Mobil Angker

Dharnoto, 57 tahun, Kontraktor, Surabaya:

Sebagai orang yang berprofesi sebagai kontraktor, aku banyak mengunjungi kota-kota yang jauh dari kota asalku, sesuai dengan proyek yang kudapatkan. Salah satunya adalah Pekanbaru.

Aku dapat proyek pembangunan kantor di Pekanbaru atas tawaran Bambang, sahabatku semasa kuliah dulu, yang tinggal di sana dan tahu kalau aku jadi kontraktor.

Di Pekanbaru aku mengontrak sebuah rumah dekat lokasi proyek yang kutinggali bersama 1 orang staf dan 2 mandor, sementara para buruh bangunan menempati barak di lokasi proyek.

Untuk mendukung mobilitas, aku menyewa beberapa mobil. Satu untuk kupakai sendiri, sebuah minibus, sedangkan lainnya ada truk kecil dan pick up.

Minggu ke dua di Pekanbaru aku mendapat laporan dari salah satu buruh bangunan, namanya Joko. Kata Joko, malam sebelumnya ia terbangun karena ingin buang air kecil yang lokasinya di luar barak. Ketika membuka pintu, ia melihat salah mobil operasional proyek jenis L-300 pick up berkedip-kedip lampu sen-nya. Ia mengira terjadi korslet (arus pendek), tapi ia tak bisa berbuat apa-apa karena ketika hendak mematikan lampu sen, pintu mobil dalam keadaan terkunci. Ia khawatir batere mobil (accu) habis gara-gara itu. Ia tak berani menghubungiku karena kejadiannya tengah malam. Begitu Joko selesai buang air kecil, dilihatnya lampu sen mobil itu sudah mati.

Mendengar cerita Joko, aku langsung perintahkan Toro, salah seorang stafku yang paham soal mobil, untuk memeriksa. Anehnya, mobil bisa langsung hidup saat Toro menstarternya. Artinya, batere mobil dalam keadaan baik-baik saja. Lebih aneh lagi, tuas untuk menyalakan lampu sen dalam keadaan off.

Kejadian itu pun kemudian terlupakan, seiring dengan kesibukanku pada proyek.

Satu minggu kemudian, aku dapat laporan lagi dari Joko. Kali ini ia tidak menemuiku sendiri, melainkan dengan 3 buruh lainnya, nama salah satunya adalah Burhan, sedangkan yang 2 lagi aku lupa. Mereka merasa terganggu ketika malam sebelumnya klakson L-300 yang beberapa kali berbunyi. Kadang pendek, kadang panjang. Mereka yang malam itu sedang ngobrol sambil nonton TV mengira aku datang ke lokasi proyek dan minta dibukakan pintu gerbang. Tapi ketika Burhan, salah seorang buruh,melongok ke ke di antara sela-sela pagar gerbang proyek, ia tak melihat siapa pun di luar.

Begitu Burhan masuk ke barak, kembali terdengar suara klakson. Dengan hati dongkol ia keluar lagi untuk memeriksa asal suara itu. Ternyata dari mobil L-300 yang kemarin menyala lampu sen-nya. Saat menatap ke arah mobil itu Burhan seperti melihat ada sesosok manusia di dalam mobil. Ia panggil Joko dan beberapa rekan sebaraknya untuk melihat juga. Begitu salah seorang dari mereka menyebut “hantu” spontan mereka berhamburan keluar lokasi proyek dan berpindah tidur di trotoar di depan proyek. Tapi malam itu mereka tak bisa tidur, karena asyik membicarakan kejadian yang mereka alami.

Berdasarkan cerita Joko dan rekan-rekannya itu, aku pun berinisiatif untuk membawa L-300 itu ke pemiliknya untuk klarifikasi.

Semula agak sulit mengorek keterangan dari pemilik mobil, sebut saja namanya pak Handoko (karena saya lupa nama sebenarnya). Ia bersikeras kalau mobilnya tidak ada masalah. Namun setelah kudesak dengan sedikit mengancam kalau terjadi lagi peristiwa yang meresahkan buruhku aku akan kembalikan mobil itu tanpa mau membayar kekurangan sewanya, akhirnya ia mau cerita.

Menurut pak Handoko, sebulan sebelum kusewa, mobil itu disewa seseorang untuk dibawa ke Lampung. Sepulang dari Lampung mengalami kecelakaan. Kerusakannya tak seberapa parah, tapi sopirnya, sebut saja namanya Teguh, tewas. Dari botol minuman keras yang ditemukan dalam mobil serta pemeriksaan di speedometer, polisi menduga ia dalam keadaan mabuk dan ngebut hingga berakibat menabrak tiang listrik tepat di posisi sopir.

