Tips Melupakan Mantan

Melupakan hal-hal manis bersama mantan kekasih bukan hal mudah, terlebih bila Anda dan dia putus secara baik-baik. Namun mutlak, hal itu harus dilakukan. Anda harus beranjak dari masa lalu, menghadapi masa depan dengan orang-orang yang Anda sayangi.

Mungkin Anda berdalih, "saya hanya ingin menjaga hubungan baik", atau "we're just friend". Anda perlu berhati-hati, sebab di situlah 'bahaya' mengintip. Siapapun tak akan bisa menjamin "bara" itu tidak akan kembali menyala. Tak terlalu masalah bila Anda berdua masih single, namun hal itu akan sangat menyakitkan bila Anda atau dia sudah sama-sama memiliki pasangan baru.

Cara terbaik melupakan mantan adalah dengan menghadapi kenyataan; bahwa Anda dan dia saat ini memiliki kehidupan sendiri. Bila Anda masih kesulitan, cobalah beberapa tips berikut. Agak keras, memang, tapi percayalah, ini akan berhasil!
1. Hindari curhat dengan mantan

Selama kita masih punya keluarga, sahabat, atau teman dekat sebisa mungkin hindari curhat-curhat dengan mantan pacar. Dengan alasan untuk menjaga tali silaturahmi, kadang-kadang banyak orang yang tetap berhubungan sebagai teman walaupun sudah tidak berpacaran lagi. Dan ketika bermasalah dengan pasangan yang sekarang, biasanya berusaha mencari tempat curhat yang lain, yaitu teman dekat atau bisa juga mantan pacar. Hal inilah yang bisa menjadi celah masalah baru akan timbul.

2. Putuskan kontak

Jangan berusaha menghubungi mantan pacar, baik lewat telepon, SMS, chatting maupun e-mail. Sebaliknya abaikan juga semua telepon, SMS, chatting dan e-mail darinya. Sangat tidak adil jika kita masih mengirim SMS kepada mantan, sementara kita sudah memiliki orang yang sangat kita kasihi.

3. Menghapus memori

Tidak perlu menyimpan benda-benda kenangan masa lalu, foto atau benda-benda lain yang pernah diberikan sang mantan kepada kita. Karena ketika benda itu masih dekat dengan kita, pasti kita akan mengingatnya terus.

4. Jangan bernostalgia

Usahakan jangan datang ke tempat-tempat yang pernah kita kunjungi bersama mantan pacar, sebab hal ini justru bisa membuat kita kembali teringat padanya.

5. Hapus profil mantan dari facebook

Hapus juga dia dari akun friendster atau situs jejaring sosial kita. Ekstrim. Tapi ini penting, untuk menghindari keinginan kita "mengintip" seluruh kegiatannya.

6. Lebih dekat dengan keluarga

Saatnya Anda lebih berkonsentrasi kepada orang yang jauh lebih peduli; keluarga dan sahabat. Jika Anda sekarang masih single, mungkin saja akan ada orang yang dapat mencintai Anda secara lebih pantas.

7. Tidak ada istilah "teman baik"

Banyak di antara kita yang berdalih sekarang hubungan dengan mantan sekarang hanya sebatas teman baik, sahabat. Namun perlu Anda ingat, persoalan akan menjadi lain kalau hubungan pertemanan itu diketahui oleh pasangan masing-masing. Kalau pasangan menyetujui, tidak masalah. Namun biasanya, pertemanan dengan mantan kekasih cenderung disembunyikan. Inilah yang menjadi bibit penyakit.

8. Menempatkan posisi kita ke dalam posisi orang lain

Coba saja kalau ternyata pasangan kita yang sekarang ternyata masih juga berhubungan dengan mantan pacarnya, apakah kita tidak akan cemburu? Orang-orang yang masih ingin berhubungan dengan mantan pacarnya sebaiknya berkaca pada diri sendiri dan menyadari apakah dia sendiri akan rela apabila hal seperti itu terjadi padanya. (dev/dila)

Sumber : suaramerdeka.com
readmore »»  

Tergoda Sang Mantan

Juwita (nama samaran), 45 tahun, somewhere :

Sudah sekitar 23 tahun saya berumah tangga dan dikaruniai 2 anak yang telah menginjak remaja. Selama ini rumah tangga saya berjalan harmonis, meskipun dari segi ekonomi kurang begitu beruntung. Suami saya adalah lelaki yang baik dan bertanggung jawab, sedangkan anak-anak saya (semuanya laki-laki) tergolong tampan dan pandai di sekolah.

Sekitar 2 tahun lalu saya bertemu mantan pacar saat acara reuni di Jakarta dengan teman-teman SMA yang tinggal dan mencari nafkah di sana. Waktu itu semuanya berjalan biasa saja. Kami saling bertukar cerita tentang keluarga masing-masing. Ia, sebut saja Romi, punya 4 anak dan dari ceritanya, ia tampaknya mempunyai karir yang cukup sukses.

Beberapa bulan kemudian saya menerima SMS dari Romi. Mula-mula jarang,tapi lama kelamaan makin sering. Sesekali ia menelepon dan kami ngobrol panjang lebar tentang banyak hal.

