Kuwahara

Cah Bagus (nama samaran), 33 tahun, PNS, Jogja :

Istilah kuwahara aku tahu dari teman kuliahku waktu aku kos di Malang sekian tahun yang lalu. Kepanjangannya Kurasa Wanita Hanya Racun. Wah, sadis ya ...


Tapi istilah itu yang sedang jadi idolaku sejak sekitar 15 tahun terakhir ini. Betapa tidak, setiap kali pacaran selalu putus di jalan. Dan kebanyakan aku yang ditinggalkan (kecian deh lu). Penyebabnya macam-macam. Ada yang jatuh cinta pada laki-laki lain, ada yang terpergok sedang jalan sama laki-laki lain, ada juga yang pindah kos begitu saja tanpa pemberitahuan sehingga aku kesulitan melacak! Yang paling parah, aku pernah pacaran dengan perempuan bersuami. Edan! Kalau kuhitung-hitung, sudah 7 kali aku pacaran dan semuanya gagal.

Aku bukannya tak mau introspeksi. Kuakui, aku seorang yang posesif. Aku tak suka pacarku terlalu banyak bergaul dengan teman laki-laki. Mula-mula mereka oke-oke saja dengan aturanku ini, tapi lama-lama minta bubar dengan alasan macam-macam.

Meskipun sering disakiti, aku tak pernah kapok untuk jatuh cinta. Walaupun pengalaman buruk itu membawaku pada satu kesimpulan, bahwa kesetiaan semakin langka, tapi aku yakin masih banyak perempuan yang akan jadi jodohku dan jadi istri yang setia. Dunia tak selebar daun kelor, bro!
readmore »»  

Mama, Aku Lesbian!

Putri Bulan (nama samaran), 47 tahun, somewhere :

Kata-kata itu yang selalu ingin aku ucapkan setiap kali Mama atau kerabatku menanyakan kapan aku naik pelaminan. Tapi semua hanya terucap dalam hati. Yang keluar dari mulutku adalah jawaban klise "Belum ada yang cocok".

Sebetulnya wajar saja mereka menanyakan itu, karena diusiaku yang hampir setengah abad ini aku masih belum punya calon pendamping. Rasanya itu memang tidak akan mungkin. Sejak remaja aku sama sekali tak tertarik pada laki-laki. Aku tak tahu kenapa, padahal aku punya banyak teman laki-laki yang ganteng.

Aku justru lebih suka melihat wanita cantik. Terutama yang berkulit putih bersih. Aku tahu, bagi orang normal, apa yang kualami ini termasuk dalam penyimpangan orientasi seksual. Itulah sebabnya aku menyimpan rapat-rapat perilakuku ini. Aku tak punya tempat untuk mengadu. Bahkan pada sahabat terdekatku sekalipun.

Dari segi karir, aku termasuk beruntung. Meskipun pendidikanku hanya sarjana muda, tapi bisa mencapai posisi Manajer di sebuah bank swasta nasional. Gajiku sudah lebih dari cukup untuk menghidupiku dan Mama. Papa sudah meninggal 10 tahun lalu dan aku seorang anak tunggal. Jadilah aku dan Mama hanya berdua saja di rumah.

Sampai sekarang aku masih berpikir, dari mana munculnya perilaku lesbian ini. Aku tak pernah mengalami masa lalu yang membuatku trauma atau alergi terhadap laki-laki. Waktu kuliah pernah kucoba untuk jatuh cinta pada teman satu jurusan yang tampaknya menyukaiku, tapi sia-sia.

Sebagai manusia normal, aku juga punya nafsu birahi. Malam-malam yang dingin, saat hasrat itu muncul dan tertahankan lagi, aku melakukan (maaf) masturbasi sambil membayangkan bercumbu dengan wanita cantik. Tapi setelah itu aku selalu menyesal. Menangis. Mengutuk diri sendiri. Kadang aku marah pada Tuhan, kenapa Ia jadikan aku begini?

Untuk mengisi kekosongan hidupku, aku mengangkat anak asuh. Saat ini aku punya 3 anak asuh usia SD. Kuundang mereka ke rumahku setiap libur. Kadang kuajak jalan-jalan ke mall atau ke tempat wisata. Bersama mereka aku bisa merasakan kegembiraan. Kebahagiaan. Walaupun sebenarnya dalam hati aku menangis.

Aku tak lagi berharap jadi normal dan punya pasangan hidup, karena mungkin semua ini sudah digariskan oleh Tuhan.
readmore »»  

Kangen Teman Lama

Virgo Boy (nama samaran), 23 tahun, Denpasar :

Waktu SMP aku punya teman yang amat sangat baik. Namanya Joko. Joko Supriyanto atau Joko Suprayitno, aku lupa, karena aku dan teman-temanku yang lain selalu memanggilnya Joki. Aku sangat berhutang budi padanya. Dari kelas 1 sampai kelas 3 kami selalu satu kelas waktu sekolah di SMP di Probolinggo dulu. Terus terang aku anak yang malas belajar. Kerjaanku tiap hari main PS (waktu itu masih PSX), sehingga mengerjakan PR pun sering kuabaikan.


Beda dengan Joko. Keluarganya kurang mampu. Untuk membiayai hidupnya dan 2 adiknya, ibu Joko menyewa kios di pasar. Ia biasa membantu ibunya berjualan di pasar. Meskipun begitu ia sangat rajin belajar. Setiap pulang sekolah ia menjaga kios, bergantian dengan ibunya. Di kios ia masih sempat belajar atau mengerjakan PR. Aku sering minta bantuannya, termasuk pinjam catatan pelajarannya. Kalau besoknya ada ulangan, aku sering minta Joko belajar di rumahku. Ia sangat telaten mengajariku.

Saat lulus SMA orang tuaku pindah ke Denpasar, Bali. Sejak itu, hingga aku lulus kuliah, aku tak pernah lagi bertemu Joko. Aku mencarinya melalui facebook, tapi nama Joko banyak sekali. Pernah sekali waktu aku datangi rumahnya di Probolinggo, tapi sudah digusur jadi komplek perumahan. Begitu juga dengan pasar tempat ia berjualan.

Aku harap dia baik-baik saja. Ia anak yang pandai. Ia pasti sudah sukses sekarang. Semoga aku masih punya kesempatan untuk bertemu dengannya. Aku ingin mengucapkan terima kasih atas bantuannya dulu.
readmore »»  

Tuhan, Terimalah Tobatku ...

Bandot, 44 tahun, karyawan swasta, somewhere :
Hai, sebut saja aku Bandot. Aku ingin berbagi pengalaman 7 tahun yang lalu, yang kurasakan begitu indah pada saat menjalaninya, namun di sisa hidupku ini terus saja menghantui malam-malam menjelang tidurku.


Usiaku 37 tahun waktu itu dan sudah membina keluarga dengan Santi (bukan nama sebenarnya) selama hampir 10 tahun serta dikaruniai 2 orang anak. Santi memilih untuk berhenti dari pekerjaannya saat hamil anak pertama kami. Ia adalah seorang muslim yang taat beribadah, sementara aku “hangat-hangat tai ayam”.

Aku bekerja di sebuah perusahaan swasta bagian Pemasaran dan masih staf biasa. Karena pekerjaan itulah aku berkenalan dan kemudian akrab dengan, sebut saja, Rina. Rina adalah supervisor stock opname di perusahaan yang menjadi rekanan perusahaanku. Meski usianya terpaut 5 tahun lebih muda dari aku, tapi karirnya lebih dahulu melejit. Aku sudah cukup lama mengenalnya, sejak ia masih berstatus staf. Aku bahkan menghadiri pernikahannya waktu itu, saat anak pertamaku berusia 5. Di mataku Rina adalah seorang wanita yang supel dan ramah, selain juga cantik, mirip Desy Ratnasari.Tapi jujur tak ada rasa tertarik sama sekali padanya, terlebih ketika ia telah berstatus istri orang. Hubungan kami pun berjalan biasa, sebatas rekan bisnis. Frekuensi pertemuanku dengannya pun tergolong jarang. Paling cepat 1 bulan sekali.

Secara tak terduga, kami bertemu dalam satu acara pelatihan di kota B, Jawa Barat. Bertemu dengan orang yang kita kenal baik di kota yang jauh dari kota asal tentulah hal yang sangat menggembirakan bukan? Apalagi kalau kita masih asing di kota itu. Karena masih asing itulah aku berangkat 1 hari lebih awal dari jadwal pelatihan dan mencari hotel yang terdekat, sedangkan Rina baru datang pagi hari menjelang acara pelatihan dengan menumpang kereta api. Ia mandi dan berdandan di stasiun kereta api lalu langsung menuju lokasi pelatihan. Ia pun sudah punya langganan hotel di kota itu dan kebetulan juga berdekatan dengan lokasi pelatihan. Pelatihan hari pertama usai jam 4 sore dan kami berjalan bersama menuju hotel masing-masing.

Malam harinya kami makan di warung tenda di seberang hotel Rina. Menunya kesukaan kami berdua, pecel lele. Harganya pun tergolong murah dan sangat terjangkau uang saku dinasku. Bahkan berlebih. Saat sedang asyik menikmati hidangan, tiba-tiba hujan turun, membuat udara makin dingin.

Entah setan apa yang merasukiku. Usai makan dan sambil menunggu hujan reda aku mengucapkan sesuatu yang tak pernah kurencanakan sebelumnya.
“Rin, boleh nggak aku ngomong sesuatu ke kamu?”, kataku disela gemercik air hujan.
“Ngomong apa, bang?” tanya Rina sambil menyeruput teh hangatnya.
“Terus terang sudah lama aku naksir kamu. Maaf ya, Rin”, aku ucapkan itu sambil memandang jari-jemarinya yang lentik.
“Ah, abang. Jangan bercanda, bang. Nanti kalau ada setan lewat lho”, jawab Rina sambil tersenyum.
Aku tertegun sejenak mendengar jawaban Rina. Kukiran ia akan memelototi aku dan marah, tapi ternyata ...? Ini membuat keberanianku bangkit. Spontan aku berujar “Sungguh, Rin. Berani sumpah!”. Spontan pula tangannya kugenggam. Lagi-lagi aku tertegun. Ia sama sekali tak berusaha menepis genggamanku, seolah-olah isyarat kalau ia membuka hatinya untukku. Aku makin erat menggenggam jemarinya, namun segera kulepaskan karena ada orang yang masuk ke warung tenda dan melewati meja kami. Sejurus kemudian kami membisu, sesekali saling berpandangan, sesekali melihat ke jalanan yang basah oleh hujan. Entah apa yang ada di benaknya, tapi aku merasa ia pun punya perasaan yang sama denganku.

Begitu hujan reda, kami pun berjalan kembali ke hotel. Kugamit tangannya saat hendak menyeberang jalan yang ramai, dan kami terus bergandengan sampai di pintu lobi hotel Rina. Kuantar Rina hingga ke pintu kamarnya lalu aku pamit menuju hotelku. Malam itu aku tak bisa tidur. Aku masih tak percaya pada apa yang telah kulakukan. Aku juga tak percaya respon Rina yang tampaknya memberi harapan kepadaku.

Saat tengah melamun tiba-tiba nada SMS masuk ke HP-ku. Kukira dari Santi, ternyata nomor Rina. Kontan jantungku berdebar-debar. Jangan-jangan Rina melampiaskan kemarahannya padaku melalui SMS ini karena waktu di warung tenda tadi tidak memungkinkan. Dengan tangan gemetar kubuka SMS itu. Kira-kira begini bunyinya :
“Bang Bandot, aku juga suka sama abang, tapi tolong jangan sampai ini mengganggu keharmonisan keluarga kita masing-masing ya”. Oh, serasa terbang ke awang-awang aku membaca SMS Rina. Ingin rasanya aku mendatangi hotelnya, tapi aku masih bisa menahan diri. Lagi pula waktu menunjukkan jam 11 malam.

Malam itu aku tidur dengan hati berbunga-bunga dan tak sabar menunggu datangnya pagi.

Paginya, bergegas aku menuju hotel Rina untuk menjemputnya. Saat itu Rina tengah berbenah diri usai mandi. Setelah membukakan pintu untukku, aku masuk ke kamarnya dan ia melanjutkan berdandan di depan cermin, sedangkan aku duduk di ranjangnya. Dan, harum tubuhnya menggodaku untuk bangkit, mendekatinya, merengkuh pundaknya lalu mencium lembut rambut panjangnya yang terurai. Karena Rina diam saja dan masih sibuk berdandan, keberanianku makin menjadi-jadi. Kusibak rambutnya, lalu kucumbui lehernya yang jenjang. Saat itulah Rina menghentikan dandannya, mendesah lirih lalu membalikkan tubuhnya menghadap aku dan memelukku erat-erat.

Dalam situasi seperti itu aku tak mampu berkata apa-apa selain membalas pelukannya sambil mencumbui telinga dan lehernya. “Oh, bang ...”, desahnya. Naluri kelelakianku sontak meronta. Kukecup bibirnya. Kami pun berciuman dengan ritme yang semula lembut, lama kelamaan makin liar. Sambil berciuman itulah pelahan-lahan kugeser tubuh kami berdua menuju ranjang. Tapi saat sampai di tepi ranjang, Rina tiba-tiba menghentikan langkahku. “Jangan sekarang, bang ... Nanti kita terlambat”, katanya dengan nafas tersengal. Aku tahu ia sama bergairahnya denganku, tapi ia lebih mampu menguasai diri. Aku pun tak ingin memaksanya.

Tak seperti hari sebelumnya, usai pelatihan terakhir itu aku tak langsung kembali ke hotelku setelah mengantar Rina. Aku mampir di hotelnya dan berharap bisa melanjutkan percumbuan yang tadi pagi tertunda, karena esok kami harus kembali ke kota asal kami dengan kereta api pagi. Jujur saja, saat pelatihan berlangsung, aku sama sekali tak berkosentrasi menyimak materi yang disajikan. Pikiranku hanya tertuju pada Rina, Rina dan Rina. Dan aku sudah tak sabar menunggu saat itu. Begitu masuk kamarnya, kurengkuh tubuh indahnya dan kami kembali melakukan percumbuan, bagaikan sepasang kekasih yang lama tak berjumpa dan menahan kerinduan yang sangat dalam. Dan, berakhir dalam keletihan yang sensasional.