Pak Handoko akhirnya mengganti dengan mobil lain. Ketika proyek selesai kukembalikan mobil ke pak Handoko. Saat itu cerita kalau mobil “angker” itu telah dibawa ke paranormal untuk “membersihkannya” dari gangguan mahkluk halus. Sejak itu memang tidak ada gangguan lagi, kata pak Handoko. (*)

Seperti diceritakan ybs kepada Tim JBSS.

readmore »»  

Masa Kelamku

Ferdi Ahmad (nama samaran), 21 tahun, Karyawan Swasta, Surabaya:

Jika aku mengingat tanggal 4 Januari 2010, sungguh aku ingin menjerit, berteriak sekeras mungkin. Ingin rasanya aku kembali pada masa itu dan tak melakukan hal bodoh yang ternyata akan menghancurkan masa depanku sendiri.

Sebelumnya,kenalkan namaku Ferdi Ahmad (nama samaran), 21 tahun. Kini aku bekerja di Surabaya, di salah satu perusahaan terbesar di Indonesia.

Kisah ini kualami pada saat aku masih duduk di bangku salah satu SMK negeri di Bojonegoro, Jawa Timur. Berawal dari kisah cinta ku bersama gadis bernama Suci (nama samaran) yang tak lain adalh adik kelasku sendiri. Aku menjalin hubungan dengannya saat duduk di kelas 3 dan usiaku 17 tahun saat itu.

Suci adalah gadis yang paling cantik di sekolahku. Wajah ayu dan lembut, kulit putih,dan tubuhnya begitu indah,sehingga tak heran banyak lelaki di sekolahku yang berusaha mendapatkan cintanya. ia begitu dipuja para lelaki di sekolahku dan dikenal di sekolah lain di Bojonegoro.

Sebetulnya aku juga mengaguminya, tapi aku tidak pernah ada niat untuk menjadi pacarnya, karena kecil kemungkinan ia memilihku sebab banyak yang lebih sempurna dari pada aku.

Langsung saja kisah kelamku ini aku mulai.

Berawal dari keisenganku minta nomor HP Suci dari temanku. Begitu mendapat nomornya, aku akhirnya bisa komunikasi dengan Suci. Ternyata responnya padaku juga bagus. Mungkin karena aku termasuk siswa populer di sekolahku, baik karena prestasiku sehingga mendapatkan beasiswa dari sekolah, maupun penampilan fisikku yang kata teman-temanku lumayan ganteng dan serasi dengan tinggi badanku yang 173cm.

Sebetulnya waktu itu Suci sudah punya pacar, tapi aku tak begitu mempedulikannya. Prinsipku, sepanjang “janur belum melengkung” (istilah untuk orang yang sudah menikah), siapapun bebas mendekatinya. Begitu pula denganku.

Beberapa bulan kemudian, kudengar kalau Suci putus dengan pacarnya. Kesempatan ini tak kusia-siakan. Saat ada kesempatan berdua dengannya, langsung saja “kutembak” dia. Dan aku senang karena cintaku tak bertepuk sebelah tangan. Akhirnya kami pun jadian.

Kira2 - 3 bulan kami berpacaran, kami melakukan hal yang sangat dilarang oleh agama. Kami terbuai oleh nikmatnya madu cinta yang memabukkan hingga terjerumus dalam hubungan suami istri. Inilah awal petaka masa depan kami.

Kami adalah korban kemajuan teknologi yang tak didukung dengan pendidikan moral yang memadai. Maklumlah, dari kecil aku hanya dirawat oleh kakek dan nenekku karena ayah dan ibu bercerai. Di lain pihak, Suci sejak kecil ia ditinggal mati ayahnya karena serangan jantung, sehingga ia hidup dengan ibu dan ayah tirinya.

Dan, ini mungkin keegoisan dan kebodohanku, karena aku merekam adegan ranjangku dengan Suci. Sebenarnya Suci keberatan dengan tindakanku itu, tapi aku meyakinkannya kalau rekaman video itu hanya untuk dokumentasi pribadiku.

Terakhir kali kami melakukan hubungan intim hari Minggu saat kakek dan nenekku sedang tidak ada di rumah. Sekali lagi kami hanyut dalam lautan nafsu birahi yang bergejolak selama tak kurang dari 30menit lamanya. Aku bahagia sekali punya pacar Suci yang mau mengimbangi gairahku yang menggebu-gebu.

Namun kebahagiaan yang kami rasakan itu berubah menjadi bencana yang tak pernah kami bayangkan sebelumnya. Keesokan harinya, saat upacara dilakukan sweeping HP. Tas seluruh siswa diperiksa satu per satu untuk mengetahui ada tidaknya HP di sana.

Awalnya aku sedikit tenang, karena HP-ku kukantongi di saku celana. Namun jantungku berdegup kencang manakala dilakukan penggeledahan ke setiap siswa. Tak ayal, Pak Hari (nama samaran), salah satu guru yang turut bertugas menggeledah mengetahui aku membawa HP dari kantong celanaku yang menonjol. Tentu saja aku panik saat itu dan berusaha mengelak, Tapi kemudian aku didatangi seorang guru lagi (sebut saja namanya pak Yono) untuk membantu pak Hari.

