Masa SMA adalah masa yang seharusnya indah dan menyenangkan, tapi bagiku sebaliknya. Aku punya kenangan sedih ketika SMA.
Waktu lulus SMP sebetulnya aku berniat untuk mendaftar di SMA negeri terdekat dengan rumahku yang berada di pinggiran kota Surabaya. Pertimbangan utamanya adalah untuk menghemat ongkos transport. Maklumlah, kedua orang tuaku tergolong ekonomi lemah. Bapakku seorang tenaga honorer di kantor kelurahan, sedangkan ibu berjualan nasi bungkus di depan gang rumahku. Namun karena desakan teman-temanku, aku mendaftar di sebuah SMA yang tergolong favorit. Lucunya, aku diterima, sedangkan beberapa temanku yang mengajakku mendaftar justru gagal.
Sebagai anak orang tak mampu, aku sempat minder bersekolah di situ. Teman-temanku kebanyakan datang dengan diantar mobil, sebagian lainnya naik sepeda motor sendiri. Bahkan ada beberapa yang membawa mobil sendiri. Untungnya mereka semua baik padaku, entah karena tak tahu latar belakangku atau karena memang betul-betul tulus kebaikannya.
Memang ada juga beberapa yang senasib denganku dan kemudian bersahabat denganku. Yang paling dekat denganku bernama Fitri (bukan nama sebenarnya). Dengan Fitri aku sudah seperti saudara sendiri. Kami saling curhat mengenai masalah pribadi tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Ada satu teman sekelas, sebut saja namanya Romy, tiap berangkat dan pulang selalu diantar mobil. Kudengar banyak cewek-cewek yang naksir padanya. Dia inilah yang paling sering jadi bahan obrolan kami. Menurutku, Romy adalah anak yang sombong karena jarang sekali menyapaku, sementara dengan yang lainnya bisa demikian akrab. Tapi Fitri punya pendapat lain. Menurutnya, justru Romy baik dan suka merendah.
“Kamu saja yang sok jual mahal, nunggu disapa duluan sama Romy. Kalau aku belum punya pacar, pasti sudah ikut ngantri jadi pacarnya”, ujar Fitri dengan nada menggoda.
Ia menambahkan, “Kalau memang dia sombong, pasti ke sekolah setir mobil sendiri. Buktinya, lihat saja. Ia diantar jemput ‘kan?”
“Kalau tidak sombong, kenapa ke sekolah nggak naik angkot saja?!”, ujarku sengit, meskipun sebenarnya dalam hati aku bisa menerima pendapat Fitri. Fitri hanya diam mendengar ocehanku. Biasanya ia selalu begitu, karena tak ingin kami jadi ribut.
Namun pendirianku tetap sama, ia sombong. Aku tak mau menyapa duluan karena takut dikira naksir dia. Anggapan itu lama-kelamaan menumbuhkan kebencian dalam diriku. Entah kenapa aku selalu muak setiap kali melihatnya bercanda-canda dengan teman-teman yang lain. Terlebih ia sangat royal, suka mentraktir di kantin sekolah. Pernah suatu ketika kuhardik Fitri saat ia menyeretku untuk ikutan ke kantin karena mau ditraktir Romy saat jam istirahat. Katanya, Romy ulang tahun. Meskipun miskin, aku tak mau makan pemberian orang, begitu kataku kepada Fitri waktu itu. Fitri pun akhirnya mengalah dan menemaniku ngobrol di dalam kelas.
Rasa sebelku makin bertambah waktu kenaikan kelas. Aku dan Romy berada di kelas yang sama. Sayangnya Fitri tidak. Aku ingat betul yang dikatakan Romy saat mengetahui hal itu. “Kamu seneng nggak sekelas lagi sama aku?”, katanya sambil cengar-cengir. Fitri yang ada di belakang Romy ikutan nyengir lebar menggodaku. “Nggak!”, jawabku ketus sambil berlalu dari papan pengumuman. Ia hanya tertawa melihatku. Fitri mencubit lenganku dan mengingatkanku agar tidak bersikap seperti itu.
Suatu pagi, ketika aku membantu ibuku menyiapkan meja dagangan di mulut gang sebelum berangkat sekolah, sebuah mobil mewah berhenti di seberang jalan. Aku tak begitu memperhatikannya. Tapi ketika ada suara seseorang memanggilku, baru aku melihat ke arah mobil itu. Ternyata Romy. Ia menawariku tumpangan dengan berteriak di depan mobilnya berhenti. Aku hanya menjawab singkat “Nggak usah!” lalu meneruskan pekerjaanku. Aku masuk lagi ke gang untuk mengambil dagangan ibuku. Romy tak kuhiraukan. Saat keluar gang, mobil Romy sudah tidak ada.