Entah kenapa, kemudian muncul rasa rindu jika ia tak mengirim SMS atau menelepon. Kalau rindu itu sudah tak tertahan, sayalah yang berinisiatif mengirim SMS. Tentu saja hal itu saya lakukan sembunyi-sembunyi. Suatu ketika, saat saya sedang mandi ponsel saya berbunyi karena ada SMS masuk dan anak kedua saya spontan membaca nama pengirim yang tertera di layar. Dengan polos ia meneriakkan nama pengirim SMS yang tak lain adalah Romi. Suami saya marah, karena ia tahu Romi adalah mantan saya. Beruntung ia tidak usil membaca SMS itu, dan saya jelaskan kalau hanya sekedar "say hello" darinya.

Sejak kejadian itu, saya ganti nama di ponsel dengan nama cewek dan saya makin keasyikan berSMS dan bertelepon ria dengan Romi. Wajah Romi pun selalu menghiasi pikiran saya setiap saat setiap waktu, misal sedang nonton TV, memasak, mau tidur, atau bangun tidur. Saya jadi suka berkhayal sedang bermesraan dengan Romi, meskipun saat itu sedang bermesraan dengan suami.

Saya sudah berusaha sholat malam agar bisa melupakannya, tapi tidak bisa. Justru keinginan saya untuk bersama Romi makin kuat.

Apakah saya termasuk selingkuh? Apa yang harus saya lakukan?

Jawab :

goasksuzie.com
Ibu Juwita di somewhere. Tampaknya Anda sedang jatuh cinta. Dan jatuh cinta tidak memandang usia, pendidikan, agama, maupun status perkawinan. Banyak kasus seperti yang Anda alami, dan jika Anda jujur dengan mengatakan bahwa cinta Anda sebatas berkhayal, bisa dikatakan itu masih dalam batas wajar.

Mengutip lirik lagu almarhum Gombloh, "Kalau cinta melekat, tai kucing rasa coklat", adalah ungkapan yang sangat tepat untuk menggambarkan perilaku orang yang sedang kasmaran. Semuanya tampak indah, meskipun sebenarnya mengandung kebusukan. Yang jadi masalah adalah, baik Anda maupun Romi, sama-sama sudah berkeluarga.

Sudah jamak terjadi, perselingkuhan berlanjut hingga ke tempat tidur. Di tinjau dari sisi apapun, hal itu jelas salah. Resikonya pun bisa sangat fatal, mulai dari kemungkinan terjangkitnya penyakit kelamin, HIV/AIDS, sampai hancurnya rumah tangga.

Menghapus cinta yang tumbuh, termasuk cinta terlarang seperti yang Anda alami, bisa sangat sulit. Sama sulitnya dengan menghentikan kebiasaan merokok. Meskipun pemerintah gencar mengkampanyekan bahaya merokok bagi kesehatan, tetap saja banyak kita jumpai perokok-perokok di sekitar kita. Demikian juga dengan cinta. Wanita akan serahkan segalanya kepada pria idamannya. Segalanya!

Apakah itu termasuk perselingkuhan? Ya, karena Anda telah membagi fokus pikiran Anda pada orang lain selain suami dan anak-anak Anda.

Sejumlah pakar seks menyatakan, bahwa ada perbedaan mendasar dalam hal selingkuh antara pria dan wanita. Pria bisa berselingkuh meski tak didasari cinta, hanya didasari nafsu syahwat semata. Sedangkan wanita butuh proses yang agak rumit sebelum akhirnya jatuh di pelukan pria lain selain suaminya. Ia melibatkan perasaan, dan dalam hal ini adalah cinta. Sayangnya, Anda tidak memberi tahukan apakah Romi sama tergila-gilanya pada Anda seperti Anda tergila-gila padanya.

Ibu Juwita, disadari atau tidak, Anda telah memupuk rasa cinta itu dan itu bisa sangat berbahaya. Sekali Romi "menawarkan" Anda untuk berbuat lebih jauh, check in di hotel misalnya, Anda tak akan kuasa dan tak berkeinginan menolak. Apa pun latar belakang pendidikan, pengetahuan agama, ataupun norma-norma yang ditanamkan pada Anda, semuanya itu hanya akan menjadi dinding rapuh yang dapat dengan mudah Anda robohkan.

"Anda sama sekali tak punya alasan untuk menjadi pembenaran atas tindakan Anda. Suami yang baik dan anak-anak yang sempurna. Apa lagi yang Anda cari? Apakah hanya karena kurang beruntung secara ekonomi dan kemudian melihat Romi yang sukses membuat Anda mengorbankan semua yang telah Anda bina bersama suami Anda selama 23 tahun ini?"

Jika ditimbang antara segi positif dan negatifnya, saya tak menemukan apapun yang bisa disebut positif. Semuanya hanya ada sisi negatif yang harus Anda pertimbangkan masak-masak, seperti :
  • Anak-anak Anda sudah menginjak usia remaja, yang artinya akan juga bisa menilai betapa salahnya Anda.
  • Dampak psikologisnya akan lebih besar pada anak-anak, karena bila kemungkinan terburuk terjadi, mereka akan dihadapkan pada pilihan yang tak mudah. Jelas itu akan mengganggu perkembangan psikologis dan pendidikan mereka.
  • Istri dan anak-anak mantan Anda pasti akan tersakiti juga andai Anda masuk ke kehidupan mereka.
  • Mantan adalah mantan yang Anda kenal di masa lalu. Orang berubah seiring berjalannya waktu. Mungkin dulu Anda mengenalnya hanya di permukaan saja, yang pastinya hal-hal baik. Pikirkanlah tentang ungkapan "Membeli kucing dalam karung". Artinya, tak ada kepastian bagi Anda untuk menjalani hidup yang jauh lebih baik dengan sang mantan daripada dengan suami Anda saat ini.
  • Sisa hidup Anda akan banyak diisi dengan kebohongan-kebohongan untuk mengamankan cinta terlarang Anda. Dan satu kebohongan akan diikuti dengan kebohongan lain. Resikonya, sekali ketahuan, Anda tak akan dipercaya lagi seumur hidup.
  • Secara moril, Anda akan menyandang gelar "bukan wanita baik-baik" di sisa umur Anda.
  • Akan selalu ada korban akibat perselingkuhan, dan korban itu adalah orang-orang yang Anda kasihi.
  • Usia Anda sudah mendekati masa menopause. Artinya kehidupan seks Anda akan menurun, sementara pria butuh seks berapapun usianya.