Sempat kulirik Suci yang berdiri di barisan depan. Wajahnya tampak tegang menatapku. Secara refleks kulempar HP-ku jauh-jauh keluar pagar. Melihat reaksiku itu, pak Hari langsung menamparku, sementara pak Yono mencengkeram erat kedua tanganku. Aku sempat protes karena tidak semestinya mereka melakukan hal itu. Sebagai guru, mereka harus menjadi orang yg dapat dicontoh oleh anak didiknya. Tapi protesku tak digubris.

Setelah mencari-cari di rerumputan di luar pagar sekolah, akhirnya pak Hari menemukan HP-ku. Ia langsung membuka file-file yang ada di sana dan menemukan video pribadiku bersama Suci. Lantas,ia berikan saat itu juga kpd pakdeku yang menjabat sebagai Kepala Sekolah di sekolahku.

Ya Allah, ingin aku menangis saat mengingat kejadian itu. Dunia serasa kiamat. Pakde memanggilku ke depan lapangan upacara pada waktu upacara selesai. Di depan para siswa dan guru pakdeku melayangkan pukulan dengan penuh emosi menggunakan sepatunya. Aku hanya bisa pasrah saat sepatunya mendarat di tubuh dan pipi kiriku, Sungguh hal yang sangat memalukan bagiku dan juga bagi beliau.

Pukul 10 pagi hari berikutnya aku mendatangi kantor kepsek bersama dengan ayahku. Di situ pak kepsek lagi-lagi meluapkan emosinya,dengan memukuliku, tapi untung ayah segera melerai hingga tidak berlanjut. Aku hanya bisa menangis dan meminta maaf.

“Ferdi, kamu telah melakukan kesalahan yang sangat fatal dan memalukan. Ini sudah di luar batas kemampuanku untuk mempertahankanmu agar tetap sekolah disini. Dan hasil meeting bersama guru tadi pagi, memutuskan agar kamu dikeluarkan dari sekolah ini. Maafkan pakde, Fer", ujar pakde. Nada suaranya melunak. Tampak olehku sudut matanya basah berlinang air mata.

Astaghfirullah, aku serasa kehilangan hidupku, kehilangan semangatku. Aku merasa tiada lagi masa depan.

Sejak berita video intim kami itu menyebar, baik aku maupun Suci jadi bahan pergunjingan dan olokan teman-teman. Dan sebagai perempuan, Suci lah yang paling tertekan batinnya meskipun ia diberi kesempatan untuk menyelesaikan pendidikan hingga akhir semester dan mempunyai opsi untuk dipindahkan ke sekolah lain. Ia terus menangis karena malu dan batinnya dipenuhi dengan sesal. Tak ada lagi keceriaan dalam dirinya. Sekolah yang dulu ia anggap sebagai surga kini menjadi sebuah tempat yang mengerikan.

Teman-temannya mengucilkannya, sementara sahabat yang dulu ia kenal baik pun mulai menjauhinya. Tidak sedikit tatapan sinis dan cibiran yang ia dapatkan. Belum lagi tekanan dr siswa lelaki.

Akhirnya, setelah semesteran berakhir, ia memilih untuk tidak melanjutkan sekolah.

Bagaimana dengan aku? Sejak kasus itu merebak aku tinggal di rumah ayah di Surabaya. Tapi bukan berarti hidupku tenang. Rasa malu, sesal, dan marah pada diriku sendiri teus berkecamuk menghantuiku siang malam. Aku seperti mau gila rasanya.

Pernah kucoba untuk mengakhiri hidup, namun dapat digagalkan oleh kakak perempuanku. Dialah yang terus memotivasi dan memberi semangat padaku.

Berkat ketekunan kakak perempuanku, perlahan-lahan aku mulai dapat menerima keadaan ini. Namun saat terlintas dalam fikiranku kejadian waktu upacara hari itu, aku merasakan perih, pedih, seperti luka tersayat silet yang disiram air garam. Itulah gambaran pedihnya hatiku.

Malu, itu yang kurasakan saat pulang ke Bojonegoro. Seisi kampungku telah mengetahui semuanya. Namun beritanya sudah menjadi bias, karena ternyata ada beberapa versi yang dikarang atau dibuat-buat oleh orang-orang yang tak menyukaiku hingga memperkeruh suasana. Hal ini kian memberatkan beban fikiranku.

Bulan April 2010, atas kesepakatan antara orang tua Suci dan orang tuaku, aku menikahi Suci. Saat itu adalah saat menjelang Unas. Semua teman sekolahku sibuk mempersiapkan diri menghadapi Unas. Kembali kurasakan pedih dalam hatiku melihat keadaan ini.