Gangguan Romy tak berhenti sampai di situ. Waktu bubaran sekolah lagi-lagi ia menawariku tumpangan pulang. Lagi-lagi juga aku menolak. Dikiranya aku tergiur pada mobil mewahnya, pikirku.
Beberapa minggu kemudian, tanpa kuduga-duga, Romy nongol di depan pintu rumahku. Saat itu malam minggu dan aku sedang nonton TV bersama adik-adikku. Aku kaget bukan kepalang. Adik-adikku melongo melihat kehadiran Romy. Semerbak parfumnya menyebar ke dalam rumahku yang kecil dan berhimpitan dengan rumah tetangga. Bukannya mempersilakannya masuk, aku malah berdiri dan keluar rumah. Ia ingin mengajakku makan di luar dan saat itu teman-teman yang lain sudah menunggu di restoran, jawabnya ketika kutanyakan maksud kedatangannya. Tanpa pikir panjang langsung kutolak ajakan Romy. Kukatakan kalau aku mengantuk dan mau tidur. Romy sempat memaksaku tapi akhirnya menyerah karena kutinggalkan begitu saja masuk ke dalam kamar.
Saat berbaring di ranjang, aku menyesali perbuatanku. Kupikir-pikir, tak pernah sekalipun ia menyakitiku. Aku saja yang kelewat gengsi untuk menutupi kekuranganku. Kebencian yang kupupuk dalam hatiku semata-mata mungkin karena rasa iri melihatnya begitu populer di sekolah yang kutafsirkan karena ia anak orang kaya. Jika miskin, mungkin akan seperti aku yang terkungkung dalam rasa minder yang berlebihan yang membuatku membatasi diri dalam pergaulan di sekolah.
Aku tak berani menceritakan kedatangan Romy ke rumahku kepada Fitri. Aku enggan jadi bahan candaannya yang akan didengar teman-teman yang lain, apalagi Romy.
Hari-hari berikutnya di sekolah, kuperhatikan Romy agak lebih pendiam dari biasanya. Aku sering memergokinya sedang murung, sementara teman-temanku lainnya bercanda ria. Apa karena aku telah menyakiti hatinya, pikirku. Tapi, meskipun aku berusaha untuk tidak peduli, tetap saja pikiran itu menghantuiku. Keseringan memikirkan Romy berdampak buruk pada diriku. Di luar kesadaranku, aku jadi suka membayangkan berpacaran dengannya di sebuah taman penuh bunga. Kemudian ia menciumku dengan lembut. Setiap kali muncul khayalan itu, aku mengutuk dalam hati. Membodoh-bodohkan diriku sendiri yang membiarkan larut dalam jebakan asmara Romy. Bisa jadi, murungnya itu hanya sebagai penarik simpatiku agar aku minta maaf padanya.
Setiap menjelang tidur, perang batin berkecamuk dalam diriku. Kadang aku mempertanyakan pada diriku sendiri, kenapa waktu itu ia berhenti di seberang jalan untuk mengajakku pergi ke sekolah bersama-sama, sedangkan itu bukan jalur dari rumahnya ke sekolah? Kenapa ia mau menjemputku malam minggu itu untuk makan bersama-sama dengan teman-teman yang lain, padahal ia bisa langsung ngomong padaku atau Fitri di sekolah tanpa perlu repot-repot menjemputku?
Pertanyaan-pertanyaanku memang terjawab dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama, tapi dalam situasi yang membuatku menyesal seumur hidup. Penyesalan yang terlambat dan hingga kini masih sering meresahkan pikiranku, terutama saat reunian.
Betapa tidak. Malam itu, hari Jumat, sekitar jam 8, Romy datang lagi ke rumahku. Terus terang, bukan lagi sebel yang muncul dalam hatiku, tapi berbunga-bunga. Entah kenapa, untuk pertama kali sejak mengenalnya aku jadi berubah seperti itu. Tapi aku gengsi menunjukkannya. Sikap yang kutunjukkan padanya justru sebaliknya. Dengan muka masam kutanyakan apa keperluannya malam-malam datang ke rumahku. Ia bilang mau pinjam bukuku untuk melengkapi catatan pelajarannya.
Sesaat aku sempat heran ia mengenakan jaket, padahal sebelumnya tidak pernah. Masak naik mobil pakai jaket tebal seperti itu, pikirku nyinyir. Aku bergegas masuk kamar untuk mengambil buku yang ia maksud, tanpa menyuruhnya duduk. Ia berdiri saja di depan pintu rumahku. Kudengar ia menyapa adik-adikku yang sedang mengerjakan PR di lantai.