Itulah awal dari semua konflik batin yang menderaku hingga ini. Aku tak pernah membayangkan akan seperti ini jadinya. Saat itu memang aku benar-benar terbuai oleh nikmatnya sebuah hubungan gelap. Betapa tidak. Sejak kejadian di kota B itu, intensitas pertemuanku dengan Rina makin sering. Tentunya bukan untuk urusan pekerjaan, tapi menyalurkan hasrat yang meletup-letup di hotel. Rina benar-benar wanita yang tahu bagaimana menyenangkan pria. Ia memperlakukan aku seolah aku ini suaminya. Bahkan ia rela bergantian membayar biaya hotel denganku. Dan yang membuatku tenggelam dalam lumpur dosa adalah karena aku bisa mewujudkan semua fantasiku dalam berhubungan badan dengannya. Semua adegan ranjang yang semula hanya kusaksikan dalam film biru sudah kulakukan bersama Rina. Ya, semuanya ... (maaf, dengan pertimbangan kesusilaan kami tidak dapat menuliskan semua fantasi yang secara blak-blakan diceritakan Bandot di sini. Red.)

Tanpa terasa skandal itu berlangsung selama 5 tahun dengan aman. Entah dengan Rina, tapi aku cukup punya banyak alasan kepada Santi untuk melakukan aksi gila-gilaanku dengan Rina. Aku jadi sulit membedakan, apakah semua yang kulakukan itu didasari cinta atau sekedar mengumbar syahwat saja.

Suatu ketika, aku jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit karena radang usus. Satu minggu aku terbaring di sana dan Santi menunjukkan kecintaan dan kesetiaan seorang istri kepadaku. Saat sedang parah-parahnya sakitku ia rela tidur di rumah sakit menjagaku, sementara anak-anak di rumah diasuh oleh kedua orang tua Santi. Entah kenapa dalam sakit itu aku melihat Santi tampak sangat cantik berbalut jilbab yang dikenakannya sejak pertama kami menikah. Aku kerap mencuri-curi pandang padanya dan tiba-tiba saja penyesalan dan perasaan bersalah menyeruak di batinku. Betapa selama ini aku telah mengkhianati kesetiaannya, mengumbar nafsu dengan kebohongan demi kebohongan. Ia sibuk mengurus anak-anak dan aku bersenang-senang dengan wanita lain.

Pulang dari rumah sakit aku masih harus bed rest di rumah dan dalam kurun waktu masa istirahatku sekitar 1 bulan itulah mata hatiku makin terbuka lebar. Istriku punya kebiasaan mengikuti acara ceramah agama di TV setiap pagi dengan volume dikeraskan karena itu dilakukan sambil mengurus anak-anak, memasak dan bersih-bersih rumah. Mau tak mau aku pun turut mendengarkan walaupun aku berada di dalam kamar. Bila kuperhatikan, dari hari ke hari permasalahan yang dibahas kebanyakan adalah perselingkuhan! Ini membuat telingaku terasa panas, seolah-olah menyindir kebejadanku selama ini. Seolah-olah ribuan mata menatapku dengan pandangan mencibir. Ya Tuhan! Sebetulnya sejak dulu aku tahu berzina itu dosa, tapi kenapa kulakukan juga? Setan benar-benar telah menguasai pikiranku hingga mengabaikan norma-norma itu.

Aku merasa, sakit yang kuidap itu adalah cubitan dari Allah untuk mengingatkanku agar kembali ke jalan-Nya. Aku merasa, itu adalah saatnya aku bertobat. Dan aku bersungguh-sungguh sadar telah melakukan kesalahan yang teramat besar. Aku tak lagi berhubungan dengan Rina, bahkan untuk sekedar mengirim SMS. Kami makin jarang bertemu, karena 1 tahun setelah itu aku dipromosikan jadi asisten manajer, di mana aku tak perlu lagi kesana kemari menawarkan produk ke rekanan. Tampaknya Rina pun menyadari kalau aku mulai menjauh. Meski begitu, aku masih bersahabat baik dengannya. Bila bertemu, kami bersikap seolah tak pernah terjadi apa-apa antara kami berdua.

Namun, ada satu hal yang hingga kini selalu menyiksa batinku. Dosaku sudah teramat besar. Meski aku makin rajin beribadah, baik yang wajib maupun sunnah, rasanya itu tak akan mampu menebus dosa masa laluku. Aku takut Allah menutup pintu tobat untukku. Yang kupikirkan adalah, apakah kegalauanku ini merupakan hukuman dari-Nya?

Ya Tuhan, terimalah tobat hamba-Mu yang hina ini.(mp2)
readmore »»  

Ketagihan "Self Service"

Sonny (nama samaran), 15 tahun, pelajar, Sidoarjo :

Saat ini aku kelas 3 SMA swasta di Sidoarjo. Aku sangat pusing dengan kebiasaanku melakukan onani (masturbasi, red.). Hampir setiap hari aku melakukannya. Memang terasa nikmat, tapi setelah itu aku selalu dihinggapi rasa bersalah. Juga takut.

Dari artikel-artikel yang kubaca, baik di majalah, koran, dan internet aku tahu efek buruk dari onani yang berlebihan. Selain rasa bersalah, katanya bisa menyebabkan ejakulasi dini, mani (sperma, red.) encer, dan impoten. Aku takut jika memikirkan itu, tapi sulit sekali menghilangkan kebiasaan onaniku. Kalau melihat cewek cantik aku langsung terangsang. Apalagi nonton film porno. Kalau nontonnya lagi sendirian di kamar, aku pasti onani. Kalau filmnya panjang, aku bisa onani lagi 2 - 3 kali.

Setahuku, juga dari artikel-artikel yang kubaca, cara untuk menghilangkan kebiasaan onani adalah berolah raga. Katanya habis olah raga badan capek, jadi lupa onani. Tapi nyatanya, secapek apapun, kalau nafsu sudah diubun-ubun, pasti aku onani juga. Pusiiiing!!!

Tolong dong! Apa di blog ini bisa konsultasi?


Dari Tim JBSs :

Sdr Sonny, pada remaja seusia Anda, kebiasaan bermasturbasi/ onani adalah hal yang umum dilakukan. Bahkan aktifitas ini juga banyak dilakukan oleh mereka-mereka, baik laki-laki maupun wanita, yang berusia dewasa, antara 20 – 60 tahun (untuk pria) dan 20 – 45 tahun (untuk kalangan wanita), tetapi frekuensinya tentu tidak “serajin” Anda, tergantung pada munculnya libido (dorongan seks) dalam kondisi normal. Bagaimanapun juga, libido adalah naluri alamiah dari setiap makhluk hidup dan lazimnya disalurkan dalam sebuah hubungan yang sehat antara suami dengan istri. Dalam kondisi tertentu saja, onani dilakukan, biasanya untuk menghindari dosa yang jauh lebih besar, yaitu berzina (hubungan seks ekstra marital/ di luar nikah).

Hanya saja, seperti yang sudah Anda ketahui, jika dilakukan berlebihan ada kemungkinan (khususnya pada para pria), akan mengalami kesulitan untuk mengontrol orgasme yang kita sebut dengan ejakulasi dini. Selain itu, dari segi psikologis, dikhawatirkan akan berpengaruh pada kemampuan ereksi, di mana “penghobi” onani akan bisa ereksi hanya jika berfantasi terlebih dahulu disertai dengan ketrampilan tangannya memainkan alat kelaminnya, bukan dari rangsangan yang ditimbulkan dari pasangannya. Belum lagi adanya perasaan berdosa. Hal ini jelas akan menjadi masalah tersendiri bagi keharmonisan hubungan suami istri. Pada remaja seusia Anda, dampak yang paling buruk adalah berkurangnya konsentrasi belajar.

Memang dapat dipahami, bahwa dengan berkembangnya teknologi, kita jadi sangat mudah mendapatkan gambar-gambar/ video porno dan hal-hal lain yang menjurus pada kemaksiatan, di mana peredarannya bukan saja dari situs-situs internet, tapi juga dari ponsel ke ponsel antar teman sekolah atau tetangga. Namun bukan berarti semua itu tidak bisa diredam.

Ada banyak cara untuk menghentikan kebiasaan buruk ini, di mana intinya adalah mengalihkan hasrat seksual dan menyalurkan energinya pada kegiatan yang positif dan bermanfaat, seperti :
  • Olah raga
  • Menekuni hobi (melukis, memelihara ikan hias, fotografi, dan lain-lain sesuai dengan minat Anda)
  • Kerja bakti (bersih-bersih kamar, mengecat pagar rumah, atau menyapu halaman, misalnya)
  • Memperbanyak ibadah
  • Menambah wawasan keagamaan
  • Aktif berorganisasi, dan lain-lain

Namun yang terpenting dari semua itu adalah niat. Anda harus tanamkan kuat-kuat niat untuk berhenti beronani. Jika Anda muslim, saat libido datang, segeralah berwudhu. Wudhu tidak hanya mensucikan anggota tubuh, tapi juga pikiran. Akan lebih baik jika Anda membiasakan diri berpuasa (Senin - Kamis, misalnya). Selain itu, jauhkan berinteraksi dengan hal-hal yang dapat memancing libido Anda, seperti video/ gambar-gambar porno. Yakinkan kalau itu tak berguna, bahkan merusak mental. Jika melihat wanita cantik/ seksi, jangan lihat mereka dari sisi nafsu dan obyek seksual, tapi pandanglah sebagai wanita terhormat, sebagaimana Anda menghormati Ibu Anda.

Untuk melengkapi jawaban kami, berikut ini link yang mungkin bisa membantu Anda berhenti melakukan "self service" :
- Dari sudut pandang agama
- Dari sudut pandang kesehatan

Semoga bermanfaat.


Catatan Admin :

Saat ini Tim JBSs sedang menjajagi kemungkinan untuk bekerja sama dengan konsultan yang berkompeten di bidangnya (psikologi, kesehatan, religi) guna membantu Anda yang membutuhkan solusi atas masalah yang tengah dihadapi.
readmore »»  

Antara Cinta dan Dosa

Larasati (nama samaran), 39 tahun, somewhere :

Canda kami berdua berlanjut. Entah bagaimana awalnya, Raffael tiba-tiba menjamah tubuhku. Dan, anehnya, seperti terkena pengaruh hipnotis, aku pun diam saja.


Lepas tengah malam, tiba-tiba HP-ku berbunyi, ”Tit... tit... tit ...” Sebuah pesan singkat berbunyi, "Yang, aku kangen banget sama kamu". Gombal, bisik hatiku sambil tersenyum kecut. Bagaimana mungkin Raffael bisa mengirim SMS demikian jika kemarin baru saja kencan denganku? Tetapi SMS itu tidak urung membuatku bahagia. Hatiku seperti tersanjung dan berbunga-bunga. Bayang-bayang wajah ganteng Raffael seolah terus menari di pelupuk angan dan lamunanku. "Gombal, bukankah kemarin kita baru bertemu?" jawabku via SMS juga. "Tidak sayang, aku nggak ngegombal. Suer, aku ingin sekali kamu berada di sisiku setiap waktu," cepat sekali Raffael membalas SMS-ku.

Duh, Gusti..., hatiku serasa meleleh. Kulirik suamiku, Arman, telah tidur pulas di sampingku. Sepintas, kuperhatikan Mas Arman dengan seksama. Tidurnya tampak damai sekali. Mungkin sudah dibuai mimpi-mimpi indah. Mungkin saja. Diam-diam aku telah merasa berdosa dengannya. Dengan Mas Arman. Dia telah berbuat banyak untuk keluarga. Untukku, dan untuk anak-anak kami pula. Mas Arman memang telah berbuat banyak. Sedang aku? Perasaan berdosa itu kembali menyelinap ke benakku yang paling dalam. Terus terang, Mas Arman memang lelaki yang tidak pernah aku cintai. Perkawinanku dengannya semata-mata hanya untuk memuaskan hati orangtua. Orangtuaku melihat Mas Arman lebih mempunyai masa depan, ketimbang Raffael yang "hanya" seorang pelukis itu. Orangtuaku “mengharamkan" kehadiran Raffael di hatiku, dan terus berusaha menyingkirkannya dari hidupku.

"Apa yang bisa kamu harapkan dari seorang pelukis seperti Raffael itu?" Ribuan kali ungkapan demikian meluncur dari bibir orangtuaku. "Jika kamu masih nekad jalan bareng sama dia, lebih baik kami kehilangan kamu!" Ultimatum itu membuatku yang nyaris tidak pernah kesulitan akhirnya keder juga. Ketakutan itu pula yang membuatku luluh. Dengan berat hati, terpaksa aku terima kehadiran Mas Arman sebagai suami "pilihan orangtua". Kami pun mulai membangun rumah tangga, dan aku berusaha mati-matian untuk melupakan Raffael. Tetapi prosesnya tidak semudah membalik telapak tangan. Lama sekali, baru aku bisa melupakan lelaki yang amat aku cintai dengan sepenuh hati itu.