Untuk itu, nasihat terbaik yang bisa kami berikan adalah lupakan mantan Anda dan jalani hidup yang nyata. Berikut ini tips kami :
  • Jangan manjakan pikiran Anda dengan khayalan-khayalan yang memabukkan itu. Energi Anda akan terbuang percuma dan Anda akan makin tenggelam dalam khayalan semu yang tak berujung yang membuat Anda makin frustrasi. 
  • Lakukan aktifitas yang bermanfaat untuk keluarga, atau menyalurkan hobi, seperti memasak masakan yang belum Anda kuasai misalnya. Atau menjahit, merenda, dan lain-lain.
  • Jangan hanya berdoa untuk melupakannya, tapi tumbuhkan rasa bersyukur Anda atas rezeki yang Anda miliki saat ini. Rezeki tidak cuma materi, tapi juga kesehatan, kerukunan dalam rumah tangga, anak-anak yang tampan dan pandai, suami yang baik dan setia.
  • Ikuti secara aktif pengajian-pengajian guna mempertebal keimanan Anda.
  • Jangan tanggapi SMS atau telepon dari Romi. Bila perlu, ganti nomor ponsel Anda.
  • Tanamkan niat yang kuat untuk kembali ke jalan yang lurus.
  • Tanamkan juga dalam pikiran Anda, bahwa selingkuh itu salah, berdosa dan berbagai konsekuensi buruk lainnya.
  • Ingat-ingat kembali saat romantis Anda saat berpacaran dengan suami Anda atau detik-detik kelahiran anak-anak buah cinta Anda dengan suami. (jbss)

Semoga bermanfaat.
readmore »»  

8 Langkah Sederhana Jadi Lebih Bahagia

Kebahagiaan adalah sesuatu yang tak ternilai harganya. Oleh karena itu bahagia tidak hanya diukur dari memiliki mobil mewah atau perhiasan. Kebahagiaan sejati sesungguhnya berasal dari dalam diri dan membutuhkan upaya serta kerja keras untuk mencapainya.

Berikut adalah delapan langkah sederhana menjadi orang yang lebih bahagia seperti dikutip dari laman Shine :
1. Berhenti menjadi materialistis


Jika Anda menemukan kesenangan dalam sebuah benda atau sesuatu, maka kebahagiaan itu tidak akan bertahan lama. Sebab, Anda tidak akan pernah merasa cukup dengan apa yang Anda miliki. Selain itu benda bisa hilang atau rusak. Adapun menginginkan apa yang tidak Anda miliki bisa menciptakan ketidakbahagiaan. Oleh karena itu Anda harus selalu puas dengan apa yang dimiliki saat ini.

2. Tidak mendefinisikan diri dengan gelar

Seperti halnya harta benda, gelar juga bisa hilang. Jika Anda mendefinisikan diri Anda sendiri dengan sebuah pekerjaan atau peran, seperti menjadi doktor atau seorang ibu, Anda mungkin akan merasa kehilangan jika gelar tersebut diambil dari Anda. Anda perlu mencari kebahagian dalam diri Anda sendiri.

3. Menyingkirkan kekacauan di rumah

Rumah yang berantakan bisa menyebabkan kekacauan batin dan stres. Mulailah mengurangi kekacauan di rumah dengan membuang, menyumbangkan, atau menjual barang-barang yang tidak Anda gunakan atau butuhkan.

4. Bermeditasi

Meditasi adalah salah satu cara yang kuat agar seseorang lebih bahagia. Para ilmuwan menemukan bahwa orang yang terlatih melakukan meditasi memiliki aktivitas otak yang berbeda dibandingkan mereka yang belum pernah menjalaninya. Mereka yang terlatih melakukan meditasi merespons lebih baik terhadap situasi yang bisa menyebabkan kehilangan kontrol emosi.

5. Memiliki jadwal terstruktur

Anda perlu memastikan bahwa jadwal Anda diatur dengan baik. Makan pada waktu tertentu dan mempunyai jadwal tidur teratur.

6. Kelilingi diri dengan hal positif

Salah satu faktor terbesar kebahagiaan adalah berada di sekitar orang-orang yang positif. Orang yang negatif bisa memengaruhi suasana hati Anda.

7. Fokus pada kesehatan di setiap aspek kehidupan

Anda hanya bisa mencapai kepuasan sesungguhnya ketika setiap bagian dari diri Anda selaras atau harmoni.

8. Tulis daftar syukur

Membuat daftar hal-hal yang Anda syukuri dapat memperbaharui apresiasi Anda terhadap sesuatu yang selama ini Anda sepelekan. Menulis daftar syukur membuat Anda diri lebih fokus terhadap hal-hal positif dan bukan negatif.