Kuberikan bukuku padanya. Kulihat ia jadi salah tingkah dan tak bicara apa-apa ketika kutanyakan apalagi buku yang mau dipinjamnya. Karena ia diam, akupun ikut diam sambil menyandarkan bahuku ke pintu. Tak dapat kusangkal kalau jantungku berdebar saat mencuri pandang dirinya.
Jantungku makin berdetak tak karuan saat ia bilang ingin mengajakku jalan-jalan malam minggu besoknya. Tapi aku berusaha menahan diri agar tak terlihat ‘excited’ menjawab ajakannya. Aku bilang, “Lihat-lihat besok lah. Kalau aku nggak ada acara”. Kulihat matanya berbinar mendengar jawabanku yang mungkin diartikan aku setuju.
Aku yang penasaran kenapa ia memakai jaket diam-diam mengikutinya hingga ke ujung gang. Aku nyaris tak percaya kalau ternyata ia naik sepeda motor untuk ke rumahku, padahal rumahnya lumayan jauh. Buru-buru aku sembunyi di balik gerobak bakso saat ia menaiki motornya dan berlalu hingga hilang dari pandanganku. Tumben, pikirku.
Seperti yang sudah-sudah, kurahasiakan kedatangan Romy ke rumahku, juga ajakannya untuk jalan-jalan malam minggu, kepada Fitri. Sebetulnya aku ingin sekali cerita, tapi kutahan. Daripada digojlok habis-habisan olehnya, lebih baik aku diam. Lebih baik kunikmati sendiri getar-getar aneh dalam hatiku yang makin hari makin sulit menghilangkan Romy dari benakku.
Yang membuat hatiku melambung ke langit, Romy mengembalikan buku catatanku sambil berpesan kalau ada sesuatu di dalamnya. Karena penasaran, kubuka halaman demi halaman mencari “sesuatu” yang dimaksud Romy. Di halaman tengah kutemukan secarik kertas bertuliskan “I love you” dengan gambar sekumpulan bunga membentuk lambang hati. Usai kubaca, kulihat Romy keluar kelas karena saat itu jam istirahat. Cepat-cepat kulipat kertas itu dan kumasukkan ke dalam kantong tas begitu
Ada yang tak biasa yang kurasakan ketika Sabtu pagi tiba. Sekolahku libur, tapi aku merasa tak senang, padahal biasanya tak sabar menunggu hari Sabtu dan Minggu. Wajah Romy terus saja menghiasi pikiranku. Aku takut mengakui kalau aku jatuh cinta padanya, tapi merasa kehilangan jika sehari saja tak bertemu. Makin siang aku makin gelisah. Rasanya lama sekali datangnya malam hari. Aku juga bingung mencari-cari baju yang cocok untuk pergi dengan Romy.
Begitu usai sholat Maghrib aku sudah sibuk di depan cermin, mematut-matut diriku dengan baju yang kukenakan. Adik-adikku yang tak biasa melihatku seperti itu keheranan menatap tingkahku. Mereka tak beranjak dari pintu kamarku meski ibuku beberapa mengatakan agar tak menggangguku.
“Mbak Layla mau pacaran. Kalian main di luar sana”, kata ibu menggodaku. Aku hanya bisa merajuk malu.
Usai berdandan, aku nonton TV di ruang tamu ditemani adik-adikku. Belum lama aku duduk, tiba-tiba hujan menguyur dengan derasnya. Aku yang sejak tadi berdebar-debar makin sulit menyembunyikan keresahanku. Bapak yang sibuk mengutak-atik motor bututnya menyuruhku untuk menyiapkan payung. Batinku yang tak tenang enggan beranjak dari kursi. Kusuruh adikku untuk mengambilkannya.
Hingga jam setengah sembilan malam tak ada tanda-tanda kedatangan Romy. Hanya gemuruh suara atap rumah tertimpa air hujan yang terdengar, bersaing dengan suara TV yang dikencangkan suaranya oleh adikku.
Satu jam kemudian aku masuk kamar untuk berganti baju. Setelah itu kuhempaskan diriku di kasur karena kesal. Betapa tidak, saat aku tak mengharapkan kehadirannya, Romy datang, tapi begitu ditunggu-tunggu tak juga nongol. Dugaan-dugaan buruk segera saja mencuat di benakku. Mungkin saat itu Romy tengah tertawa terbahak-bahak bersama teman-temannya karena berhasil mempermainkan aku sebagai balas dendam atas sikapku padanya selama ini. Kuambil secarik kertas pemberiannya dan kurobek-robek hingga menjadi serpihan kecil, lalu kubuang ke luar jendela. Derasnya hujan membuat serpihan kertas itu langsung hanyut ke got dan lenyap.