Itulah sepenggal kisahku, dengan harapan bisa diambil hikmahnya buat teman-teman pembaca blog ini. Akhir kata, ijinkan aku yang telah berlumur dosa ini memberikan sedikit pesan. Perkuatlah selalu iman agar tidak mudah terjerumus pada lembah kenistaan. Jangan salah gunakan kemajuan teknologi, tapi justru jadikanlah teknologi sebagai pemacu prestasimu.

Kisahku tak lantas berhenti sampai di sini. Masih ada sepenggal kisah lagi setelah pernikahanku dgn Suci. Mungkin di lain kesempatan aku akan menceritakannya. (*)
readmore »»  

Penjahat Kelamin

Hendra, 37 tahun, Karyawan Swasta, Malang:

Waktu SMP dulu aku pernah punya sahabat dekat, namanya Gito (nama samaran). Kami akrab hanya sampai kelas 1 saja, karena kelas 2 tidak sekelas. Di kelas 2 kelakuan Gito sangat berubah. Ia yang tadinya pemalu dan cenderung menutup diri, berubah 180 derajat menjadi sangat badung. Itulah sebabnya ia tidak naik kelas waktu kenaikan ke kelas 3.

Begitu aku lulus SMA kami tak pernah lagi bertemu, hingga waktu aku kuliah semester terakhir. Waktu itu ada reuni SMP. Gito datang dan langsung memelukku begitu melihatku. Gito benar-benar tidak seperti Gito yang kukenal dulu. Ngomongnya ceplas-ceplos, bahkan terkadang seperti menyombongkan diri. Logat bicaranya juga sudah kejakarta-jakartaan. Pakai lu-gue. Ia memang melanjutkan kuliahnya di Jakarta.

Sepulang dari reunian, Gito mampir ke rumahku untuk ngobrol lebih banyak lagi. Dan bahan obrolan yang paling seru adalah petualangan cintanya. Menurut cerita Gito, saat itu sedang menjalin hubungan dengan mahasiswi sekampusnya. Ia mengaku sudah biasa melakukan hubungan seks dengan pacarnya itu. Yang bikin aku geleng-geleng kepala, tante pacarnya pun ditidurinya juga! Gila betul anak ini. Ketika kutanya, kenapa nggak ibunya sekalian ditiduri, ia menjawab dengan enteng, “Kalo ibunya cakep sih gua mau!”.

Gito mengaku terus terang kalau ia rajin mengkonsumsi obat kuat dan tetek bengeknya yang membuat perempuan ketagihan. Bilang dihitung-hitung, sudah lebih dari 20 perempuan yang pernah ditidurinya sejak ia tinggal di Jakarta. Mulai dari mahasiswi, karyawati, sampai tante-tante kesepian. Aku sudah benar-benar tak mengenal Gito lagi. Gito yang lugu, rajin beribadah, dan sopan telah berubah drastis.

Setelah pertemuan malam itu, aku tak pernah lagi bertemu dengan Gito.. Hingga beberapa bulan yang lalu ia tiba-tiba nongol di rumahku. Ia dapat informasi alamatku dari ibuku. Waktu itu malam minggu. Ia mengajakku keluar untuk makan. Sebetulnya aku enggan, karena aku baru sehari sebelumnya datang dari tugas ke luar kota dan ingin menghabiskan waktu bersama istri dan 2 anakku. Tapi karena Gito mendesak terus, kuturuti juga ajakannya.

Gito datang ke Surabaya untuk urusan bisnis. Ia mengendarai sendiri mobilnya, sebuah sedan mewah keluaran terbaru berplat nomor Jakarta.

Di restoran, Gito cerita kalau ia sekarang berbisnis batu bara. Dulu pernah kerja di perusahaan swasta nasional, tapi berhenti karena bisnisnya maju pesat. Selain itu, ia merasa tak leluasa bergerak jika jadi pegawai. Ia menikahi pacar terakhirnya waktu kuliah dan punya 3 anak.

Dengan statusnya itu kukira Gito sudah berubah. Ternyata tidak. Ia masih suka bertualang mencari perempuan. Ia mengaku, yang jadi sasaran adalah ibu rumah tangga dan itu sudah menjadi tren di kalangan pergaulannya. Aku mengelus dada mendengar ceritanya. Gito merasa bangga jika berhasil menaklukkan perempuan berstatus ibu rumah tangga yang dikenal, baik lewat facebook maupun jumpa darat, di mall misalnya.

Gito juga mengaku, teman SMP kami yang dijuluki primadona sekolah waktu itu, sebut saja namanya Dewi, tak luput dari sasarannya. Katanya ia sudah melakukan hubungan badan dengan Dewi 2 kali. Setiap ia ke Solo, kota di mana Dewi berdomisili saat ini, selalu menyempatkan diri mengajak Dewi ke hotel. Padahal, kata Gito, Dewi sudah punya anak 3. Ia berencana mampir Solo sepulang dari Malang, khusus untuk bertemu Dewi.