Sumber : VIVAnews     |    Foto : newaromatictherapy
readmore »»  

Hati Hati! Percintaan Bubar Karena Teknologi

Selalu ada sisi positif dan negatif dari semua hal, termasuk teknologi. Jika tidak hati-hati, perkembangan teknologi yang harusnya memudahkan, justru bisa menganggu kisah cinta Anda.

Ada orang yang mendapatkan kekasih lewat Internet, tetapi ada juga yang dicampakkan pujaan hati lewat SMS. Kehadiran teknologi dalam dunia percintaan memang kini semakin maju. Bukan hanya sekadar alat penghubung tapi juga bisa berfungsi sebagai detektif sampai “satpam”. Nah, jika tidak hati-hati, kecanggihan teknologi yang baik malah bisa berbalik merugikan kehidupan cinta Anda. Waspadalah!


Sibuk sendiri

Ketak-ketik di BlackBerry atau telepon selular cerdas Anda hampir tak bisa berhenti bahkan sampai detik terakhir sebelum tidur. Sering kali Anda lebih fokus pada ponsel, ketimbang pasangan yang duduk manis di sebelah. Saat liburan, interaksi Anda berdua juga kerap kurang maksimal karena kehadiran gangguan yang masuk melalui gadget Anda.

Jangan biarkan gadget atau alat komunikasi lainnya mengurangi kualitas hubungan Anda dengan orang terdekat. Usahakan sebisa mungkin melupakan gadget Anda dan berbincang dengan kekasih, teman makan malam. Bagaimanapun sentuhan personal dan interaksi saat tatap muka penting untuk meningkatkan kualitas hubungan walau Anda sudah saling berkabar seharian lewat pesan singkat.

Prioritas pertama

Apa yang Anda lakukan ketika baru bangun tidur? Memeluk pasangan, mencium si buah hati, atau memeriksa pesan di ponsel Anda? Jawaban yang terakhir mungkin lebih banyak dipilih saat ini.

Sadarkah Anda bahwa saat ini si gadget andalan sudah berubah jadi prioritas ketimbang orang tersayang? Berapa kali Anda harus melepaskan genggaman saat menonton bioskop dengan kekasih karena harus memeriksa pesan? Kerap juga pembicaraan penting dengan pasangan terganggu karena ada tanda pesan masuk di ponsel.

Jangan membiarkan diri Anda “dijajah” gadget. Selalu tetapkan batasan kapan Anda bisa terus memeriksa pesan di ponsel dan kapan Anda bisa benar-benar fokus untuk berinteraksi dengan kekasih. Orang tersayang Anda pasti kecewa jika ia dinomorduakan, meski oleh benda elektronik.

Eksistensi

Semakin berkembang, Internet menjadi tempat untuk berbagai macam hal, termasuk tempat menunjukkan eksistensi. "Kok status Facebook kamu masih single, kan kita sudah jadian?"

"Pasang foto sama aku dong di avatar Twitter?"

Nah, hal kecil seperti ini sering jadi pemicu konflik. Kata sayang atau komitmen kini tak cukup lagi hanya ditunjukkan secara tatap muka langsung. Status di Internet pun penting untuk mengukuhkan sebuah hubungan. Jika kekasih keberatan, maka potensi konflik bisa terjadi.

Dianggap masih ingin cari pacar, tidak mau menunjukkan sudah punya istri, atau bahkan dituduh tidak sayang jika tidak mau memajang eksistensi orang tersayang di situs jejaring sosial! Padahal setiap orang punya alasan dan preferensinya masing-masing.

Bisa saja sang kekasih menolak mengungkap terlalu banyak kisah pribadi atau kehidupan cintanya di jejaring sosial karena lebih banyak menggunakannya untuk urusan pekerjaan. Bicarakan hal ini baik-baik dan jangan jadikan sebagai tuntutan.

Jika ia memang siap membuka kehidupan pribadinya ke publik, tanpa diminta pun ia akan senang hati memasang status in a relationship atau married di profil jejaring sosialnya.

Mata-mata

Penguntit atau stalker era masa kini memang berbeda dengan jaman Alfred Hitchcock. Sekarang, tak lagi perlu keluar rumah untuk mengetahui apa yang sedang dikerjakan kekasih, di mana ia berada, hingga dengan siapa ia pergi. Cukup intip-intip status jejaring sosialnya atau bahkan lengkapi ponselnya dengan aplikasi berbasis GPS sehingga mudah melacak keberadaannya.

Ini juga menjadi potensi konflik karena tak sedikit pasangan yang cemburu buta. Kekasih dan mantannya sama-sama 'check-in' foursquare di mal tertentu dan bukan berarti mereka sedang bersama. Bisa saja kebetulan.

Atau kasus lain, jika pasangan Anda terlalu sering mention seseorang di Twitter, maka Anda secara otomatis membuka profil orang tersebut: Siapa dia dan apa hubungannya dengan kekasih Anda.

Apakah dalam konfrontasi Anda lebih percaya Internet ketimbang ucapan pasangan? Apalagi jika pasangan saling tahu password. Secara berkala pasti akan ada aktivitas saling memeriksa inbox atau aktivitas dan pertemanannya di situs tersebut secara diam-diam.

Huft! Melelahkan sekali ya jadi kekasih zaman sekarang. Mungkin banyak yang sudah lupa pada yang namanya kepercayaan dalam suatu hubungan. Karena itu jangan lupakan komunikasi tatap muka langsung agar hubungan tetap kuat tanpa perlu sibuk menjadi penguntit di dunia maya.