Setelah perkawinanku dengan Mas Arman, Raffael sendiri seperti hilang ditelan bumi. Aku tidak tahu, di mana rimbanya si jantung hatiku itu. Tetapi kemudian aku memperoleh kabar dari beberapa kawanku, yang mengatakan Raffael nekad belajar melukis di luar negeri. Kabarnya, dia pergi ke Belanda setelah beberapa lama berkesenian di Pulau Dewata, Bali. Lama-lama memang aku berhasil melupakan Raffael. Aku pun mulai belajar mencintai keluargaku. Mencintai suami, dan tentu juga anak-anakku. Hidupku sepenuhnya aku persembahkan kepada mereka. Aku telah berjanji dalam hati untuk tidak akan mengecewakan mereka. Orangtuaku aku kira tidak salah memilih Mas Arman sebagai suamiku. Dia tidak saja baik, tetapi juga amat bertanggung jawab pada keluarga. Pekerjaannya pun sangat mapan. Perusahaan papa yang dikendalikan Mas Arman, makin hari makin menunjukkan eksistensinya. Papa dan mama pun puas sekali dengan hasil pekerjaan Mas Arman. Keberhasilan Mas Arman dalam mengelola sebagian usaha orangtuaku, sering kali membuatku ikut-ikutan merasa tersanjung. Perasaan ini mencuat, ketika papa memuji-muji Mas Arman. Bahkan, Mas Arman pun sering kali dijadikan tauladan buat memacu adik-adikku. "Contoh itu Masmu, Arman, kalau bekerja nggak pernah setengah hati". Demikian antara lain celetukan papa atas pujiannya pada suamiku di hadapan adik-adikku.

Ketika aku sudah hampir bisa melupakan Raffael, pertemuan tak terduga tiba-tiba terjadi. Suatu hari, iseng-iseng aku melihat sebuah pameran lukisan di Balai Pemuda, Surabaya. Bukan pameran lukisan tunggal, melainkan pameran lukisan bersama, ada sekitar tujuh orang pelukis yang berpameran. Mereka masih sangat muda-muda. Mungkin, baru dalam proses "membuat" nama sebagai seorang pelukis profesional di jagad seni rupa. Kedatanganku ke pameran itu pun sebenarnya hanyalah iseng. Ketika jalan-jalan di Surabaya, secara tak sengaja aku melihat sebuah pamflet yang ditempel di salah satu sudut kafe tempatku bersantap malam. Pamflet itulah yang memberitahuku adanya pameran lukisan karya tujuh perupa muda. Karena aku sendiri memang suka dengan lukisan, kesempatan itu tidak aku sia-siakan. Habis makan malam langsung saja aku ngeloyor pergi ke tempat pameran. Aku datang ke tempat pameran itu seorang diri. Nah, ketika sedang asyik-asyiknya menikmati sebuah lukisan yang menurutku cukup bagus, tiba-tiba bahuku ditepuk dari belakang. Aku terkejut, dan secara spontan langsung menoleh ke belakang. Tatapan mataku terbelalak. Aku tak percaya, kalau yang berdiri di hadapanku itu adalah Raffael, lelaki yang pernah singgah di hatiku. Raffael masih seperti yang dulu. Ketika aku mengucek mata dengan jari tanganku, tiba-tiba dia pun nyeletuk,"Kamu tidak sedang bermimpi, Yang … ini benar-benar aku, Raffael".

Ah, lelaki itu seperti tahu apa isi hatiku. Memang, pertemuan yang tak terduga-duga itu, aku kira hanyalah mimpi. Hampir-hampir aku tak mempercayainya. Sulit sekali bagiku untuk percaya bahwa pertemuan itu benar-benar terjadi. Bukan mimpi ataupun ilusi. Kami pun melewatkan pertemuan yang tak terduga-duga itu dengan ngobrol di salah satu sudut ruangan tempat pameran. Raffael menanyakan keadaanku sekarang, juga anak-anakku dan keluargaku. "Wah, tampaknya kamu bahagia sekali, ya," celetuk Raffael setelah bertanya-tanya tentang keluargaku. "Syukurlah kalau begitu, aku ikut bahagia," lanjutnya kemudian.

"Kamu sendiri, bagaimana? Berapa anakmu?" aku pun balik bertanya. Raffael tak segera menjawab. Dia hanya tertawa. "Aku masih jomblo hingga sekarang. Siapa yang mau kawin dengan seniman kayak aku begini?" kata Raffael membuat hatiku mendadak berdesir. Tiba-tiba aku pun teringat penghinaan orangtuaku terhadap Raffael. "Pelukis seperti Raffael itu tak punya masa depan," kata-kata papa kembali mengiang di telingaku. Aku pun buru-buru berusaha menetralisir keadaan, dengan melemparkan sebuah pernyataan kepada Raffael, "Ah, kamu ini, sejak dulu selalu saja merendah. Itu karena kamunya saja yang nggak niat". Raffael malah tertawa-tawa mendengar pernyataanku itu. "Kamu ini masih tetap seperti dulu, ya, pinter sekali menghibur orang," sergah Raffael tak mau kalah.

Begitulah, sejak pertemuan itu hubunganku dengan Raffael diam-diam kembali terajut.Yang membuatku amat terkesan, Raffael benar-benar tipe lelaki yang sangat romantis. Benda-benda pemberianku semasa SMA dulu hingga kini masih disimpannya dengan rapi di sebuah tempat khusus. Termasuk surat-surat cinta dan puisi-puisi yang pernah aku tulis khusus untuk dirinya. Yang membuatku paling terkesan, di salah satu sudut kamarnya terpajang sebuah lukisan, yang menurutku bagus sekali. Lukisan seorang wanita telanjang dengan lekuk-lekuk tubuh yang sangat eksotis. Meski aku merasa tidak pernah dilukis telanjang oleh Raffael, namun wajah wanita dalam lukisan itu mirip sekali dengan wajahku. Terus terang, aku sangat terkejut ketika pertama kali melihat lukisan itu. Aku pun sempat bertanya-tanya, kapan Raffael melukis aku telanjang bulat seperti ini?

Rupanya, Raffael menangkap kegelisahanku. Dia pun segera berusaha menjelaskan dan minta maaf padaku. "Maaf, ketika aku melukis ini, yang muncul dalam inspirasiku adalah wajahmu. Jadi, begitulah hasilnya. Tetapi kalau kamu tidak suka, gampang kok, aku bisa membakarnya sekarang juga," ungkap Raffael. "Di bakar? Lukisan sebagus ini akan kamu bakar? Ah, jangan! Aku suka kok," tiba-tiba aku tidak sampai hati melihat Raffael seperti itu. "Tetapi kamu nakal! Penjahat kesenian," kelakarku dalam kunjungan pertama kaliku di kediaman Raffael itu. "Penjahat bagaimana?" Raffael penasaran dengan istilahku. "Kalau ada yang lihat dengan lukisan ini dan kebetulan kenal dengan aku, apa nanti mereka nggak bilang kalau aku telah menjadi model lukisan telanjangmu," jelasku, yang dengan mudah dimengerti Raffael. "Kalau begitu, sekalian saja kamu sekarang telanjang terus aku lukis, biar aku nggak dibilang penjahat kesenian. Ha ... ha ... ha..."

Canda kami berdua berlanjut. Entah bagaimana awalnya, Raffael tiba-tiba menjamah tubuhku. Dan, anehnya, seperti terkena pengaruh hipnotis, aku pun diam saja. Bahkan, sesekali aku pun memberikan pancingan-pancingan yang membuat Raffael menjadi geregetan kepadaku. Diam-diam, sejak pertemuan yang tak terduga-duga itu, aku sering membuat janji kencan dengan Raffael. Sejauh ini, aman-aman saja. Mas Arman yang terlalu sibuk dengan bisnisnya, nyaris tak punya waktu untuk memperhatikan aku. Walau demikian, kadang menyelinap juga kekhawatiranku. Bagaimana kalau Mas Arman sampai tahu perselingkuhanku ini?

(Seperti yang dituturkan Larasati kepada Roy Pujianto)R.26
readmore »»  

Aku Bukan Pembunuh

Marni, Batam :

Di rumah kosong yang memang sangat sepi itu akhirnya kami melakukan perbuatan terlarang yang seharusnya hanya boleh dilakukan oleh pasangan suami-istri.


Namaku Marni. Aku dibesarkan dari sebuah keluarga yang cukup bahagia. Meski gaya hidup keluarga kami sederhana tapi aku dan kedua adikku tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang. Kedua orangtua kami adalah orang-orang yang cukup ulet dalam bekerja dan senantiasa mengajari kami nilai-nilai agama yang kokoh, agar kelak bisa kami jadikan pedoman dalam menjalani kehidupan. Sejak duduk di bangku SD, aku bercita-cita ingin menjadi perawat dan bekerja di rumah sakit. Tidak mengherankan jika sedang bermain dengan teman-teman, aku selalu memerankan diri sebagai seorang perawat. Selain itu jika di sekolah ada perayaan tujuh belasan dan kami diwajibkan berpawai dengan memakai kostum tertentu, aku memilih kostum berwarna putih dengan tutup kepala bertanda palang merah.

Cita-cita itu terus terbawa sampai aku duduk di bangku SLTA. Sayangnya setelah lulus SLTA aku tidak melanjutkan ke sekolah perawat, aku malah ingin bekerja. Pada saat bersamaan, aku mulai dilanda jatuh cinta pada salah seorang tetanggaku. Rumah kami memang berdekatan dan aku tidak pernah mengira akan jatuh cinta kepadanya. Nama pria itu Darman. la kakak kelasku di SLTA. Orangnya pendiam dan berwajah cukup ganteng. Sifat pendiam dan wajah ganteng itulah yang agaknya membuat jantungku selalu berdebar setiap berdekatan dengannya. Tak kusangka Darman pun memendam rasa yang sama dengan diriku. Singkat kata, kami berdua kemudian berpacaran.

Berbeda dengan aku, Darman melanjutkan sekolah ke sebuah akademi di kota lain. Karena itu otomatis kami hanya bertemu sebulan sekali, yakni saat ia pulang mengambil uang bulanannya. Karena aku sedang mencari kerja, dari salah seorang teman aku mendapat informasi bahwa Depnaker di Kota Solo, Jawa Tengah, kota tempat tinggalku, sedang mencari lulusan SLTA untuk dipekerjakan sebagai operator produksi di Pulau Batam. Tanpa sepengetahuan kedua orangtuaku, aku memasukkan lamaran kerja. Sebab aku khawatir jika mereka tahu, pasti tidak akan mengijinkan aku pergi merantau. Ternyata di luar dugaan aku diterima di sebuah perusahaan perakitan barang elektronik, dan akan segera diberangkatkan dalam waktu beberapa minggu lagi. Tentu saja aku sangat bahagia. Namun di tengah kebahagiaan itu tiba-tiba terselip perasaan khawatir kalau kedua orangtuaku dan Darman tidak mengijinkan kepergianku. Apalagi Pulau Batam sangat jauh dari tempat tinggalku.

Sebelumnya aku tidak pernah pergi sejauh itu. Namun, karena tekadku sudah bulat, kuutarakan juga kepada kedua orangtuaku niat pergi bekerja ke Pulau Batam. Dan, seperti yang sudah aku duga, orangtuaku dengan serta-merta menolak dan tidak mengijinkan aku pergi dengan alasan aku masih terlalu muda untuk merantau. Tapi dengan gigih aku terus meyakinkan mereka bahwa kepergianku adalah demi kebaikan keluarga. Kukatakan pada mereka bahwa sebagian gaji yang kukirim nanti bisa dipakai untuk melanjutkan pendidikan adik-adikku ke sekolah yang lebih tinggi. Kedua orangtuaku sangat terharu dan dengan hati yang berat mereka mengijinkan aku pergi. Sama dengan kedua orangtuaku, awalnya Darman keberatan dengan rencana kepergianku. "Kalau hanya untuk mencari kerja kenapa harus jauh-jauh kesana ? Di kota lain kan banyak juga pekerjaan," komentar Darman tentang rencana keberangkatanku. Tetapi Darman pun tak bisa berbuat apa-apa dan terpaksa melepasku setelah kuceritakan panjang-lebar tentang niatku pergi ke Pulau Batam.

Kami menangis berpelukan ketika bis yang membawaku ke Jakarta (sebelum terbang ke Batam) mulai meninggalkan kota kelahiranku. Kedua orangtuaku dan adik-adikku juga tidak kuasa membendung tangis saat aku pamit. Dua tahun aku akan bekerja di Pulau Batam berarti selama itu pula aku tidak akan bertemu orang-orang yang aku cintai. Wajah bapak, ibu dan adik-adikku serta Darman, datang silih berganti meski aku telah menginjakkan kaki di Pulau Batam.

Hari-hari pertama bekerja, aku belum merasa betah dan rasanya ingin kembali ke Pulau Jawa. Terlebih saat aku menerima surat dari orangtuaku dan juga Darman, aku tidak berhenti menangis. Aku sangat merindukan mereka. Keadaan semacam itu berlangsung selama beberapa bulan. Untunglah kesibukan di tempat kerja dan kegiatan di luar cukup banyak sehingga sedikit demi sedikit aku mulai merasa terhibur. Aku mulai terbiasa dengan pola hidup di Pulau Batam. Selain itu, aku juga tetap setia pada Darman meski tidak sedikit teman-teman pria yang menaksirku dan terang-terangan menyatakan cinta kepadaku. Tapi bagiku tempat Darman tidak tergantikan oleh siapa pun, meski kami berjauhan. Terlebih surat-suratnya selalu datang silih berganti, memberi semangat tersendiri bagiku setiap aku merasa jenuh dengan suasana kerja yang monoton.

Tak terasa waktu dua tahun berlalu. Masa kontrak kerjaku telah selesai, itu berarti tiba saatnya aku kembali ke Jawa dan bertemu keluarga serta Darman. Namun saat aku bersiap-siap untuk pulang, aku memperoleh informasi bahwa aku termasuk salah satu karyawati yang dinilai baik prestasi kerjanya dan mendapat kesempatan untuk memperpanjang kontrak kerjaku. Akhimya aku menandatangani perpanjangan kontrak dengan pihak perusahaan. Meski demikian aku masih memperoleh kesempatan untuk pulang ke Jawa selama beberapa hari. Akhirnya hari yang kunanti itu tiba. Aku dan teman-teman satu angkatan pulang dengan kebahagiaan tiada tara.