Geram aku mendengar ocehan Gito, hingga terucap olehku kalau ia seorang “penjahat kelamin sejati”. Ia hanya tertawa mendengar ucapanku. Tertawanya makin lebar saat aku mengingatkannya agar bertobat sebelum terlambat sambil menimpali, “Sok alim lu, Ndra! Mumpung masih muda, enjoy aja lagi. Entar deh kalo nggak bisa ng***ng (ereksi) lagi baru tobat.”

Dalam pandanganku, Gito seperti kerasukan setan. Wajahnya memang di atas rata-rata, tapi yang kulihat padanya adalah wajah iblis. Mengumbar maksiat di mana-mana tanpa rasa berdosa, seolah akan hidup selamanya. Entah berapa banyak orang bejad seperti Gito di dunia ini? Bagiku, maling ayam jauh lebih terhormat dari mereka.

Saat itu aku berpikir, dengan uang yang dimilikinya, ia bisa mendapatkan apapun yang diinginkannya. Termasuk kehangatan tubuh perempuan. Tapi ia mungkin lupa kalau semua itu adalah atas kemurahan Tuhan. Tuhan melimpahkan rezeki padanya sebagai ujian, apakah ia bisa menggunakan dengan benar atau sesat. Ia mungkin lupa kalau kematian akan datang tanpa peringatan.

Semoga saja Gito segera sadar dan bertobat, karena kalau Tuhan murka, entah apa yang terjadi padanya. (*)
readmore »»  

Aku Bukan Perempuan Murahan

Rosita (nama samaran), 33 tahun, Surabaya:

Aku menikah di usia yang sangat muda, yaitu 18 tahun, karena MBA (married by accident). Pacarku (sebut saja namanya Mono) menghamiliku dan ia mau bertanggung jawab. Tapi pernikahanku tak berjalan lama. Hanya 10 bulan, karena setelah bayiku lahir, Mono menceraikanku atas desakan orang tuanya. Mono melanjutkan kuliahnya di Jakarta sementara aku tetap di desa di daerah Ponorogo, sebuah kota kecil di Jawa Timur, merawat bayiku.

Saat anakku mencapai usia 1 tahun aku meninggalkannya untuk merantau ke Surabaya. Kuserahkan perawatan anakku pada kakak kandungku. Aku diajak teman satu desa yang bekerja di sebuah pabrik. Hanya 2 bulan aku bekerja dan karena tak betah dengan kondisi di pabrik itu, aku keluar.

Beruntung tak sampai 2 minggu aku luntang-lantung cari kerja, aku bertemu sahabatku waktu SMP. Ia tahu alamatku dari teman satu desa yang mengajakku kerja di pabrik. Ia mengajakku kerja di panti pijat. Karena aku punya keahlian memijat kuterima dengan senang hati tawaran itu.

Kukira panti pijat yang dimaksud temanku adalah panti pijat tradisional, ternyata bukan. Tempatnya memang bagus. Ada AC di setiap ruangan. Pegawainya pun perempuan-perempuan muda. Aku mendapatkan pelanggan pertama seorang laki-laki agak tua dan gemuk. Tampaknya ia tahu kalau aku orang baru di situ dan ingin mencoba pijatanku. Ternyata ia suka dan selalu memilihku jika ia datang ke panti.

Makin lama pelangganku makin banyak. Begitu juga uang yang kuhasilkan dari tip. Aku bisa mengirim ke desa untuk perawatan anakku lebih banyak dari sebelumnya. Tapi yang membuatku harus menahan diri adalah ulah dari pelanggan yang aneh-aneh.

Ada saja permintaan mereka yang kuanggap melecehkan. Layanan plus istilahnya, seperti minta dioral, menyuruhku memijat dengan hanya memakai pakaian dalam, dan bahkan ada yang mengajak berhubungan intim di situ dengan iming-iming bayaran tambahan. Tak jarang aku marah kepada pelanggan yang sengaja mencolek bagian sensitif tubuhku.

Dari hasil bertukar cerita dengan teman-teman seprofesiku, merekapun sering mengalami hal serupa. Tapi mereka tak peduli. Yang penting dapat tip besar. Ada yang terang-terangan cerita kalau ia bersedia melakukan hubungan badan dengan pelanggan di kamar pijat. Ada juga yang sekedar oral. Semua itu demi mendapatkan tambahan penghasilan.

Tapi itu bukan berarti aku yang paling suci di antara mereka. Maklum, sebagai manusia normal, apalagi sudah pernah berhubungan badan, pastilah hasrat untuk itu muncul sekali waktu.

Ada satu pelangganku, sebut saja namanya pak Ronal, sangat ganteng. Badannya atletis dan kulitnya putih bersih. Saat melihatnya aku merasa kesengsem padanya, apalagi saat tanganku mulai menyentuh tubuhnya. Ia sudah 3 kali datang dan selalu memilihku untuk memijatnya. Katanya, pijatanku enak.