Tuntutan baru

Sudah dibaca (“R”) kenapa belum dibalas? Kenapa dia nggak mau memberi tahu password Facebook? Tak sedikit juga pasangan yang meminta kekasihnya mengirim bukti foto tempat ia berada karena tidak percaya pada ucapan kekasih. Banyak tuntutan baru muncul dengan adanya perkembangan teknologi. Tuntutan ini seringkali menjadi sumber konflik jika pasangan belum memiliki dasar hubungan yang kuat.

Mudah menilai

"Pacar baru kamu narsisistik ya, lihat saja Facebooknya."

"Kayaknya teman baru kamu orangnya aneh deh kalau aku lihat Twitternya."

Ketika bertemu atau mendengar nama orang baru, tak jarang yang dilakukan adalah mencari akun jejaring sosialnya atau menelusuri namanya di mesin pencari. Hasil pencarian akun jejaring sosialnya pun bermacam-macam. Ada yang positif, ada yang negatif. Tapi sering hasil pencarian itu dijadikan bahan untuk menilai orang tersebut. Bisa jadi Anda membatalkan kencan hanya karena melihat “keanehan” pada akun jejaring sosialnya.

Seperti halnya jangan menilai buku hanya dari sampulnya, jangan pula menilai seseorang hanya dari akun jejaring sosialnya. Memang akun jejaring sosialnya bisa memberikan gambaran tentang orang tersebut, tapi tak ada salahnya bertemu langsung dan siapa tahu ia tak seperti yang Anda duga.

Selingkuh

Ini yang paling berpotensi menimbulkan konflik. Beberapa studi mengatakan aktivitas yang tinggi pada situs jejaring sosial bisa membuka potensi selingkuh. Kemudahan untuk menggoda dan berhubungan dengan teman lama bisa membuka pintu baru untuk main api. Sekadar berteman atau sudah masuk ke kategori selingkuh? Batasan flirting pun kini semakin abu-abu dengan adanya fitur-fitur di jejaring sosial.

Jangan biarkan hal ini terjadi pada hubungan Anda. Kuncinya, tetap pertahankan kualitas komunikasi dan kepercayaan dalam hubungan. Kuatkan hubungan Anda lewat interaksi secara langsung dan tetap saling berkabar lewat gadget andalan.

Jangan biarkan Internet dan gadget merusak hubungan cinta Anda yang begitu berharga.

Sumber : http://id.she.yahoo.com/ melalui slawiayucybernews.blogspot.com
readmore »»  

Tante Mia

Diva (nama samaran), 24 tahun, Karyawati Swasta, Purwokerto :


Saat melintasi ruang tamu itulah telingaku mendengar suara mendesah di antara suara TV yang menyala. Dengan rasa penasaran aku mengintip dari balik kaca ruang tamu yang tertutup korden tipis. Ya Tuhan! Di situ aku melihat Tante Mia tengah bersimpuh di depan seorang lelaki yang duduk di sofa. Celana jeans lelaki itu melorot hingga di kakinya dan Tante Mia yang setengah telanjang mengulum dengan buas “milik” lelaki itu ...


Ayahku adalah sulung dari 4 bersaudara. Saat ini ia tinggal di Wonosobo, Jawa Tengah, sebagai pensiunan pegawai negeri. Adiknya 2 lelaki (Om Beni dan Om Yudi, semuanya bukan nama sebenarnya) serta yang bungsu perempuan, Tante Mia (juga bukan nama sebenarnya). Usia Tante Mia hanya selisih 7 tahun lebih tua dari aku. Ia cantik, ditambah lagi hidungnya mancung seperti wanita Timur Tengah. Tante Mia kuliah di Bandung. Aku sendiri adalah bungsu dari 3 bersaudara. Kedua kakakku perempuan, sudah menikah dan tinggal di Wonosobo.

Waktu kelas 1 SMP, Tante Mia menikah dengan Om Joni (bukan nama sebenarnya), teman kuliahnya. Setelah menyelesaikan kuliahnya, mereka kemudian tinggal di Jakarta di mana Om Joni bekerja. Menurutku, Om Joni lumayan ganteng. Cocok kalau dapat istri secantik Tante Mia. Sementara aku, begitu lulus SMP di Wonosobo, aku melanjutkan SMA di Jogja. Semula aku kos di sebuah asrama putri dekat sekolahku. Setahun setelah tinggal di Jogja, Tante Mia yang tadinya tinggal di Jakarta, pindah ke Jogja mengikuti suaminya, Om Joni yang ditugaskan di kota Gudeg itu. Oleh ayahku, aku disuruh tinggal bersama Tante Mia, agar ada yang mengawasi dan membimbingku. Semula aku keberatan, namun karena Om Joni dan Tante Mia memaksaku, akhirnya aku pun menyerah pada keinginan mereka.

Tahun-tahun pertama tinggal di Jogja, Om Joni dan Tante Mia mengontrak sebuah rumah, yang menurut ukuranku yang berasal dari desa, tergolong mewah. Maklumlah, Om Joni dipercaya menduduki jabatan Kepala Cabang sebuah perusahaan swasta terkemuka yang berpusat di Jakarta. Meskipun awalnya menolak, tapi lama kelamaan aku betah juga tinggal di rumah Om Joni-Tante Mia. Apalagi aku menempati kamar yang lebih luas dari kamar kosku. Ada TV dan AC yang pula. Waah, senangnya ... Om Joni-Tante Mia benar-benar memperlakukan aku seolah aku anak kandungnya, karena hingga usia perkawinan mereka telah hampir 5 tahun, tapi tak kunjung mempunyai anak.