Malam itu aku tak bisa tidur. Rasa marah dan malu campur aduk jadi satu. Aku mengutuk kebodohanku sendiri yang membiarkan diriku larut dalam permainan Romy yang membuat timbulnya secercah harapan untuk jadi pacarnya malam itu.
Pagi harinya, ketika sedang membantu ibuku mengatur dagangannya, Fitri datang dibonceng pacarnya. Matanya basah oleh air mata. Dengan tergopoh-gopoh ia mendatangiku dan langsung memelukku. Tangisnya tumpah. Kuusap-usap punggungnya untuk menenangkannya. Kupikir ia ribut lagi sama pacarnya. Kulihat Yusuf (nama samaran), pacar Fitri, hanya duduk saja di motornya sambil memandangi kami.
“Ada apa lagi, Fit? Ribut lagi sama Yusuf ya?”, bisikku di telinganya.
“Romy, La. Romy meninggal …”, kata Fitri terbata-bata. Bagai disambar petir rasanya waktu itu. Tapi aku masih berusaha untuk tenang.
“Jangan bercanda kamu, Fit”, ujarku. Suaraku parau.
Kemudian Fitri mengajakku duduk di bangku panjang tempat biasa ibuku duduk menunggu pelanggan. Tubuhku terasa limbung ketika Fitri menceritakan kalau semalam Romy mengalami kecelakaan sepeda motor. Motor milik sopirnya itu dipinjamnya untuk pergi ke suatu tempat. Tak ada satupun keluarganya yang tahu ke mana tujuannya.
Spontan pandanganku gelap. Aku pingsan. Begitu sadar, aku sudah berada di kasur kamarku. Kulihat bapak, ibu, Fitri dan pacarnya memandangiku. Ibu memberiku segelas air putih. Ternyata saat aku tak sadarkan diri, ibu cerita kalau Romy sudah dua kali datang ke rumahku dan terakhir mengajakku jalan-jalan malam Minggu. Ajakan yang tak pernah terpenuhi. Fitri menyesalkan kenapa aku tak pernah cerita padanya. Kata Fitri, seandainya ia tahu sejak awal, ceritanya akan lain. Ia akan dengan senang hati membantuku jadi comblang. Tapi karena aku selalu bersikap ketus pada Romy, ia urungkan niatnya.
Setelah aku cukup kuat berdiri, bapak memboncengku mengikuti Fitri dan Yusuf menuju rumah Romy. Di sana sudah ramai orang. Kulihat teman-teman sekolahku bergerombol di salah satu sudut halaman rumah Romy yang luas. Semua teman cewek menangis, sementara yang cowok tertunduk sedih. Tak ada yang bicara saat aku datang. Aku langsung masuk ke dalam ruang tamu bersama Fitri di mana jenazah Romy terbaring. Air mata yang kutahan sejak dalam perjalanan tak dapat lagi kubendung. Isak tangisku meledak saat kusalami kedua orang tua Romy dan keluarganya yang ada di sekeliling jenazah.
Dalam hati aku berjanji akan rajin mengunjungi makam Romy kelak, tapi dugaanku meleset. Hari itu jenazah Romy diterbangkan ke Ujung Pandang untuk dimakamkan di makam keluarganya di sana. Kupendam dalam-dalam rasa kecewaku.
Beberapa hari setelah Romy tiada, teman-teman sekelas masih ramai membicarakan perilakunya yang tak biasa akhir-akhir ini. Menurut informasi yang mereka dapatkan dari pihak keluarga, diam-diam Romy minta sopirnya mengajari mengendarai sepeda motor. Kata sang sopir, Romy ingin sekolah naik motor sendiri agar tidak dikira sombong. Aku yang mendengar itu jadi diliputi rasa bersalah yang amat sangat. Untung ada Fitri yang selalu menghibur dan membesarkan hatiku dengan mengatakan kalau semua itu adalah takdir Allah.
Kini, aku sudah menikah dan punya satu anak. Tapi kisah cintaku yang tak kesampaian dan berakhir tragis rasanya sulit sekali kulupakan. Terutama jika saat aku berkumpul dengan mantan teman-teman SMA-ku. (*)
Jika Anda berminat mengirim curhat, klik di sini.