Seperti biasa, tubuh pak Ronal hanya dililit handuk putih dan aku tahu ia tidak memakai apa-apa dibalik handuk itu. Saat memijat pahanya jantungku berdebar-debar. Ingin rasanya kupegang dan kuremas bagian vital pak Ronal yang menonjol itu. Aku harus cukup puas dengan menelan ludah.

Suatu hari, selesai dipijat, pak Ronal mengajakku jalan-jalan karena kebetulan jam kerjaku berakhir. Aku yang sudah dimabuk kepayang pada pak Ronal menerima saja ajakannya itu. Dengan mobilnya, kami menuju restoran ikan bakar favorit pak Ronal.

Begitu makan malam selesai, aku tak sanggup menolak ajakan pak Ronal untuk mampir ke sebuah hotel. Dan seperti yang kuduga, kami bercinta di hotel itu. Pak Ronal sangat perkasa di ranjang. Ia membuatku orgasme sampai 3 kali setiap rondenya.


Nikmat yang lama tak kurasakan membuatku mau saja ketika pak Ronal menumpahkan cairan hangatnya di mulutku dan aku menelannya bulat-bulat. Pak Ronal tertawa kecil ketika aku bersendawa usai menelan cairannya.

Pak Ronal benar-benar membuatku terbang ke awang-awang. Selain memuaskanku, ia juga memberikan tip yang lumayan besar.

Pertemuan berikutnya, aku tak ragu lagi melakukan oral pada pak Ronal saat di panti pijat, walaupun sebetulnya perusahaan melarang keras hal itu. Untuk melakukan hubungan badan, kami janjian ketemuan di sebuah plaza untuk selanjutnya meluncur menuju hotel.

Selain hebat di ranjang, pak Ronal juga royal. Ia membelikanku gaun, baju dalam seksi, dan handphone, selain tip yang besar tentunya.

Boleh dikatakan, aku jadi seperti istri simpanan pak Ronal yang selalu siap melayaninya. Tip yang kuerima darinya itu kuanggap sebagai uang belanja. Aku bahkan berharap suatu ketika pak Ronal melamarku untuk jadi istri keduanya. Tapi impian tinggal impian. Pak Ronal tak pernah datang lagi ke panti atau meneleponku. Entah kenapa tiba-tiba ia menghilang begitu saja. Padahal aku sangat rindu padanya. Pada belaiannya. Sampai-sampai tercetus dalam pikiranku, tak dibayarpun aku rela asal bisa mereguk kenikmatan dengannya.

Kekecewaanku bertambah ketika panti tempat aku bekerja dan beberapa panti yang ada di sekitarnya digerebek polisi. Semua pegawai panti digiring ke kantor polisi untuk ditanyai. Belakangan aku baru tahu kalau penggerebekan itu karena pengaduan warga yang panti digunakan sebagai tempat mesum dan perdagangan narkoba.

Untung kami tidak sampai dipenjara. Hanya diberi pengarahan agar mencari pekerjaan lain yang halal. Beberapa kali aku menghubungi pak Ronal untuk memberitahu tentang kejadian yang menimpa panti, tapi tak pernah dijawab. Aku berharap ia bisa membantu mencarikan aku pekerjaan lain yang lebih baik. Sayang handphonenya tak pernah aktif.

Aku pun mencari pekerjaan lain. Sejak keluar dari panti hingga 5 bulan berikutnya aku sudah merasakan berbagai pekerjaan sesuai dengan ijazah SMA yang kumiliki. Kebanyakan sebagai penjaga toko, mulai toko pakaian, toko mainan, toko obat, sampai toko makanan ringan. Sayangnya aku tak betah menjalani pekerjaan itu. Hanya duduk menunggu pelanggan sambil terkantuk-kantuk.

Ketika berjalan-jalan untuk mencari pekerjaan lain, aku melihat ada lowongan kerja tertempel di depan sebuah warnet. Karena sesuai dengan kriteria yang kumiliki, aku pun melamar di situ dan diterima.

Pemilik warnet adalah seorang keturunan Tionghoa, sebut saja namanya Koh San. Usianya sekitar 35 tahun. Sebelum mulai bekerja, Koh San mengajariku cara mengoperasikan komputer. Aku sangat senang karena dari dulu aku ingin bisa komputer karena kata orang-orang bisa menjadi nilai tambah kalau cari kerja. Dalam waktu singkat aku cukup bisa menguasai cara pengoperasian komputer.

Karena warnet itu tergolong baru buka, pegawainya cuma 1 orang, aku. Kata Koh San, kalau warnet itu maju akan menambah pegawai lagi agar aku bisa kerja bergantian. Aku tak keberatan meski harus bekerja sampai jam 10 malam, karena butuh kerja.