Perjalanan dari Batam ke Jawa yang cukup melelahkan itu, tidak terasa lagi saat bertemu Darman dan keluargaku. Kupeluk mereka erat-erat. Darman yang kulihat semakin matang berkali-kali mengucapkan kata kangen di telingaku. Aku benar-benar bahagia. Hari-hari selama menunggu saat aku harus kembali ke Batam, kuhabiskan dengan banyak mengunjungi sanak-saudaraku dan tentu saja juga berjalan-jalan dengan Darman. Melihatnya sekarang aku semakin bertambah cinta dan sayang kepadanya. Aku ingin menghabiskan sisa hariku sebelum kembali ke Batam, dengan orang-orang yang kusayangi. Dua hari sebelum kembali ke Batam, terjadilah peristiwa yang seharusnya belum boleh kulakukan dan kelak akan mengubah jalan hidupku.

Saat itu seperti biasa, aku dan Darman jalan-jalan mencari buah tangan yang akan kubawa ke Pulau Batam. Tidak seperti biasanya, kami tidak langsung pulang melainkan singgah di sebuah taman yang di dalamnya terdapat rumah-rumah kosong. Ketika itu gerimis kecil mulai turun sehingga kami memutuskan untuk berteduh di salah satu rumah-rumahan itu. Mulanya kami hanya saling berpegangan tangan sambil ngobrol ke sana ke mari. Tiba-tiba Darman mencium pipiku dan mengatakan bahwa ia sangat mencintai aku. Menurutnya selama aku pergi ia sangat tersiksa karena dilanda kerinduan yang dalam. Aku pun mencium pipinya. Saat kami masih bertatapan, kami berdua terus saja berciuman. Entah setan mana yang merasuki kami, di rumah kosong yang memang sangat sepi itu akhirnya kami melakukan perbuatan terlarang yang seharusnya hanya boleh dilakukan oleh pasangan suami-istri. Aku menangis tersedu-sedu saat menyadari bahwa kami telah berbuat terlalu jauh. Darman yang tampak kebingungan hanya memelukku erat sambil menenangkan diriku. "Tidak akan terjadi apa-apa kalau kita melakukannya cuma sekali," bisiknya sambil tetap memelukku erat.

Kami berdua merasa gundah tapi segera bersikap seolah tidak terjadi apa-apa sewaktu kami sampai di rumah. Padahal rasa nyeri di selangkanganku tak terperi rasanya, namun aku mencoba bersikap wajar. Tiba saatnya aku harus kembali ke Pulau Batam. Kali ini seperti dulu, saat mengantarku, orangtua dan adik-adikku saling bertangisan. Saat itu Darman nampak tak banyak bicara. Ia kembali menenangkan aku seraya membisikkan bahwa tidak akan terjadi apa-apa padaku akibat hubungan terlarang yang telah kami lakukan.

Setibanya di Batam, ingatanku tetap melayang pada kejadian itu. Terkadang aku dibayangi ketakutan jika tiba-tiba aku mengalami kehamilan. Terlebih saat aku baca sebuah buku tentang kehamilan yang dulu pernah aku beli. Menurut buku itu, kehamilan bisa saja terjadi meski hubungan intim yang dilakukan cuma sekali. Ternyata Tuhan memang menghukumku karena perbuatan terlarang yang aku lakukan bersama Darman. Menstruasi yang biasa datang pada pertengahan bulan, tiba-tiba tidak datang. Aku mulai panik. Aku memberanikan diri bertanya pada perawat di klinik tempat aku bekerja perihal menstruasiku yang tidak datang bulan ini. Perawat yang memeriksa hanya mengatakan bahwa mungkin saja aku merasa kecapekan atau merasa tertekan sehingga hormon dalam tubuhku mengalami perubahan dan berakibat pada siklus menstruasiku. Lega rasanya aku mendengar penjelasan itu, namun hal itu tidak berlangsung lama. Sebab pada bulan berikutnya, aku kembali tidak mengalami haid. Kali ini bahkan diiringi dengan rasa mual dan sakit kepala seperti umumnya dialami perempuan yang tengah hamil.

Kepanikanku kian menjadi. Diam-diam aku membeli alat tes kehamilan yang dijual bebas di apotik untuk meyakinkan apakah aku hamil atau tidak. Hasilnya ternyata aku positif hamil ! Ya Tuhan ! Aku menagis histeris. Beberapa teman yang melihat kejadian ini ikut panik dan menganggap aku kesurupan seperti yang sering dialami operator di Batam karena merasa tertekan. Mereka memberiku air putih dan minyak kayu putih sembari memintaku beristighfar. Tetapi aku tetap menangis histeris sampai aku merasa capek sendiri dan tertidur. Setelah aku bangun, aku kembali menangis saat mengingat kenyataan bahwa aku tengah mengandung janin hasil hubunganku dengan Darman beberapa bulan lalu. Kepada teman-teman aku tidak mau terus-terang tentang kehamilanku. Pada mereka aku hanya mengatakan bahwa aku rindu keluargaku. Setelah itu hari-hari yang kulalui adalah hari-hari yang menakutkan seiring kian membesarnya janin dalam perutku.

Lewat surat kuberitahu Darman bahwa aku hamil dan tidak tahu harus berbuat apa dengan kehamilanku itu. Lewat suratnya juga, Darman tidak bisa memberi solusi dan hanya mengatakan ia juga bingung menghadapi persoalan tersebut. Teman-teman baik di asrama maupun di perusahaan tidak ada yang mengira kalau aku hamil, karena selama ini aku memang suka mengenakan pakaian yang extra size. Pernah aku coba menggugurkan kandungan itu dengan cara makan nanas muda dan beberapa ramuan, namun tidak berhasil. Janin itu tetap hidup dalam kandunganku dan terus membesar dari hari ke hari.

Sampai suatu ketika saat sedang bekerja, aku merasakan sakit yang teramat sangat pada perutku. Mungkin ini yang disebut orang kontraksi. Bergegas aku pergi ke toilet untuk melihat apa yang terjadi. Saat aku membuka celana dan bermaksud jongkok, tiba-tiba sesuatu seperti seonggok daging keluar diiringi dengan darah segar yang terus mengalir dari selangkanganku. Ya ampun, aku melahirkan ! Aku melahirkan seorang bayi laki-laki tanpa didampingi ayahnya dan aku berjuang sendirian menahan rasa sakit yang teramat sangat. Aku menagis panik sambil tetap memegang jabang bayi yang berlumuran darah dan terdiam dengan kedua mata tertutup. Ya Tuhan, bayi yang kulahirkan itu ternyata sudah tak bernyawa lagi ! Aku panik dan takut, sekaligus sedih karena bagaimanapun juga ia adalah anakku sendiri. Darah dagingku sendiri, hasil hubungan cintaku dengan Darman, kekasihku. Namun dalam keadaan panik dan pikiran tak menentu itu, sebelum aku keluar dari toilet, masih sempat aku membersihkan darah yang terpercik di mana-mana. Di tengah kepanikan itu kubawa jabang bayi yang masih merah dengan sweater yang kupakai dan memasukkannya ke dalam kardus bekas. Setelah itu kubuang kardus berisi anakku yang sudah tidak bernyawa itu dengan harapan tidak ada orang yang bisa menemukannya. Aku menangis perih dan teringat bahwa aku telah berbuat dosa besar dalam hidupku.

Rupanya Tuhan memang benar-benar ingin menghukumku. Berawal dari penemuan sesosok mayat bayi dalam kardus dan berdasarkan penelusuran perempuan yang diduga melahirkannya, tidak sukar buat petugas kepolisian menjemput aku di asrama. Mereka berhasil menemukan aku dan mencurigai aku karena selang beberapa hari sebelum penemuan mayat bayi itu, aku memang dibawa teman-temanku ke rumah sakit karena pendarahan yang kualami. Waktu itu mereka berpikir aku mengalami menstruasi yang berlebihan dan kondisi tubuhku yang terus melemah. Dari keterangan dokter, polisi menyimpulkan bahwa kesakitan yang kualami bukan karena menstruasi melainkan karena aku baru saja melahirkan. Aku tidak bisa mengelak karena bukti-bukti medis dan bukti-bukti lain yang memberatkan aku. Aku digelandang ke kantor polisi dengan kondisi yang belum cukup kuat dan sekaligus menguak aib yang selama ini kupendam. Beberapa temanku menangis dan tidak percaya pada kenyataan yang dilihat. Aku sangat tertekan, seolah tidak bisa menghentikan air mataku ketika mereka memasukkan aku ke dalam sel bercampur-baur dengan orang-orang lain yang disangka melakukan tindak pidana kriminal.

Setelah melalui proses yang cukup panjang, akhirnya pengadilan memutuskan aku bersalah dan memvonis aku dengan hukuman tujuh bulan penjara. Beberapa hal dianggap meringankan seperti misalnya aku belum pernah melakukan perbuatan kriminal, usiaku yang masih muda, kooperatif dalam persidangan dan hasil visum menyatakan bahwa bayiku meninggal karena benturan dan diduga jatuh saat aku melahirkan. Meski hanya tujuh bulan dalam penjara, bagiku masa itu adalah masa-masa menakutkan yang harus aku lalui. Tapi aku menerima keputusan itu dan merasa inilah hukuman dari Tuhan yang ditimpakan kepadaku di dunia karena perbuatanku sendiri.

Kini aku telah bebas dan peristiwa yang sudah terjadi beberapa tahun lalu itu telah kukubur dalam-dalam. Aku tidak ingin mengingat-ingat peristiwa menakutkan itu meski terkadang bayangan kelam itu berkelebat dalam pikiranku. Terlebih masih banyak orang yang tetap memandang aku sebagai perempuan hina karena perbuatanku di masa lampau. Namun aku tetap berjanji dalam hati kecilku bahwa aku akan kembali ke jalan yang benar. Aku percaya Tuhan akan mengampuni dosa umat-Nya jika mereka sungguh-sungguh bertobat dan tidak akan melakukannya lagi di kemudian hari. Ya Tuhan ampunilah dosa-dosaku.

(Seperti dituturkan Marni kepada Roy Pujianto/Majalah Fakta 568)R.26
readmore »»  

Amburadulnya Negeriku

Darmawan, wiraswastawan, 49 tahun, Surabaya :

Miris rasanya melihat keadaan negeri ini. Makin kacau dan “panas”. Hampir setiap sendi kehidupan tak lagi menyejukkan. Politik, ekonomi, sosial, keamanan dan ketertiban, semuanya amburadul.


Bidang politik :
Hampir setiap even pemilihan kepala daerah selalu diwarnai bentrok yang berujung kekerasan. Jual beli suara seolah sudah menjadi hal wajar.

Bidang ekonomi :
- Korupsi merajalela dari tingkat yang paling bawah sampai pejabat pemerintah.
- Yang kaya makin makmur, yang miskin makin tersungkur.

Bidang sosial :
- Tawuran antar murid sekolah, antar mahasiswa, antar warga kampung/ desa.
- Perselingkuhan menjadi-jadi.
- Banjir

Bidang keamanan & ketertiban :
- Kriminalitas makin bervariasi modusnya.
- Pemboman membuat hati tak tenang.

Yang membuat makin muak adalah perilaku hedonis para wakil rakyat yang marak dibicarakan media belakangan ini. Entah apa yang mereka lakukan di dalam sana. Membahas RUU atau kehebatan mobil masing-masing?

Ibarat menegakkan benang basah, ini adalah tugas berat calon pemimpin 2014 nanti. (mp2)
readmore »»  

Aku Masih Cinta

Sasongko (nama samaran), 39 tahun, Gresik :

Betty adalah cinta pertamaku. Meskipun kedua orang tuaku kurang merestui hubungan kami berdua, tapi aku tak menyurutkan langkahku untuk menjadikannya cinta terakhirku. Begitupun ketika kami menikah dan tak kunjung dikaruniai anak, aku tetap mencintainya.


Hanya saja, sejak menikah sikapnya menjadi sangat posesif. Begitu pula dalam hal keuangan, ia sangat perhitungan, bahkan cenderung pelit. Padahal gajiku lumayan besar. Dalam hal keuangan ini kami memang berbeda prinsip. Aku lebih suka menikmati uang hasil jerih payahku dengan membelanjakan barang-barang yang sejak kuliah kuimpikan. Seperti perangkat komputer, misalnya. Juga barang-barang elektronika lainnya, aku ingin selalu memiliki keluaran terbaru. Sedangkan Betty, lebih suka hidup sederhana dan menabung sisa gajiku untuk membeli rumah. Lebih parah lagi, untuk kebutuhan dirinya sendiri, seperti alat-alat make up saja ia sangat berhemat, padahal aku ingin sesekali melihat ia berpenampilan beda saat aku pulang kerja. Karena selalu di rumah (aku memang memintanya untuk tidak bekerja), maka tak butuh make up, begitu selalu kilahnya.

Yang membuatku lama-lama jadi risih adalah kebiasaannya membongkar dompetku sepulang aku kerja. Kalau uangku berkurang, selalu ditanya untuk apa. Bahkan berkurang seribu rupiah pun ditanyakan. Saat kutegur agar ia tak perlu curiga, ia marah. Meski hal ini sering terjadi, tapi aku selalu berusaha sabar.

Sayangnya, kesabaranku tak cukup banyak mendekam di hatiku. Aku benar-benar marah ketika aku ayahku sakit dan butuh biaya banyak, Betty melarangku membantunya. Kupikir, ia sudah betul-betul keterlaluan.

Dalam keadaan galau, sekitar tahun 2002 aku berkenalan dengan Melati (sebut saja begitu). Ia adalah seorang mahasiswi perguruan tinggi negeri di Surabaya yang sedang magang di perusahaan tempat aku bekerja. Awal mulanya, Melati dan 2 rekannya yang juga magang, ikut numpang mobilku karena kebetulan tempat tinggal mereka searah dengan rumahku. Melati adalah penumpang terakhir yang turun, karena tempat tinggal 2 rekannya yang lain sudah turun lebih dulu.

Sejak saat itu aku bagaikan menemukan oase di padang pasir. Meski masih terbilang muda, sikapnya sangat dewasa dan terbuka. Aku jadi tak ragu untuk berbuka-bukaan dengannya. Termasuk hubunganku dengan Betty. Biasanya aku mencurahkan uneg-unegku padanya dalam perjalanan pulang, saat kedua rekannya sudah turun. Dari kebiasaan itu kemudian aku memberanikan diri mengajaknya makan malam usai pulang kerja.