Hari demi hari berganti, tak terasa aku sudah menginjak kelas 3, semester 2. Aku pun mulai sibuk mempersiapkan diri mengikuti bimbingan belajar (bimbel) setiap hari Senin, Rabu dan Jumat sore agar bisa diterima di universitas negeri impianku di Jogja. Om Joni-Tante Mia lah yang membiaya bimbelku.

Suatu ketika, jadwal bimbel yang seharusnya hari Rabu sore dialihkan ke Kamis sore karena tentorku ada keperluan mendadak. Aku pun langsung pulang. Seperti biasa, untuk menuju kamarku aku harus melalui samping ruang tamu, karena ruang tamu selalu dalam keadaan terkunci, mengingat rumah kontrakan Om Joni-Tante Mia berada di kawasan perumahan baru yang masih rawan kejahatan. Saat melintasi ruang tamu itulah telingaku mendengar suara mendesah di antara sayup-sayup suara TV yang menyala. Dengan rasa penasaran aku mengintip dari balik kaca ruang tamu yang tertutup korden tipis. Ya Tuhan! Aku memekik dalam hati. Di situ aku melihat Tante Mia tengah bersimpuh di depan seorang lelaki yang duduk di sofa. Celana jeans lelaki itu melorot hingga di kakinya dan Tante Mia yang setengah telanjang mengulum dengan buas “milik” lelaki itu ... Kepalaku serasa berkunang-kunang melihat adegan itu. Tante Mia ternyata berselingkuh. Dan ia bebas melakukan itu di rumah karena Om Joni sejak dua hari lalu dinas ke kantor pusat di Jakarta serta mengira aku sedang mengikuti bimbel. Tanpa pikir panjang aku segera pergi meninggalkan tempat itu. Saat itu aku benar-benar bingung, tak tahu apa yang harus kulakukan. Dalam keadaan limbung akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke toko buku di jalan Solo.

Sekitar jam 8 malam baru aku pulang. Seperti yang kuduga, lelaki selingkuhan Tante Mia sudah pergi, karena mereka pasti sudah memperhitungkan jam bubaran bimbelku. Ada rasa jijik ketika melihat Tante Mia waktu itu, tapi kupendam dalam-dalam perasaan itu. Rupanya Tante Mia membaca perubahan sikapku. “Kamu kenapa, Diva? Kok tumben kelihatan lesu,” tanyanya saat kami memulai makan malam. “Ah, aku agak nggak enak badan, Tante,” aku menjawab dengan agak tergagap. Aku lalu minta ijin padanya untuk membawa makan malam ke kamar, karena aku tak tahan harus bersandiwara seperti itu.

Sejak kejadian itu, aku jadi sulit berkonsentrasi. Di satu sisi aku merasa muak pada Tante Mia, tapi di sisi lain aku harus menghormatinya karena ia adalah adik kandung ayahku. Dan satu hal yang sangat mengganggu pikiranku adalah Om Joni. Aku merasa kasihan padanya. Bekerja keras untuk menafkahi istrinya tanpa mengetahui kalau istrinya telah mengkhianatinya. Hari hariku menjadi semakin berat karena aku harus menahan diri dan berpura-pura seolah tak ada apa-apa. Terkadang aku merasa letih harus menjalani hidup penuh kepalsuan seperti itu. Saat kelulusan SMA jadi terasa sangat lama, meskipun sebenarnya hanya tinggal beberapa bulan saja.

Aku bersyukur karena akhirnya aku lulus dan kemudian di terima di universitas negeri. Hanya saja aku tak mendaftar di universitas negeri di Jogja sebagaimana yang kuimpikan dulu. Aku memilih di Purwokerto untuk menghindari Tante Mia. Meskipun sudah tinggal jauh darinya, tapi ternyata pikiranku tentang Tante Mia tak juga sirna. Sejuta pertanyaan masih saja menggelayuti benakku. Kenapa Tante Mia tega melakukan itu, padahal dari segi materi ia sudah lebih dari berkecukupan? Sejak kapan ia mulai berselingkuh? Apakah sejak tinggal di Jogja atau sudah berlangsung ketika ia di Jakarta? Siapa lelaki yang jadi selingkuhannya itu? Bekas pacarnya? Tetangganya? Apa saja yang sudah dilakukannya bersama lelaki perusak rumah tangga orang itu?

Setiap lebaran aku selalu pulang ke rumah ayahku di Wonosobo. Karena ayahku adalah anggota keluarga tertua, maka semua keluarga besarku berkumpul semua di sana. Termasuk Om Joni-Tante Mia. Dan sejak lebaran pertama saat aku sudah tinggal di Purwokerto, aku selalu berusaha menghindari pertemuan dengan mereka. Begitu juga lebaran-lebaran berikutnya. Namun pada lebaran ke sekian (aku sudah lupa sebenarnya lebaran ke berapa) ada perubahan penampilan pada diri Tante Mia. Ia memakai jilbab dan sedang hamil 5 bulan. Kehamilan Tante Mia disambut dengan suka cita oleh seluruh keluarga besarku, tapi tidak olehku. Pertanyaan-pertanyaan yang dulu masih saja menghantuiku dan kemudian muncul tanya baru di benakku, sudah insyafkah Tante Mia? Anak siapa sebenarnya yang ada dalam kandungannya itu? Om Joni kah? Atau lelaki keparat itu?