Aku sangat betah dengan pekerjaan baruku itu, karena aku punya kegiatan yang mengasyikkan sambil menunggu pelanggan yang menyewa komputer. Browsing internet dan fesbukan adalah kegiatan favoritku.

Apalagi Koh San bukan majikan yang cerewet, bahkan bisa dibilang penyabar, meski dalam hal keuangan sangat teliti. Ia adalah anak tunggal. Papanya sudah meninggal. Ia hanya tinggal berdua dengan mamanya.

Setiap jam 10 pagi ia datang untuk membuka pintu warnet dan ikut menjaga di situ sebentar, lalu pergi. Jam 7 malam datang lagi sampai warnet tutup jam 10 malam. Begitu setiap hari.

Tanpa terasa, satu setengah tahun berlalu. Pengunjung warnet semakin ramai. Apalagi di situ menyediakan game online. Pelanggannya kebanyakan anak-anak SD dan SMP. Ada juga mahasiswa, bahkan bapak-bapak yang getol bermain game online hingga berjam-jam. Pegawainya pun bertambah 2 lagi, hingga total ada 3 pegawai yang bertugas secara shift. Sebagai pegawai paling senior, aku ditunjuk oleh Koh San untuk mengkoordinir pegawai yang lain. Dan yang menggembirakan, gajiku dinaikkan.

Dalam kurun waktu itu aku sempat berpacaran 2 kali, tapi semuanya kuakhiri. Dari pengalaman itu timbul satu pendapat, bahwa yang diinginkan laki-laki dari perempuan adalah seks. Saat pacaran masih dalam batas normal, mereka terlihat begitu sayang. Tapi begitu sudah melakukan hubungan badan, selalu seks yang diinginkan setiap kali bertemu. Perilakunya pun berubah menjadi kasar jika keinginannya tak dipenuhi.

Entah kenapa, setiap laki-laki yang dekat denganku selalu menganggapku gampang ditiduri, seolah aku ini perempuan haus seks. Jujur saja aku butuh. Tapi aku bersedia melakukan atas dasar cinta dan kasih sayang. Bukan pelampiasan nafsu.

Aku merasa, perbuatanku di masa lalu dengan Mono meninggalkan noda dalam diriku yang dapat dengan mudah dibaca oleh setiap laki-laki sebagai perempuan kotor yang tak perlu dicintai, tapi bersedia ditiduri.

Suatu hari aku dapat kabar mengejutkan dari desa. Bapakku meninggal dunia akibat jatuh dari pohon nangka yang ada di belakang rumah. Aku langsung pamit pada Koh San untuk pulang ke desa. Koh San ternyata bukan hanya memberikan ijin, tapi juga ingin mengantarku. Aku yang diliputi rasa duka bertambah dengan bingung memikirkan sikap Koh San yang begitu baik.

Tak hanya itu. Koh San membantu biaya pemakaman bapak dan acara tahlilal. Koh San menginap di hotel di Ponorogo, tapi ke hotel hanya malam hari saja. Dari pagi sampai usai tahlilan ia berada di rumahku.

Kehadiran Koh San tentu saja jadi pergunjingan warga desa. Bahkan ada yang mengira kalau ia suamiku. Itu wajar karena Koh San sangat mudah bergaul, seolah tak ada perbedaan kesukuan antara dia dengan kami. Anakku pun senang karena sering diajak jalan-jalan naik mobilnya dan pulangnya membawa mainan.

Malam hari usai tahlilan 3 hari meninggalnya Bapak, Koh San membuat geger keluargaku. Betapa tidak. ia mengatakan kepada ibu dan kakak-kakakku kalau ingin melamarku. Aku kaget bukan main, sekaligus terharu, karena tak menyangka sama sekali kalau selama ini ia menyimpan rasa cinta padaku. Untuk membuktikan kesungguhannya, ia bahkan bersedia masuk Islam. Katanya lagi, mamanya sudah setuju ia menikahiku.

Setelah semalam suntuk berembug, akhirnya aku memutuskan menerima lamaran Koh San. Ia memang tidak seganteng pak Ronal, tapi ia baik dan santun. Selain itu, ia sangat menyayangi anak semata wayangku.

Keesokan harinya Koh San sah menjadi mualaf. Dari masjid desa, kami langsung menuju makam bapak untuk minta doa restu.

Dua hari kemudian kami resmi menikah dan berencana akan mengadakan resepsi satu bulan kemudian.

Aku sangat bersyukur punya suami Koh San. Ia sangat menyayangiku dan anakku. Ia pun membuyarkan pendapatku, kalau laki-laki hanya memikirkan seks. Ia tak marah saat aku tak ingin berhubungan. Ia sangat pengertian dan menghormati hak-hakku sebagai istrinya. Begitu pun pada anakku. Ia sangat menyayanginya seperti anak kandungnya sendiri.