Tanpa kusadari, benih-benih cinta mulai tumbuh di hatiku. Saat kuutarakan hal itu pada Melati, ia ternyata juga punya perasaan yang sama denganku. Hanya saja ia tak mau memupuknya karena tahu aku sudah beristri. Bahkan Melati mengingatkanku untuk melupakannya karena antara aku dan dia ada dinding penghalang. Mulanya aku mencoba untuk menuruti nasehatnya, tapi semakin aku berusaha, semakin sulit aku melupakannya. Tampaknya Melati pun demikian. Batinnya terbelah antara mengubur dalam-dalam cintanya padaku dengan hasratnya yang menggelora untuk selalu bersamaku.

Kami sempat tak bertemu dan saling kontak selama 2 minggu setelah masa magang Melati berakhir, karena kami telah sepakat untuk mengakhiri hubungan gelap itu. Sayangnya aku tak mampu meredam kerinduanku padanya lebih lama lagi. Saat ada kesempatan, kuberanikan diriku menghubunginya. Ternyata Melati menanggapi dengan sangat antusias. Bahkan ia yang berinisiatif untuk mengatur pertemuan di restoran di Surabaya Timur.

Dan, tanpa pernah kurencanakan dan kubayangkan sebelumnya, pertemuan itu berujung di tempat tidur sebuah hotel dengan peluh membasahi tubuh kami berdua. Melati menangis saat itu. Ia takut aku mencampakkannya kejadian itu. Aku peluk dia dan kuyakinkan padanya kalau aku sangat mencintainya.

Hari-hari berikutnya kami makin tenggelam dalam manisnya cinta terlarang. Kebetulan saat itu aku terdaftar sebagai mahasiswa S2 dengan jam kuliah malam, hingga aku punya segudang alasan pada Betty untuk mencuri kesempatan menghabiskan malam bersama Melati. Jujur kuakui, dalam bercinta Melati lebih dahsyat daripada Betty dan itu membuatku makin tergila-gila padanya.

Hingga suatu hari, saat aku bekerja Melati meneleponku. Ia mengabarkan kalau ia hamil! Bagai mendengar petir di siang bolong aku mendengar itu. Antara panik dan senang. Panik karena ini berarti mau tak mau aku harus membubarkan rumah tanggaku dengan Betty, sementara senang karena aku akan punya anak. Sepulang kerja kujemput Melati di rumahnya dan kami check in di hotel langganan kami. Di sana Melati membuat pernyataan yang mengejutkan. Ia bersedia jadi istri keduaku andai Betty tak mau kucerai. Aku memang tak berniat menceraikan Betty, karena bagaimanapun juga aku masih mencintainya. Aku lega melihat kedewasaan sikap Melati, hanya saja apakah Betty akan bisa menerima kenyataan ini? Aku belum siap mengatakannya ini padanya. Aku butuh waktu untuk berpikir, apakah berterus-terang pada Betty, atau menikahi Melati diam-diam tanpa sepengetahuan Betty.

Namun ternyata aku tak punya banyak waktu untuk berpikir. Sepulang dari hotel Betty mencecarku dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatku tersudut. Akhirnya malam itu juga kuceritakan hubunganku dengan Melati, tapi tak kukatakan kalau ia hamil. Betty sangat murka mendengar itu dan nyaris mati bunuh diri. Aku bingung, tak tahu apa yang harus kulakukan. Akhirnya kuhubungi kakak Betty sebut saja mbak Yetty, untuk mengurusnya dan aku pergi kerja. Aku sengaja menghindar dulu karena tak mau terjadi konfrontasi yang membuatku makin bingung. Lagi pula aku malu pada mbak Yetty yang selama ini sangat menjaga kami berdua.

Keadaan makin buruk ketika kedua orang tua Betty datang dari kampung dan tinggal di rumah kami. Aku berusaha untuk bersikap wajar, tapi nyatanya tidak semudah itu. Aku merasa, di mata mereka aku adalah laki-laki jahanam yang telah menghancurkan anak mereka. Aku sangat malu. Itulah sebabnya aku memilih menghindar dari mereka dan dengan menggunakan taksi aku pergi ke hotel. Ditemani Melati tentunya.

Nasi sudah jadi bubur. Aku tak mungkin mundur lagi. Kebobrokanku sudah terbongkar. Melalui telepon kukatakan sekalian kalau Melati sedang hamil dan aku berniat menikahinya. Aku juga minta Betty untuk tetap jadi istriku. Seperti yang kuperhitungkan sebelumnya, Betty menolak mentah-mentah tawaranku. Ia minta diceraikan. Setelah itu, setiap aku menelepon tak pernah dijawabnya.

Dua minggu pasca kejadian, seseorang meneleponku. Ternyata dari pengacara Betty. Dialah yang akan mewakili Betty dalam proses perceraian kami, karena Betty sudah pulang ke kampungnya. Di lain pihak, perusahaan memberhentikanku karena telah mengetahui kasus ini dari laporan Betty.

Kini, aku tinggal di Gresik untuk memulai hidup baru dengan Melati. Aku membuka usaha dengan menyewa ruko tak jauh dari rumah kontrakanku. Dua orang anak yang lucu setia menantiku tiap aku pulang kerja. Persis seperti yang kubayangkan saat aku hendak menikah dengan Betty dulu. Hanya saja, mereka adalah anak-anakku dari Melati.

Jauh di lubuk hatiku, aku masih mencintai Betty. Aku masih berharap suatu ketika nanti bertemu dengannya untuk meminta maaf atas semua yang kulakukan. Semoga ia menemukan penggantiku yang lebih baik dariku.

Ternyata benar kata orang, cinta pertama tak pernah mati. (mp2)

Curhat terkait : Suamiku Terpikat Gadis Belia
readmore »»  

Suamiku Terpikat Gadis Belia

Betty (nama samaran), 40 tahun, Surabaya :

Setelah melalui masa pacaran selama 5 tahun, pada 1997 aku menikah dengan Sasongko (sebut saja begitu). Kami berkenalan sejak awal menjadi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di Palembang. Meski usianya lebih muda 1 tahun dariku, aku sangat mencintainya, karena selain romantis, ia juga seorang yang ulet dan tekun belajar. Bahkan saat masih berstatus mahasiswa dia sudah bisa membiayai kuliahnya dengan hasil keringatnya sendiri, meskipun orang tuanya termasuk keluarga berada.


Tahun-tahun pertama berkeluarga, aku dan Sasongko menyewa kamar kos di Jakarta, karena kami sama-sama bekerja di kota metropolitan itu usai meraih titel sarjana. Karena biaya hidup di Jakarta tergolong tinggi, Sasongko terus berupaya mencari pekerjaan lain yang lebih baik agar bisa bertahan dan berkembang.

Di luar perhitungan kami berdua, ternyata Sasongko mendapatkan pekerjaan baru di Surabaya dengan gaji lumayan besar. Setelah mempertimbangkan dengan matang, akhirnya kami memutuskan untuk hijrah ke Surabaya, tepatnya 3 tahun setelah kami menikah. Kebetulan di Surabaya ada kakak kandungku yang sudah lebih dahulu tinggal di sana karena mendapatkan suami orang Surabaya. Di kota yang baru pertama kalinya kami menginjakkan kaki itu kami mengontrak rumah di sebuah komplek perumahan dekat perbatasan antara Surabaya dan Sidoarjo, karena lokasinya tenang.

Karena gajinya cukup besar, Sasongko memintaku untuk tidak usah bekerja lagi, tapi berkonsentrasi mengurus rumah dan mempersiapkan diri untuk kehadiran buah cinta kami. Namun sayang, tahun demi tahun berlalu, aku tak kunjung hamil. Aku sudah berupaya memeriksakan diri ke dokter spesialis manapun yang terkemuka di Surabaya, tapi semuanya tak membuahkan hasil. Meski demikian, kami tak berputus asa. Dengan penuh kesabaran suamiku memberikan pengertian kepadaku, kalau suatu saat kelak kami akan dikaruniai seorang anak.

Tahun 2002, prahara melanda rumah tanggaku. Berawal dari ketidak sengajaanku mendapati tagihan kartu kredit yang melonjak tajam, padahal aku tak pernah berlebihan dalam menggunakannya. Justru kartu kredit itu lebih sering dibawa Sasongko. Setelah aku konfirmasi ke bank bersangkutan, ternyata ada pembayaran untuk hotel berbintang di Surabaya, dan itu tidak cuma sekali. Saat kutanyakan ke Sasongko, ia sempat berkilah kalau kartu kreditnya pernah hilang, tapi ketemu lagi.

Beberapa hari aku tak bisa tidur memikirkan hal itu. Antara percaya dan tidak pada penjelasan Sasongko. Aku mulai menganalisa sikapnya akhir-akhir ini. Belakangan memang ia sering pulang larut dengan alasan ada masalah dengan sistem produksi di perusahaan yang harus ia tangani. Bahkan pernah ia tidak pulang, karena, menurut penjelasannya, ia harus stand by jika terjadi masalah lagi agar proses produksi tidak terganggu.

Perubahan yang paling menyolok adalah saat di tempat tidur. Ia selalu beralasan capek, padahal kami sudah berkomitmen untuk terus berjuang ‘membuat anak’. Hal ini terjadi berkali-kali dan aku mulai merasa ia sudah tidak lagi berambisi punya anak. Pertanyaannya, kenapa?

Suatu sore, saat rasa curigaku makin menguat, kuberanikan diri menelepon ke kantor Sasongko, tepat jam kerjanya usai. Betapa kagetnya aku ketika mendapat informasi kalau Sasongko ijin pulang lebih awal, sekitar jam 3 sore, dengan alasan akan mengantar aku ke dokter. Jantung berdetak makin kencang manakala hingga jam 8 malam ia tak kunjung pulang. Kuhubungi ponselnya, tapi tak dijawab.

Menjelang jam 12 malam kudengar suara mobilnya masuk ke garasi. Bergegas kuhampiri dia dan kucecar dengan pertanyaan-pertanyaan membabi buta. Mulanya Sasongko berkelit dengan berbagai alasan, tapi akhirnya ia mengakui satu hal yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Ia telah berselingkuh dengan mahasiswi yang magang di tempat kerjanya dan hubungan itu sudah berjalan hampir 5 bulan lamanya.

Oh, Tuhan! Aku nyaris jatuh terduduk mendengar pengakuannya. Sasongko merengkuh tubuhku yang limbung dan memapahku ke kamar, tapi secara refleks kutepis tangannya. Tiba-tiba saja aku merasa jijik padanya. Aku berusaha sendiri berjalan ke kamar dengan tertatih-tatih dan kuhempas kuat-kuat pintu kamar. Tak ada yang bisa aku lakukan selain menangis meratapi nasib. Dunia serasa kiamat. Aku tak menyangka Sasongko tega mengkhianati aku yang telah setia melayaninya selama 5 tahun berumah tangga.

Paginya, dalam keadaan lemah karena tak tidur semalaman, aku berjalan menuju dapur. Kudengar debur air di kamar mandi. Sasongko tengah mandi. Entah tidur di mana dia tadi malam, tapi aku tak peduli. Antara sadar dan tidak, kuraih obat nyamuk cair yang teronggok di lantai dapur. Tanpa pikir panjang kutenggak beberapa teguk obat nyamuk cair itu. Aku merasa lebih baik mati daripada menghadapi kenyataan menyakitkan seperti ini. Karuan saja aku langsung muntah-muntah. Cairan yang kutelan keluar semua dari perutku. Sasongko yang baru selesai mandi tampak kaget melihatku, dan buru-buru membopongku ke tempat tidur. Setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi.

Ketika terbangun, kakakku dan suaminya duduk di tepi tempat tidurku. Tapi aku tak melihat Sasongko. Ternyata dia masuk kerja. Gila! Sasongko benar-benar sudah gila! Istrinya hampir mati bunuh diri dan ia tetap pergi bekerja. Apa sebenarnya yang terjadi padanya? Kenapa sikapnya bisa berubah 180 derajat, dari yang semula lemah lembut dan penuh perhatian, tiba-tiba tak peduli lagi padaku? Apakah perempuan jahanam itu penyebabnya? Yang lebih menyakitkan, saat kedua orang tuaku datang dari kampung (di Sumatra Barat) sama sekali tak dihiraukannya. Ia sudah tak punya rasa hormat sedikitpun kepada mertuanya, padahal sebelumnya ia adalah menantu kesayangan orang tuaku!

Hari demi hari berlalu dan aku mendapat kabar kalau mahasiswi yang telah mencuri hatinya ternyata telah hamil! Aku menuntut cerai tapi semula Sasongko tak mau. Ia minta aku tetap jadi istrinya dan ia juga akan menikahi gadis itu. Tentu saja aku menolak dimadu. Kami bercerai dan aku selama beberapa bulan kembali ke rumah orang tuaku.

Setelah pikiranku tenang, aku mulai menata diri dan mencari pekerjaan. Syukurlah tak butuh waktu lama aku menunggu, karena aku diterima bekerja di Batam. Dua tahun bekerja di sana, aku ditugaskan di kantor cabang perusahaan di Denpasar, Bali. Namun hanya sebentar, karena kemudian aku dipercaya untuk menangani kantor cabang di Surabaya. Saat diberi tahu tentang hal itu, aku sempat ragu. Betapa tidak. Kupikir aku tak akan menginjakkan kakiku untuk kedua kalinya di kota terbesar kedua di Indonesia, karena trauma itu masih melekat kuat di benakku. Setelah berkonsultasi dengan saudara-saudaraku, termasuk kakakku yang di Surabaya, akhirnya kumantapkan tekadku untuk menerma tugas itu.