Meskipun aku berusaha untuk bersikap masa bodoh, tapi rasa penasaran itu sulit kuhilangkan dari pikiranku, terutama ketika bertemu dengan mereka. (**)
readmore »»  

Cara Mengatasi Sifat Posesif yang Berlebihan


Posesif adalah sebuah sikap yang terlalu mengekang, terlalu banyak mengatur, banyak bertanya hingga detil serta cenderung mengintrogasi, dan kuatnya unsur kecurigaan dalam diri. Hal itu dilakukan karena adanya sikap tidak merasa percaya diri pada diri sendiri, takut kehilangan, dan keinginan untuk memiliki yang terlalu kuat dan bahkan keinginan untuk mengekang.

Dalam percintaan, setiap orang baik pria maupun wanita punya potensi menjadi posesif terhadap pasangannya. Posesif sebenarnya merupakan masalah yang umum terjadi pada setiap pasangan. Namun sikap posesif sebaiknya dihindari, apalagi jika tingkatnya sudah parah dan menyebabkan orang tak nyaman berada di dekat pasangannya sendiri.

Apa arti posesif dan apa penyebabnya?


“Posesif adalah suatu keadaan di mana seseorang merasa tidak aman dengan hubungan yang dijalani dan dirinya sendiri. Dia tidak percaya diri dan takut seseorang yang lebih baik merebut pasangannya,” jelas Psikolog Alexander Sriewijono, saat ditemui di Cilandak Town Square, Jakarta.

Contoh umum yang dapat kita lihat adalah: melarang pasangan untuk memiliki teman lawan jenis, mewajibkan pasangan untuk melapor kegiatan sehari-hari dll
Dikutip dari Dating Tips, posesif juga bisa disebabkan karena rasa cemburu yang berlebihan dan ketakutan jika kekasihnya tidak mencintainya lagi. Ketakutan tersebut menyebabkan seseorang selalu ragu dengan kesetiaan pasangannya dan berusaha mengontrol pasangannya. Sikap posesif yang berlebihan tidak membuat pasangan tetap dekat, tapi justru ingin melepaskan diri dari kekangan kekasihnya. Akibatnya, sikap posesif justru paling berpotensi menghancurkan hubungan asmara selama ini.

Beberapa peneliti berpendapat bahwa posesif bisa disebabkan karena trauma masa lalu. Misalnya saja, wanita jadi pencemburu karena pernah diselingkuhi pasangannya. Maka saat menjalin asmara dengan orang baru, ketakutan itu masih ada dan terus membayanginya, sehingga dia akan melakukan segala cara agar kekasih barunya tidak berpaling ke wanita lain.

Bagaimana mengatasi sikap posesif?

Jika Anda merasa memiliki sikap posesif dalam hubungan, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk mengurangi atau menghilangkannya.

Cari Tahu Dari Mana Perasaan Posesif Datang

Ketahui penyebab Anda menjadi posesif. Apakah karena pernah kecewa di masa lalu, pernah dicampakkan atau pernah ada wanita yang menyukai kekasih Anda? Jika telah menemukan penyebabnya, segera introspeksi diri dan berusaha perlahan-lahan lepaskan trauma Anda di masa lalu.

Lepaskan Rasa Takut dan Tidak Aman

Cobalah belajar menghargai diri sendiri dan anggap diri Anda istimewa. Dengan menghargai diri sendiri, Anda akan lebih percaya diri dan yakin bahwa pasangan mencintai Anda karena Anda memiliki sesuatu yang spesial di matanya.

Hilangkan Rasa Ketergantungan dengan Pasangan

Orang yang posesif cenderung selalu merasa tergantung pada pasangannya, sehingga tidak bisa jauh-jauh dari pasangan. Coba beri waktu luang untuk diri Anda sendiri. Ajak teman wanita Anda untuk nonton film di bioskop, belanja, makan atau pergi ke spa bersama. Dengan begitu, Anda pun sadar bahwa ada kehidupan di ‘luar sana’ yang lebih luas daripada dunia Anda dan pasangan. Cara ini bisa menguntungkan kedua belah pihak; Anda dan pasangan. Karena pasangan pun bisa terbebas sejenak dan bisa menikmati ‘me time’ nya sendiri.

Hilangkan Pikiran Negatif

Fokus untuk lepaskan pikiran atau perasaan negatif terhadap pasangan dan diri sendiri. Mengurangi pikiran negatif bisa membuat Anda lebih santai saat menjalin hubungan. (**)

Sumber : kucoba.com
readmore »»  

Respon Atas Curhat “Amburadulnya Negeriku”

MohPahPoh :

Menarik sekali membaca curhat bung Darmawan yang berjudul “Amburadulnya Negeriku”. Saya sependapat dengannya, karena memang begitulah kondisi negeri ini saat ini. Setiap orang seakan-akan merasa berhak untuk memaksakan kehendak/ pendapatnya sendiri, atau mengeruk keuntungan sebesar-besarnya tanpa peduli bagaimana caranya.
Saya pernah berdiskusi dengan beberapa rekan yang sama-sama merasa prihatin pada menurunnya moralitas bangsa ini. Meskipun banyak yang tergerak untuk bertindak nyata menyuarakan keprihatinannya, tapi tak pernah ada respon serius dari pihak terkait. Bagai angin lalu saja. Semuanya sibuk (atau sok sibuk?) dengan urusan masing-masing, dan respon baru muncul setelah terjadi peristiwa. Bencana misalnya. Atau kecelakaan.

