapi aku tidak percaya begitu saja pada ceritanya. Kukaitkan dengan adanya mobil, sepeda motor, TV, kulkas dan sofa yang semuanya baru, timbul kecurigaanku pada Yono. Ditambah lagi dengan cerita dari salah seorang kerabatku kalau Yono sudah tidak bekerja lagi di perusahaan pemasok ATK untuk kantor cabang tempat aku dulu bekerja.
Berbekal informasi itu, aku melakukan penyelidikan. Kudatangi kantor Yono. Ternyata memang ia sudah tidak bekerja di sana sejak setahun lalu. Ia dipecat dengan tidak hormat karena melakukan penggelapan uang tagihan. Batinku hancur mendengar itu. Yang lebih menyakitkan, rumah yang dulu ditempati Yono ternyata adalah rumah temannya yang kosong karena ditinggal ke luar negeri. Bukan rumahnya sendiri seperti yang selama ini dikatakan kepadaku. Jadi, sejak awal kami sepakat untuk berumah tangga aku telah dibohongi oleh Yono.
Dengan didampingi saudara-saudaraku, kuajak Yono bicara baik-baik. Mula-mula menyangkal dengan marah-marah. Ia tidak terima dituduh mencuri perhiasanku. Mobil dan semua yang ia beli adalah hasil dari pesangon yang ia terima. Hal itu membuat emosiku meledak. Bagaimana mungkin dapat pesangon kalau ia dipecat karena melakukan korupsi? Aku mengancamnya akan melaporkan ke polisi kalau ia masih saja berkelit.
Ancamanku membuahkan hasil. Ia mengakui semua perbuatannya. Yang membuatku kesal, ia melakukan itu karena sebagai suami, ia merasa berhak atas perhiasan itu.
Saat itu aku langsung merasa kalau Yono bukanlah suami yang tepat untukku. Ia tak lebih dari penipu dan maling. Aku mengajukan gugatan cerai. Mobil yang ia beli kujual lagi dan kutabung, sedangkan sepeda motor untuk Heri kuikhlaskan. Hitung-hitung sebagai sedekah.
Aku harus mulai dari nol lagi untuk menabung sebagai persiapan menghadapi hari tuaku. Aku tak ingin menggantungkan hidup pada orang lain, sekalipun itu keluargaku sendiri. Bahkan saat aku menua kelak.
Kini, di saat-saat kesendirianku, aku merasakan betapa hampa hidupku. Yang kutakutkan adalah, tak lama lagi aku pensiun yang artinya akan tinggal di rumah. Sendiri. Tak ada siapapun yang menemani sisa hidupku.
Aku selalu iri saat melintas sekolah taman kanak-kanak. Di sana banyak ibu-ibu bercengkerama sambil menunggui anaknya. Kegiatan yang selama ini kuimpikan, tapi tak pernah kualami. Kadang timbul sesal dalam hatiku, yang terlalu sibuk berkarir hingga melewatkan saat-saat indah sebagai seorang wanita pada umumnya. Menjadi ibu.
Aku sadar, mungkin ini sudah takdirku. Dan aku tak mau makin tenggelam dalam kegalauanku sendiri. Kupersiapkan baik-baik segala sesuatunya untuk menghadapi pensiun nanti. Aku bertekad untuk terus menyibukkan diri, mungkin dengan berwiraswasta atau berkebun. Atau setidaknya menyalurkan hobi melukisku yang sejak memasuki dunia kerja dulu kutinggalkan. (*)
Seperti diceritakan ybs kepada Tim JBSs. Jika Anda berminat mengirim curhat, klik di sini.