Pada 2007 aku berkenalan dengan seorang lelaki asli Surabaya dan setelah berpacaran 3 bulan, kami pun menikah. Karena sulit memperoleh anak, aku kembali berkonsultasi dengan sejumlah dokter spesialis kandungan, hingga akhirnya pada awal 2011 lalu aku hamil. Sayangnya, saat usia 3 bulan kehamilanku, aku mengalami keguguran.

Meski demikian aku tidak berputus asa. Meski usia sudah tak lagi muda, aku masih berharap dan berusaha untuk mendapatkan momongan, karena ternyata ucapan Sasongko saat kami bersitegang tentang perselingkuhannya dulu yang menyatakan kalau aku mandul tidak terbukti.

Semoga di sisa usiaku ini Tuhan memberikan kepercayaan kepadaku untuk mengasuh dan membesarkan anak. Aku percaya, Tuhan akan mengabulkan doa-doa yang kupanjatkan setiap usai sholat.(mp2)
readmore »»  

Istriku Seorang Lesbian

Robby, Surabaya :

Sepulang dari kantor, aku mendapati Ratna dan Erna tidur berduaan dalam posisi berpelukan mesra tanpa busana di kamarku !


Usiaku baru lima tahun ketika mama meninggalkan aku untuk selama-larnanya. Mama meninggal dunia di saat melahirkan adikku, Ratna. Aku sendiri kala itu belum begitu mengerti arti kematian. Yang kuingat, ketika banyak orang menangisi jasad beku mama, aku pun ikut-ikutan menangis. Aku tidak tahu, mengapa tiba-tiba mataku pedas dan ingin sekali menangis seperti orang-orang itu.

Beberapa bulan setelah kematian mama, papa memboyong kami ke Jakarta. Di kota metropolitan itu papa menikah lagi. Selanjutnva, aku diasuh dan dibesarkan oleh ibu tiri kami, Tante Wanda. Semula sikap Tante Wanda kepadaku dan adikku baik-baik saja. Ia bahkan amat mencintai dan menyayangi kami berdua. Tetapi, sikap baik Tante Wanda itu ternyata tidak bertahan lama. Setelah Tante Wanda dikaruniai momongan, sikapnya kepada kami berdua berubah seratus delapan puluh derajat. Tante Wanda tidak lagi sayang kepada kami. Perhatiannya lebih banyak tercurah untuk anak kandungnya sendiri. Bahkan, kekejaman-kekejaman Tante Wanda mulai kami rasakan dari hari ke hari. Tetapi, aku dan Ratna mencoba untuk bertahan. Sebenamya, aku dan Ratna ingin sekali mengadukan kekejaman Tante Wanda kepada papa. Tetapi setiap kali hal itu hendak kami lakukan, saat itu juga tiba-tiba aku dan Ratna seperti tidak memiliki keberanian. Takut dan khawatir kalau-kalau pengaduan kami justru memancing kemarahan papa.

Rupanya papa bisa merasakan gelagat tidak baik atas hubungan kami dengan Tante Wanda. Hingga suatu malam, aku yang kala itu sudah berumur sepuluh tahun dipanggil papa. Dalam pembicaraan malam itu, papa menginginkan aku dan Ratna tinggal bersama bude (kakak perempuan papa) di Surabaya. "Papa tidak memaksa jika kalian tidak ingin tinggal bersama bude ya nggak apa-apa," ujar papa kepadaku dan Ratna. Aku langsung saja setuju dengan rencana papa itu. Begitu pula dengan Ratna. Kami senang sekali. Saking senangnya, aku dan Ratna seperti tak sabar menunggu hari keberangkatan kami. Yang terbayang olehku, tentu bude akan sangat senang menyambut kehadiran kami. Apalagi bude di Surabaya tinggal sendirian sejak pakde meninggal dunia. Begitulah, hingga hari yang kami nanti-nantikan itu pun tiba. Papa mengantarkan kami ke Surabaya. Sejak itu aku dan Ratna tinggal bersama bude. Kami memanggil bude dengan sebutan mami. Dan, seperti yang aku duga sebelumnya, kehadiran kami berdua benar-benar sangat membahagiakan mami. Mami tidak lagi merasa sepi dan sendiri.

Dalam asuhan mami, aku dan Ratna terus tumbuh dan berkembang. Kasih sayang kami kepada wanita itu melebihi segala-galanya. Mami sudah kami anggap sebagai orangtua kandung kami sendiri. Ia bukan saja pengganti sosok ibu kandung kami yang telah meninggal dunia, tetapi sekaligus juga berperan sebagai ayah. Dan, semua itu dilakukan mami dengan tulus ikhlas. Sekedar untuk diketahui, mami hidup dari hasil pensiunan almarhum suaminya. Sedang untuk mencukupi segala kebutuhanku dan adikku, papa mengirimi kami setiap bulan. Jumlahnya cukup banyak, bahkan melebihi kebutuhan kami bertiga. Tetapi untuk masalah keuangan, mami lebih mempercayai adikku.

Di mata kami, mami suka sekali berperilaku aneh. la gemar sekali menyalakan lilin dan berlama-lama menatapnya. Sambil memandang nyala api lilin, sesekali ia membakar batang korek api. Piring seng yang digunakan sebagai alas lilin-lilin itu sampai-sampai penuh dengan lelehan lilin dan batang korek api yang sudah berubah menjadi arang. Suatu hari ketika aku sudah duduk di bangku SMA, mami memanggilku. Katanya, aku mirip sekali dengan almarhum opa (ayah mami dan papa). Entah dengan maksud apa, waktu itu ia menasehatiku agar kelak memilih istri yang tepat. Walau hal tersebut belum terpikir olehku, namun untuk menyenangkan hati mami maka aku iyakan saja. Belakangan kesehatan mami sering terganggu. Bahkan, sering keluar-masuk rumah sakit. Komplikasi penyakit yang dideritanya dari waktu ke waktu makin serius saja. Sejak itulah papa sering menjenguk mami di Surabaya. Maklum, papa adalah satu-satunya saudara mami yang masih ada.

Waktu terus beranjak. Aku sudah bukan lagi anak SMA. Aku sudah menjadi seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di Surabaya. Tetapi untuk kesekian kalinya aku harus kehilangan orang yang amat aku cintai. Mami meninggal dunia di saat aku baru duduk di semester satu. Begitu juga adikku, dia sangat sedih dan terpukul dengan kematian Mami Dilla. Dan, sebagai kakaknya, tentu aku harus menghiburnya agar kesedihan adikku tidak berlarut-larut. Setelah kematian mami, siapa sebenamya diriku terungkap. Temyata aku bukanlah anak kandung papa dan wanita yang selama ini aku panggil mama. Aku hanyalah anak pungut dari sebuah panti asuhan. Papa dan mama mengambilku dari sebuah panti asuhan, setelah lama menikah dan tak kunjung dikaruniai momongan. Jadi, aku tidak lebih sebagai pancingan hingga kelahiran Ratna di dunia ini. Pertama kali mengetahui kenyataan ini, hatiku serasa hancur berkeping. Aku hampir saja putus asa menapaki hidup ini. Aku merasa malu dengan diriku sendiri, setiap kali ingat kelakuan orangtua kandungku yang telah membuangku di sebuah panti asuhan itu. Aku benar-benar sudah tak berarti lagi bagi mereka. Aku tak ubahnya sampah ! Kelahiranku tak pemah dikehendaki oleh mereka.

Melihat keadaanku, Ratna sangat perhatian. la berusaha membangkitkan gairah hidupku. la membesarkan hati dan semangatku. Perhatian Ratna kepadaku sangat besar dan menyentuh. Puncaknya, ia pun berhasil menggagalkanku yang mencoba bunuh diri dengan menelan obat-obatan yang melebihi dosis. Keberhasilan Ratna mengentaskan aku dari lembah keterpurukan itu membuat hatiku lama-lama tertambat pada Ratna. Diam-diam aku jatuh hati pada wanita yang selama ini aku kira sebagai adik kandungku sendiri. Di luar dugaan, Ratna pun mempunyai perasaan yang sama denganku. Cintaku kepada Ratna ternyata tidak bertepuk sebelah tangan. Sejak itu aku menjalani hidup bersama Ratna layaknya pasangan suami-istri, hingga Ratna pun hamil. Tentu saja kehamilan Ratna cukup merisaukan hatiku. Mengingat Ratna masih sekolah di SMA, semula aku ingin Ratna melakukan aborsi. Tetapi keinginan tersebut ditolak mentah-mentah oleh Ratna. Alasannya, ia tak sampai hati kalau harus "menjagal" darah dagingnya sendiri.

"Aku takut dosa," aku Ratna sambil memohon agar aku mengurungkan rencana aborsi itu. Ratna pun akhirnya harus keluar dari sekolahnya, ketika kandungannya tak mungkin lagi disembunyikan. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tiba-tiba kami mendapat kabar kalau papa mendapat kecelakaan dan meninggal dunia. Ratna benar-benar terpukul dan merasa sangat sedih atas kematian papa. Aku pun akhirnya menikah dengan Ratna. Kehidupan rumah tangga kami berjalan biasa-biasa saja.

Tiga orang anak hadir dan menyemarakkan kehidupan rumah tangga kami. Ketiga anak kami, yang pertama dan kedua adalah perempuan, sedang yang terakhir adalah laki-laki. Tetapi kebahagiaanku tak bertahan lama. Suatu ketika, aku mendapat laporan dari pembantuku, Bik Sulami, kalau istriku sering terlihat mesra dengan kawan senamnya, sesama perempuan. Namanya, Erna. Karena pengaduannya itu, Bik Sulami sempat aku marahi. Namun, Bik Sulami tetap bersikukuh dengan pendirian dan keyakinannya. Benarkah Ratna seorang lesbian ? Membayangkan itu, tiba-tiba aku merasa jijik sendiri. Entahlah, mendadak pula aku menggigil ketakutan. Aku berharap, hal itu hanyalah fitnah belaka. Walau begitu, aku harus menanyakan kebenaran kabar buruk itu secara langsung kepada Ratna. Tapi Ratna tak pemah mengakui. Katanya, dia akrab dengan Erna itu cuma sebatas keakraban berteman, tidak lebih dari itu. Aku bisa mempercayai kata-katanya itu.

Namun, lama-lama timbul kecurigaan di hatiku. Kecurigaanku menggeliat setiap kali Erna datang ke rumah dan langsung masuk ke kamar pribadiku. Kedatangannya seolah hendak menjemput istriku, dan selanjutnya diajak pergi entah ke mana. Berangkat dari rasa curiga itu pula suatu hari aku menguntit kepergiannya. Hatiku sedikit lega ketika aku mendapati mereka berada di tempat senam. Tetapi kecurigaanku timbul kembali ketika dari tempat senam Ratna dan Erna pergi bersama ke rumah Erna yang berada di sebuah kawasan elite di Surabaya. Tak kuasa menahan rasa penasaranku, aku pun secara diam-diam mengikuti mereka. Dengan hati berdebar-debar aku pencet bel di rumah Erna, dan seorang pembantu membukakan pintu untukku. Untuk kedua kalinya, ulah lesbi Ratna dan Erna tak terbukti. Kedatanganku hanya bisa menyaksikan mereka sedang nonton televisi. Dan, saat itu juga aku ajak Ratna untuk pulang. Sepanjang perjalanan pulang kami hanya saling bungkam.

Tapi, isu tentang hubungan sejenis antara Ratna dan Erna makin santer. Hasratku tergelitik untuk mencoba lagi menyelidikinya. Dan, untuk kesekian kalinya secara diam-diam aku menguntit kepergian Ratna dan Ema. Kepergian mereka kali ini naik mobil Erna dan langsung menuju sebuah hotel. Di depan pintu kamar hotel yang mereka sewa, hatiku cemas. Rasanya maju-mundur untuk mengetuk pintunya. Tetapi dorongan hatiku lebih kuat dari segala-galanya. Maka, ketika aku merasa waktunya sudah tepat, kuketuk pintu itu. Pintu pun terbuka, dan apa yang menjadi dugaanku lagi-lagi tak terbukti adanya. Aku lihat Ratna maupun Erna masih berpakaian lengkap dan tak aku dapati tanda-tanda yang mengarah pada hal-hal yang patut dicurigai. Kali ini kedatanganku justru menyulut kemarahan Ratna. Habis-habisan aku dimakinya di hadapan Erna. Walau begitu aku tak peduli dan langsung mengajak Ratna pulang. Tetapi Ratna tak mau dan memilih akan pulang sendiri. Aku pun mengalah dan ketika Ratna sampai di rumah waktu sudah larut malam.

Esok paginya aku tak mendapati Ratna berada di rumah. Aku sempat berpikir, mungkin Ratna minggat. Anak-anak pun bertanya kepadaku, mengapa tiba-tiba mamanya pergi tanpa pamit ? Aku hanya bisa berbohong. Aku katakan kepada anak-anak kalau mama mereka sebentar lagi akan pulang. Sejak anak-anak sering menanyakan mamanya, aku berusaha mati-matian untuk menemukan Ratna. Hampir di setiap tempat yang mungkin disinggahi Ratna aku sisir dan selidiki. Setelah hampir seminggu menghilang, tiba-tiba Ratna muncul. Kepadanya aku mengaku bersalah. Nyatanya, sejak saat itu rumah tangga kami berangsur-angsur pulih seperti sedia kala. Tentu saja hal tersebut merupakan kebahagiaanku dan anak-anak.

Namun di saat pikiran burukku akan ulah Ratna dan Erna luntur, mendadak suatu hari peristiwa itu nyata terjadi di depan mata kepadaku sendiri. Sepulang dari kantor, aku mendapati Ratna dan Erna tidur berduaan dalam posisi berpelukan mesra tanpa busana di kamarku. Aku berharap Ratna akan minta maaf kepadaku setelah tertangkap basah. Tapi, harapanku tak pernah menjadi kenyataan. Sebaliknya, Ratna malah menantangku untuk menceraikannya. Namun aku tak ingin menuruti emosiku. Aku mencoba untuk bertahan dan bersabar. Aku berharap, Ratna masih bisa disembuhkan dari kelainan seksnya itu. Demi anak-anakku, aku akan terus berusaha. Apa pun akan aku lakukan demi mereka. Tetapi Ratna tetap pada pendiriannya. la hanya ingin cerai dari aku, dan hidup bersama anak-anak kami. Aku tak mungkin mengabulkan keinginan Ratna. ltulah sebabnya, aku tetap menggantungnya.