Kita biasa hidup dalam tekanan, ketakutan dan penindasan, bekerja jika ada perintah dari penguasa (kolonial).

Mungkin saja semua ini berakar pada sejarah bangsa kita. Tiga ratus lima puluh tahun lamanya kita hidup di bawah penjajahan Belanda, ditambah bonus tiga setengah tahun oleh bangsa Jepang. Waktu selama itu cukup bisa merubah budaya dan perilaku bangsa yang terjajah. Kita biasa hidup dalam tekanan, ketakutan dan penindasan, bekerja jika ada perintah dari penguasa (kolonial). Itulah sebabnya ada istilah kerja rodi atau kerja paksa. Turun temurun hidup dalam situasi seperti jelas akan berpengaruh pada perilaku generasi berikutnya. Seperti api dalam sekam yang sewaktu-waktu akan membakar habis seisi lumbung. Atau bom waktu yang siap meledak.

Nampaknya, tawuran antarwarga atau antarsiswa atau antarmahasiswa dan bahkan antarangggota dewan adalah wujud nyata dari api dalam sekam atau bom waktu itu. Kemerdekaan, atau dalam hal ini kebebasan, benar-benar diartikan sebagai kebebasan untuk melakukan apapun tanpa seorangpun boleh menghalangi, hingga pantas kiranya kalau disebut dengan kebrutalan.

Kenapa waktu kemerdekaan diproklamirkan kebrutalan itu tidak muncul? Bukankah itu saat yang tepat untuk mengapresiasikan kemerdekaan dengan bebas melakukan apapun tanpa tekanan atau tindasan dari kaum penjajah?

Kemungkinan yang paling mungkin adalah kharisma dari seorang Soekarno dan Hatta. Boleh jadi bagi rakyat yang baru merdeka, dua figur itu adalah orang yang paling pantas dihormati untuk membawa mereka pada kehidupan baru sebagai rakyat yang berdaulat, terbebas dari campur tangan pihak luar.

Wujud yang paling nyata dari rusaknya perilaku akibat penindasan bisa kita lihat di jalan raya. Di sana, satu-satunya “penindas” adalah rambu-rambu lalu lintas yang tak lain adalah benda mati. Polisi hanya siaga di titik-titik tertentu saja. Jadi saat kita duduk di jok kendaraan, seakan kebebasan (dalam hal ini bergerak) ada di genggaman kita. Perilaku main serobot, slonong sana slonong sini, melanggar rambu-rambu, sangat umum kita jumpai. Kalau ada polisi saja baru kita tertib. Itu pun belakangan bukan karena takut, tapi enggan mengurus tilang atau mengeluarkan sejumlah uang untuk “damai”. Tak ada sedikitpun kesadaran untuk berlaku sopan dan tertib di jalanan.

Di era orde baru yang berkuasa lebih dari 30 tahun, rakyat merasa seakan kembali tertindas namun dalam wujud yang lebih halus. Pada masa ini api yang nyaris padam kembali memercikkan bara yang kemudian membesar dan memanas di 1998. Terlebih saat mereka kemudian menyadari pemimpin yang baru tidak dapat membawa mereka pada kesejahteraan yang diimpikan. Kepercayaan pada pemimpin bangsa merosot tajam hingga titik terendah. Ini membuat rakyat, mau tak mau, bertindak sendiri dengan cara mereka sendiri agar bisa bertahan hidup di tengah kepincangan ekonomi yang makin “menyakitkan”.

Celakanya, naluri untuk menjadi makhluk merdeka berkembang tak terkendali menjadi perilaku beringas/ brutal di semua aspek kehidupan. Lebih celaka lagi, kebrutalan itu menjadi tontonan yang sewaktu-waktu dinikmati oleh mereka yang tak sepatutnya menyaksikan adegan itu. Lihat saja tayangan di TV. Tawuran massal menjadi konsumsi sehari-hari, dan ini ternyata menjadi guru yang sangat efektif dalam merusak moral anak-anak yang notabene adalah generasi penerus bangsa. Contoh yang paling faktual dari kemerosotan moral usia dini adalah terjadinya tawuran antarsiswa SD. Mereka belajar dari apa yang mereka lihat, baik langsung di TKP maupun melalui TV atau koran.

Aparat penegak hukum seolah tak berdaya menghadapi kasus-kasus kebrutalan di jalanan. Mereka tak lagi disegani. Lihat saja, ada aparat yang dilempar kotoran manusia saat mengamankan demonstrasi mahasiswa yang berujung bentrok. Kenapa demikian? Karena institusi baju coklat ini juga tak luput dari borok yang membuat kepercayaan pada kinerja mereka menurun drastis.

Ironis memang. Di satu sisi, banyak rakyat “berjuang” agar bisa bertahan hidup meski dengan cara-cara ngawur, di sisi lain, segelintir manusia yang seharusnya memperjuangkan nasib rakyat kecil malah lebih ngawur lagi, sibuk menggalang kekuatan demi sebuah kekuasaan, sambil menumpuk harta sebanyak-banyaknya. Bangsa ini sudah terjebak dalam lingkaran setan yang tak berkesudahan. Hanya Tuhan yang bisa merubah semua ini, melalui doa-doa tulus yang kita panjatkan agar bangsa ini tak makin terpuruk lebih dalam di lembah kehancuran. (mp2)
readmore »»