Sebenarnya aku kasihan melihatnya. Sebab Ratna tak mungkin lagi menikah dengan statusnya yang mengambang seperti itu. Tetapi aku juga tak ingin berpisah dengan anak-anakku. Akibatnya, rumah tanggaku bagai sebuah neraka. Anak-anakku pun menjadi korban egoisme orangtuanya. Ya Tuhan berikanlah petunjuk dan hidayah-Mu kepada istriku, Ratna.

(Seperti diceritakan Robby kepada Roy Pujianto/Majalah Fakta 566)R.26
readmore »»  

Malam Jahanam

Kinanti, Surabaya :

Entah setan mana yang merasuki jiwanya, hingga ia memaksa aku untuk melayani nafsu birahinya.


Tak banyak yang bisa aku perbuat, kecuali hanya mendengarkan kawan-kawan SMA-ku bicara tentang perguruan tinggi yang akan dimasukinya.Sebenarnya aku ingin sekali seperti mereka. Tamat SMA masuk sebuah perguruan tinggi favorit. Otakku, aku rasa cukup mampu untuk itu. Tetapi untuk melanjutkan ke perguruan tinggi otak saja tidak cukup tanpa dukungan dana yang memadai. Aku meski harus memupus impianku. Untuk bisa menamatkan SMA saja, perjuangan orangtuaku sudah habis-habisan. lbaratnya, kepala digunakan untuk kaki, dan kaki digunakan sebagai kepala. Jungkir balik, hutang sana hutang sini. Aku harus tahu diri, kalau aku bukan terlahir dari keluarga berada.

Aku pun mencoba menghibur diri, saat kawan-kawanku mengatakan kalau ingin sukses harus jadi sarjana terlebih dahulu. Aku menyangkal pendapat itu. Kenyataannya, banyak orang sukses tanpa harus menjadi sarjana terlebih dahulu. Bahkan, tidak sedikit yang hanya tamatan SD menjadi orang sukses dan hidupnya bergelimang harta. Jadi jangan salah sangka jika aku berpendapat demikian. Pendidikan tinggi, menurutku memang perlu. Tetapi hidup sukses bukan semata-mata ditentukan oleh gelar kesarjanaan seseorang. Ah, memang aku harus pintar-pintar menghibur diri agar keinginan yang tidak kesampaian tidak memicu munculnya pemberontakan diri yang tidak nalar. Barangkali, aku memang harus bisa menerima kenyataan seperti apa adanya.

Karena itu, setamat SMA aku mencoba mencari pekerjaan. Aku tinggalkan kampung halamanku, Wonogiri, Jawa Tengah. Aku ingin mengadu nasib ke Surabaya, Jawa Timur. Orangtuaku melepas kepergianku dengan berat hati. Mungkin karena aku ini seorang perempuan, dan baru kali ini bepergian jauh. Apalagi, kepergianku kali ini untuk mengadu nasib, sehingga tidak mungkin balik ke kampung halaman dalam waktu yang singkat.

Meski baru pertama kali menjejakkan kaki di Surabaya, tetapi aku tidak perlu bingung. Sebab, di kota metropolitan itu ada kakakku, sebut saja Mbak Nungky. Dia sudah berkeluarga. Kedatanganku yang tak pernah terduga-duga itu merupakan kejutan tersendiri buat Mbak Nungky sekeluarga. Kedatanganku pun mendapat sambutan hangat. Aku harus bersyukur dan bahagia sekali. Aku utarakan maksud kedatanganku ke Surabaya. Aku ingin mengadu nasib, meski hanya dengan bekal ijazah SMA. Mbak Nungky mendukungku, dan menyemangatiku.

"Memang Kanti, susah sih kalau hanya tamatan SMA. Itulah sebabnya, kamu harus kursus-kursus dulu, sebelum mencari pekerjaan," saran Mbak Nungky kepadaku. Aku maklum. Mbak Nungky benar, tetapi bagaimana dengan biaya untuk kursus-kursusku itu ? Kepada Mbak Nungky, aku pun mengatakan kalau aku mau bekerja apa saja, setelah berpenghasilan baru mencari kursusan. Ya, hanya dengan begitu aku tidak merepotkan Mbak Nungky. Tetapi rupanya Mbak Nungky tidak sependapat denganku. Aku malah tetap dimintanya kursus komputer, Bahasa Mandarin dan Bahasa Inggris, sebelum mencari pekerjaan. Dan semua itu atas biaya Mbak Nungky. Sebenarnya, aku merasa tidak enak dengan kebaikan Mbak Nungky yang aku rasa tulus itu.

Hari-hari pertama hidup di Surabaya, perasaanku penuh keterasingan. Kendati begitu, aku tak pernah surut dari keinginan semula, mengadu nasib dan menyusun masa depan. Aku yakin, perasaan ini hanya akan berlangsung sementara saja. Ya, sampai aku bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Dan, apa yang telah menjadi keyakinan itu terus aku pelihara. Suatu ketika, pembantu rumah tangga Mbak Nungky pamit pulang. Mbak Nungky dan suaminya, Mas Prasetyo, tidak berhasil mencegah kepergiannya. Kasihan aku melihat Mbak Nungky yang waktu itu sedang hamil tua. Apa boleh buat, sejak kepergian pernbantu rumah tangganya, segala pekerjaan rumah yang semula menjadi tanggung jawab pembantu, aku kerjakan. Untungnya hal tersebut tidak berlangsung lama, karena suatu hari seorang tetangga mbakku yang baru pulang dari Lamongan, Jawa Timur, ini membawa seorang wanita desa. Wanita itu ditawarkannya kepada mbakku untuk dijadikan pembantu. Mbak Nungky langsung setuju, dan sejak itulah aku diminta mengajari Emak, demikian aku menyebut pembantu Mbak Nungky yang baru ini, tentang apa-apa yang mesti dikerjakan.

Beberapa waktu kemudian, Mbak Nungky masuk rumah sakit untuk menghadapi proses persalinannya. Untuk sementara dua orang anaknya dipasrahkan kepadaku. Aku diminta merawat dan mengasuhnya baik-baik. Tanpa diminta pun, amanat itu mesti akan aku laksanakan. Sebab, bagaimanapun keponakan-keponakanku tak ubahnya anakku sendiri. Sejak masuk rumah sakit, tugas malamku menidurkan dan mengeloni kedua anak kakakku itu. Sementara melaksanakan tugas itu, aku berperang melawan perasaan harap-harap cemas atas persalinan Mbak Nungky. Aku selalu berdoa untuk kelancaran proses persalinannya. Aku terhadap, selamat untuk yang melahirkan dan selamat juga untuk yang dilahirkan.

Malam kedua Mbak Nungky masuk rumah sakit, peristiwa yang sama sekali tak pernah aku impikan terjadi tanpa aku bisa mencegahnya. Ketika aku sedang meninabobokkan kedua keponakanku, tiba-tiba kakak iparku menerobos masuk ke kamar kami. Semula, aku tak punya prasangka atau pikiran buruk apa pun. Aku pikir Mas Pras hanya ingin bermanja-manja dengan kedua anaknya. Tetapi apa yang terjadi, sungguh di luar dugaanku. Entah setan mana yang merasuki jiwanya, hingga ia memaksa aku untuk melayani nafsu birahinya. Aku berusaha habis-habisan untuk bertahan dan menolak ajakan tak terpuji itu. Tercium aroma alkohol dari mulut Mas Pras. Malam jahanam itu pun menjadi titik awal hancurnya hidupku. Aku tak bisa bercerita banyak, bagaimana aku mempertahankan keperawananku terhadap kakak iparku. Entah bagaimana, tiba-tiba aku merasa berada pada sebuah titik ketidakberdayaan yang menggiriskan.

Di bawah ancaman senjata tajam, aku diperkosa Mas Pras saat kedua keponakanku tidur pulas menggapai mimpi indahnya. Aku hanya bisa menangis, dan meratapi nasibku melihat noktah merah yang terpercik di seprei merah jambu itu. Hatiku serasa hancur berkeping-keping, dan pandanganku mendadak berkunang-kunang. Aku berharap, peristiwa di malam jahanam itu tidak akan pernah terulang lagi.

Tetapi, harapan itu tinggal hanya harapan. Sungguh betapa susahnya menerka ke mana perjalanan hidup akan membawaku. Betapa tidak, setelah peristiwa di malam jahanam itu, kelakuan kakak iparku semakin bejat saja. Tragisnya, aku semakin tak berdaya dan tak pernah menemukan jalan keluar. Mungkin ini kesalahanku sendiri, mengapa aku tidak berani nekad, misalnya balik ke Wonogiri saja ?

Sementara aku terus terlibat dalam permainan tak terpuji, aku menjalin hubungan dengan seorang lelaki sebaya, sebut saja Mas Yudha, seorang mahasiswa pada sebuah PTS di Surabaya. Hubunganku semakin hari semakin intim saja.Terus terang, di antara kami sama-sama saling mencintai. Satu ketika, tanpa aku duga-duga pula Mas Yudha minta bukti cintaku kepadanya. Semula, aku bingung. Aku tidak mengerti arah pembicaraan Mas Yudha. Karenanya, dengan polos kutanyakan kepadanya,"Apa yang bisa membuatmu percaya, kalau aku memang benar-benar mencintaimu, Mas Yudha ?" Mas Yudha membisikkan sesuatu ke telingaku. Aku baru paham, maksud Mas Yudha minta bukti cintaku kepadanya. Karena aku memang benar-benar mencintainya, maka tanpa pikir panjang langsung saja aku kabulkan keinginan Mas Yudha. Tetapi apa yang terjadi setelah kejadian itu berlangsung ? "Kamu sudah tidak perawan lagi, ya ?" demikian reaksi Mas Yudha ketika pertarna kali merasakan kehangatan tubuhku.

Mendapat pertanyaan begitu, aku bungkam seribu bahasa. Sungguh, aku tidal pernah menyangka kalau Mas Yudha akan mempersoalkan itu. Haruskah aku katakan yang sebenarnya bahwa kakak iparku-lah yang telah merampas mahkotaku ? Percayakah Mas Yudha akan pengakuanku ini ? Aku gelisah bukan main memikirkan hal itu. Waktu terus bergulir. Hubunganku dengan Mas Yudha terus berjalan. Aku agak sedikit lega, karena Mas Yudha tak lagi menyinggung soal kesucianku. Tetapi sejak itu, ia sering minta aku layani. Hubungan kami pun lambat laun lazimnya pasangan suami-istri. Setiap saat Mas Yudha ingin kehangatan tubuhku, aku pun berusaha untuk tidak mengecewakannya.

Singkat cerita, aku pun hamil. Tetapi aku tak tahu siapa yang lebih pantas disebut bapak oleh janin yang mengeram dalam rahimku ini. Sebab, selain dengan Mas Yudha, Mas Pras sering juga memaksaku. Sejauh itu, Mbak Nungky tidak tahu-menahu soal kelakuan bejad suaminya kepadaku. Aku sendiri juga tidak mungkin memberitahukannya kepada Mbak Nungky. Sementara kandunganku semakin berumur. Ingin rasanya aku menempuh jalan pintas, menggugurkan kandunganku. Tetapi, persoalannya, untuk sebuah jalan pintas itu butuh uang dan kenyataannya aku tak pernah mempunyainya. Akhirnya aku katakan kepada Mas Pras, dan jawaban yang aku peroleh, aku disuruh segera menikah dengan Mas Yudha.

Sekedar untuk diketahui, hubunganku dengan Mas Yudha juga sepengetahuan dirinya. Tetapi ketika aku minta pertanggungjawaban Mas Yudha, aku justru diminta menggugurkan si janin. Soal biaya, Mas Yudha yang akan menanggungnya. Karena tak melihat jalan keluar lain selain aborsi, maka dengan diantar Mas Yudha, aku berangkat ke daerah Malang Selatan untuk aborsi. Usaha aborsi gagal total, meskipun bermacam jampi-jampi dan ramuan-ramuan tradisional tandas aku tenggak. Apa boleh buat, meski terpaksa akhirnya Mas Yudha menikahiku juga.

Sekitar 6 bulan setelah melangsungkan pernikahan dengan Mas Yudha, aku melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik. Astaga, di luar dugaan, anak yang aku lahirkan itu menyandang banyak cacat fisik. Mulutnya sumbing, tidak mempunyai empat jari kecuali ibu jari saja, tidak memiliki jari kelingking dan jari manis sebelah kanan, serta telinga kirinya carat, seperti terlipat ke depan. Pertama kali melihat kondisi bayi kami yang demikian, aku dan Mas Yudha menangis sejadi-jadinya. Dunia serasa kiamat. Aku tidak tahu, apa yang mesti aku perbuat. Demikian juga dengan Mas Yudha. Haruskah aku membuang anakku di tempat sampah ? Oh Tuhan, maafkan hambaMu ini, jika sampai mempunyai pikiran yang demikian tidak terpuji.

Apa pun dan bagaimanapun keadaannya, aku akhirnya bertekad untuk merawat dan membesarkan bayiku yang cacat itu. Tetapi untuk mencegah agar hati kami tidak makin terluka oleh olok-olok dan nyinyir mulut para tetangga, maka bayiku aku besarkan dalam "persembunyian" yang sedemikian rupa ! Anakku senantiasa dalam keadaan terbungkus selimut rapat-rapat. Sebab, hanya dengan cara ini sejumlah kecacatannya tidak sampai diketahui orang lain.

Seiring dengan berlalunya hari, anakku tumbuh berkembang sebagai anak perempuan yang cantik, lucu, pintar serta menggemaskan meskipun cacat. Sementara anak kami makin tumbuh dan berkembang, Mas Yudha menjalin hubungan dengan wanita lain. Jika semula perselingkuhannya dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, lambat-laun dilakukan secara terang-terangan. Mas Yudha seolah sengaja memancing emosiku, dan berharap aku minta cerai. Memang pada akhirnya aku minta cerai pada Mas Yudha. Tetapi ini semata-mata aku lakukan untuk menjaga hati dan perasaan anak kami yang cacat itu. Sebab, Mas Yudha sering melampiaskan kekesalan hatinya pada anak kami yang malang ini. Rupanya Mas Yudha belum bisa menerima kenyataan seperti apa adanya, hingga ia sering melampiaskan kekecewaannya pada anak kandungnya sendiri.

Ya Tuhan ampuni dosa-dosa hambaMu yang hina ini dan berikanlah petunjukMu agar aku bersama anakku dapat menjalani kehidupan di dunia yang fana ini atas ridhoMu, Amiin.

(Seperti dituturkan Kinanti pada Roy Pujianto/Majalah Fakta 563)R.26
readmore »»  

Dijadikan Pemuas Nafsu

Yunara (nama samaran), Jogja :

Di depan orangtuaku, aku bersikap bak gadis kecil yang suci, padahal di belakang mereka, aku tak ubahnya penganut gaya hidup free sex.


Yunara, namaku. Aku terlahir sebagai anak kelima dari delapan bersaudara. Ayahku petani sederhana, namun mampu menghidupi anak-anaknya dengan baik. Bersama ibu, ia juga menanamkan pentingnya pondasi agama di samping pendidikan umum. Namun, aku tak percaya, betapa rapuhnya imanku hingga sanggup melanggar larangan agama.

Setamat SMP, aku meneruskan ke SMA. Tiga tahun menempuh pendidikan akhirnya aku lulus juga. Betapa senangnya orangtuaku. Apalagi setelah lulus sekolah, aku bisa langsung bekerja untuk membantu kedua orangtuaku membiayai pendidikan adik-adikku. Dua bulan setelah lulus, datang peluang kerja menjadi SPG lewat seorang teman. Setelah ditraining produk knowledge dan pengetahuanku tentang produk yang akan kupromosikan bertambah, seminggu kemudian, aku diantar ke sebuah mall oleh pihak agency dan diperkenalkan pada store manager. Ternyata manajer tersebut masih muda, namanya Yanuar.

Saat itu aku langsung diterima bekerja. Walau baru sehari ketemu tapi herannya sejak itu hampir setiap malam manajer tersebut meneleponku. Setiap kali kutanya apa keperluannya, dia tak pernah menjawab dengan pasti. Seminggu kemudian Yanuar mengajakku kencan. Sejujumya, selain dia masih muda juga berwajah tampan. Sejak itu setiap minggu kami pergi berdua untuk makan-makan atau nonton film. Dia juga kerap membelikanku baju-baju dan tas bagus, bahkan perhiasan emas. Bagiku yang lugu dan masih bau kencur dalam cinta, perhatiannya itu sungguh membuatku mabuk kepayang. Apalagi aku berasal dari keluarga sederhana, sedangkan Yanuar berekonomi mapan dan dari keluarga terhormat. Dia benar-benar tipe pria ideal untuk menjadi pasangan hidupku.

Kami pun semakin intim, hingga akhimya aku rela menyerahkan keperawananku padanya. Sama sekali tidak ada penyesalan karena aku sangat mencintainya dan yakin ia pasti akan menikahiku. Kami pun semakin sering melakukan hubungan terlarang itu. Mata dan hatiku seolah buta, tak peduli bahwa yang kami lakukan itu suatu dosa besar. Yang kutahu, aku sangat mencintai Yanuar dengan segala kelebihannya. Dia adalah anugerah bagiku. Namun, tak bisa dipungkiri, aku telah mengambil jalan yang salah. Aku merasa menjadi orang paling munafik di dunia. Di depan orangtuaku, aku bersikap bak gadis kecil yang suci, padahal di belakang mereka, aku tak ubahnya penganut gaya hidup free sex.

Ayah-ibuku telah mengenal Yanuar dan menyetujui hubungan kasih kami. Toh mereka melihat keluarga Yanuar agamis dan sikapnya selalu sopan. Tentu orangtuaku tak pernah menyangka bila Yanuar dan aku sudah melangkah begitu jauh. Ya Tuhan! Suatu hal yang selalu kutakutkan adalah bagaimana bila hubungan terlarang kami membuahkan hasil? Dan, ternyata, apa yang kukhawatirkan itu pun terjadi. Suatu hari aku menyadari telah terlambat datang bulan. Aku segera melakukan pemeriksaan. Hasilnya, positif aku hamil! Ketika kukatakan hal itu pada Yanuar, dia malah memberiku bermacam-macam obat untuk meluruhkan janin dalam kandunganku. Mulai dari obat kimia, jamu-jamuan hingga obat Cina. Meskipun rasanya pahit dan baunya tak sedap, aku harus menelan semua itu untuk menyelamatkan wajah kami dari aib yang sangat memalukan itu.

Tapi, janinku tak kunjung keluar. Yanuar kian cemas. Ia menghubungi temannya seorang dokter kandungan untuk mengaborsi janinku. Aku pun tak punya pilihan lain. Hatiku sedih dan kecewa karena Yanuar memilih membunuh anak kami dibandingkan bertanggung jawab. Dia berusaha meyakinkanku bahwa suatu saat kami pasti menikah. ”Tapi, bukan sekarang. Waktunya belum tepat,” katanya. Aku percaya saja terhadap ucapannya itu.

Sebulan telah berlalu, belum hilang rasa sakit akibat kuret yang kulakukan, Yanuar kembali mengajakku melakukan aktivitas seksual. Herannya, aku pun tak kuasa menolaknya. Sepertinya kami tidak ingat kepanikan yang kami alami saat aku hamil dulu. Akibatnya, enarn bulan kemudian, aku hamil lagi. Sebenamya aku selalu menelan pil KB, tapi mungkin sedang sial, suatu hari aku lupa meminumnya. Lagi-lagi, janinku tak bisa dikeluarkan dengan obat-obatan biasa sehingga aku kembali diaborsi. Yanuar begitu pandai bersilat lidah. Katanya, dia sangat mencintaiku, namun aku harus bersabar. Dia akan menikahiku setelah memiliki rumah sendiri. Lagi-lagi aku harus ikhlas kehilangan anakku kembali.

Ketika keluarga Yanuar datang ke Yogyakarta, aku begitu bahagia bisa berkenalan dengan mereka. Apalagi mereka kemudian mengunjungi keluargaku di desa. Meskipun orang berpunya, mereka sama sekali tidak tinggi hati. Mereka juga tidak menyepelekan kami yang notabene keluarga sederhana. Aku semakin yakin bisa menjadi istri dari pria yang sangat kucintai ini.

Tak lama setelah keluarga Yanuar mengunjungi kami, Yanuar bisa membeli rumah dari hasil tabungannya selama ini. Rumah itu lumayan bagus, terletak di perumahan elit. Hatiku semakin berbunga-bunga. Aku yakin pernikahan kami tinggal menunggu waktu. Tapi, yang membuatku sedikit kesal, sejak Yanuar tinggal di rumah barunya, aku tidak pernah diperbolehkan berkunjung ke sana. Alasannya, aku tidak boleh memasuki rumah itu sebelum kami menikah. Jika ingin bercinta, kami melakukannya di hotel. Akibat perbuatan kami itu , akhirnya aku hamil lagi untuk ketiga kalinya. Yanuar kembali memberiku obat, tapi kali ini aku bertekad mempertahankan janinku. Tak satu pun obat yang diberikannya kuminum. Aku ingin dia bertanggung jawab dan menikahiku. Aku tidak mau lagi membunuh darah dagingku sendiri.

Ketika Yanuar mengetahui hal itu dia marah besar dan menjauhiku. Setiap kali kutelepon, tidak pernah diangkat. SMS-ku juga tak pernah dijawab. Bila kudatangi rumahnya, dia tak pernah ada. Pernah dia menjawab teleponku, tapi seperti biasa, di memintaku menggugurkan kandunganku. Aku tak mau lagi menuruti keinginan bejatnya itu. Aku mulai sadar bahwa dia bukanlah lelaki baik¬-baik. Setiap habis sholat, aku memohon ampunan pada Allah SWT atas segala dosa yang pernah kulakukan. Aku memohon petunjuk-Nya agar dapat keluar dari permasalahan ini.

Sampai kandunganku berusia empat bulan, tak seorang pun keluargaku yang tahu perihal kehamilanku. Aku memang berusaha menutupinya. Suatu hari aku datang ke rumah Yanuar untuk membicarakan masalah kami. Rumahnya tertutup rapat. Tiga jam lamanya aku menunggu Yanuar pulang. Akhirnya ia datang dengan sedan barunya. Mungkin karena melihatku berdiri menunggunya dengan perut besar, dia iba dan bersedia menemuiku. Dia mengajakku masuk ke mobilnya.Ternyata di jok belakang ada seorang wanita cantik. Yanuar memperkenalkanku sebagai pacar adiknya. Mendengar itu, pikiranku langsung kalut. Aku menduga wanita cantik bernama Minati itu adalah pacar barunya. Langsung aku menangis dan memakinya. Tapi, Yanuar diam saja. Wanita itu pun tak berkata apa-apa.

Seminggu kemudian aku kembali ke rumahnya untuk membicarakan kelanjutan hubungan kami. Tapi, malah kudapati Yanuar tengah bermesraan dengan Minati di kamarnya.Ternyata selama ini mereka sudah tinggal serumah! Karena panik, aku menelepon keluarga Yanuar dan menceritakan keadaanku pada mereka. Namun, mereka malah menyalahkanku yang dinilai tidak bisa menjaga kehormatan. Yanuar yang tahu aku menghubungi keluarganya, marah besar. Ia memintaku menelepon kembali keluarganya dan menarik semua ucapanku. Terpaksa kuturuti keinginannya karena aku berharap dia mau menikahiku atas kesadarannya sendiri.

Sejak kejadian itu, aku tidak enak untuk makan dan tidur, padahal janin di rahimku butuh asupan gizi yang cukup. Sementara Yanuar terus memintaku mengaborsi janin kami. Menginjak enam bulan usia kandunganku, ibu dan kakakku mulai curiga melihat perubahan tubuhku. Meskipun aku sudah berusaha menutupi perutku dengan kemeja longgar. Ibu dan kakakku menangis mendengar pengakuanku. Ibu menyuruhku segera meminta pertanggungjawaban Yanuar.

Untuk menenangkan mereka, aku pamit bekerja di sebuah restoran dan tinggal di mess, padahal sebenarnya aku tinggal di rumah kost. Aku juga menelepon Yanuar dan menceritakan apa yang terjadi. Malam itu juga Yanuar menjemputku dan mengajakku tinggal di rumahnya. Tapi, dia tetap tidak berniat menikahiku. Setiap hari aku harus rela melihat wanita bernama Minati itu datang dan bercinta dengannya di kamar bawah. Mereka tega melakukan hal itu, sementara aku tak bisa berbuat apa-apa karena kehamilanku yang semakin besar. Tak jarang aku mengamuk dan mencaci-maki mereka untuk melampiaskan kegundahan hatiku. Betapa terkejutnya aku ketika Minati bercerita bahwa dia sudah empat tahun berpacaran dengan Yanuar. Selama itu pula sudah berkali-kali dia diaborsi. Ya Tuhan, ternyata kami berdua adalah korban dari pria bernama Yanuar. Yang lebih parah lagi, menurut Minati, Yanuar pun sering berkencan dengan pelacur dan tante-tante girang. Jelaslah bagiku kini bahwa Yanuar adalah seorang pria yang selalu haus seks.

Singkat cerita, bayiku lahir dengan selamat. Seminggu setelah dirawat di rumah sakit, aku kembali ke rumah Yanuar. Meskipun sayang pada anaknya, Yanuar tetap tidak mau menikahiku. Setelah bayiku berusia tiga bulan, Yanuar mengontrakkanku sebuah rumah. Dia tidak ingin tetangga kiri-kanan tahu kalau dia telah ”menyimpan” seorang wanita dan bayi di rumahnya. Selama ini aku memang dikurung di kamar atas, bahkan tukang cuci yang bekerja di rumah Yanuar pun tak tahu akan keberadaanku. Entah kenapa, aku mau saja menuruti keinginannya.

Aku dan bayiku kemudian tinggal di rumah kontrakan. Memang, Yanuar memenuhi semua kebutuhan kami. Tapi, setiap kali aku bertanya kapan dia menikahiku, Yanuar marah dan memintaku menunggu hingga dia berhasil mengumpulkan modal untuk berumah tangga. Sementara itu ia masih terus ke diskotik atau berkencan dengan Minati. Karena sakit hati, aku pernah menelepon orangtua Minati dan menceritakan kalau aku adalah kekasih Yanuar yang hamil tanpa dinikahinya. Orangtua Minati marah besar dan melarang Yanuar berhubungan dengan anak mereka. Tapi, yang membuatku heran, mereka tetap saja berhubungan hingga sekarang.

Belakangan, abangku akhirnya juga tahu apa yang terjadi. Dia begitu murka dan mendatangi Yanuar di rumahnya. Abangku memukuli Yanuar dan memaksanya untuk menikahiku. Berkali-kali abangku menelepon keluarga Yanuar, tapi mereka tidak pernah mempercayai kelakuan bejad anaknya. Entah bagaimana cara Yanuar meyakinkan keluarganya hingga mereka begitu mempercayainya.

Sekarang bayiku sudah berusia sepuluh bulan. Apa yang harus kulakukan agar dia mempunyai status yang jelas? Aku begitu membenci Yanuar, tapi aku juga tak bisa berhenti mencintainya. Aku sangat berharap bisa menikah dengannya, bahkan dimadu dengan Minati pun aku rela. Kini aku hanya berharap keajaiban menghampiriku.

(Seperti dikisahkan Yunara pada Roy Pujianto/Majalah Fakta 560)R.26
readmore »»