Yang membuatku makin mencintainya adalah keinginannya yang kuat untuk mendalami agama. Mau tak mau, aku yang tadinya kurang begitu serius menjalankan syariat agama akhirnya mengikutinya. Termasuk memakai jilbab dan rutin mengikuti pengajian. Aku berharap semoga ia menjadi pelabuhan terakhirku dan tetap teguh menjadi imamku dalam menjalani hidup bersama-sama hingga akhir hayat kami.

Selain itu dalam doa-doaku tak lupa aku mohon ampun kepada Tuhan atas dosa-dosaku di masa lalu.

Saat ini anakku sudah 4 orang, 3 di antaranya adalah buah cintaku dengan Koh San. Usaha warnet yang dulu dirintis bersamaku ditutup oleh Koh San karena ia merasa prihatin atas kejadian seorang anak yang jadi pelanggannya ketahuan mencuri demi bisa bermain game online. Sebagai gantinya kami membuka usaha restoran yang alhamdulillah maju pesat.

Itulah sekelumit kisahku. Semoga bisa menjadi hikmah bagi pembaca sekalian. (*)

Seperti diceritakan ybs kepada kontributor JBSS.
readmore »»  

Pengantin Basah Kuyup

Tarto, 31 tahun, Ngawi:

Ini pengalamanku yang tak terlupakan bersama istriku waktu kami baru melangsungkan pernikahan. Undangan sudah disebar ke semua kerabat dan tetangga, tapi waktu hari resepsi hujan turun sangat lebat hingga kampungku banjir hingga selutut. Tak terkecuali rumah istriku yang dijadikan lokasi acara.

Akibat banjir, acara resepsi tidak berlangsung sesuai rencana. Tapi apa boleh buat. Aku beserta seluruh keluarga besarku dan keluarga besar istriku sudah sepakat untuk menuntaskan acara hingga selesai.

Hingga malam hari, banjir tak juga surut karena hujan masih turun rintik-rintik. Udara dingin malam itu membuatku tak sabar untuk segera masuk kamar menikmati malam pertama. Semula istriku menolak karena situasinya yang kurang menyenangkan. Bagaimana tidak, ranjang pengantin yang sejak pagi dihias sedemikian rupa jadi berantakan karena seprei dilipat ke ranjang agar tak kena air. Ya, seisi rumah tergenang air, termasuk kamar pengantin.

Ilustrasi.
Tapi karena aku sudah tak tahan, dengan setengah memaksa kuajak istriku. Kulepas bajuku hingga telanjang bulat. Akhirnya istriku menurut juga, mungkin karena terangsang melihatku telanjang.

Setelah puas mencumbuinya, aku pun menancapkan “senjataku” dan mulai menggoyangkan tubuhku. Mula-mula pelan, lama-lama semakin cepat. Tiba-tiba ... gubrak!!! Ranjang pengantin kami patah ke empat kakinya. Kontan aku dan istriku tercebur ke genangan air.

Karena senjataku masih tegang, kusuruh istriku untuk menunggingkan tubuhnya, sambil tangannya memegangi meja. Akhirnya tuntas sudah malam pengantin kami. Kalau biasanya usai melakukan itu, orang akan langsung rebah di kasur kelelahan, kami harus buru-buru mengelap tubuh yang basah kuyup, memakai baju lalu sibuk mengangkati kasur, bantal, guling dan seprei yang terendam air.

Sebelum keluar kamar kami sempat kebingungan, malu mengatakan kepada keluarga istriku kalau ranjang kami roboh. Bisa heboh mereka.

Dan memang benar, hingga beberapa hari kemudian kejadian yang kami alami menjadi bahan guyonan kerabat kami. Bahkan hampir di setiap acara keluarga, hingga sekarang anak kami sudah dua, hal itu masih saja diungkit-ungkit. Hehehe ... (*)
readmore »»  

Cinta Satu Malam (2)

Jun (nama samaran), 40 tahun, Tangerang:

Waktu itu aku dapat tugas dari perusahaan untuk ikut workshop di kantor cabang di kota Semarang selama 3 hari. Sebagaimana kebiasaanku, malam harinya aku menyempatkan diri jalan-jalan di pusat kota yang merupakan ibu kota propinsi Jawa Tengah itu. Cuci mata sambil cari makan.

Selesai makan aku masuk ke salah satu mall terkemuka di kota itu. Secara tak sengaja aku bertemu dengan seorang wanita yang beberapa kali kutemui di pujasera yang baru buka tak begitu jauh kantor cabangku. Aku tak mengenalnya, tapi kuduga ia adalah salah satu pemilik gerai makan yang ada di pujasera, karena saat aku mencoba makan di sana, wanita bertahi lalat dekat bibir itu ikut membantu menyiapkan sajian.

Dengan sedikit berbasa-basi kudekati wanita itu. Tampaknya ia mengenaliku, karena begitu kuulurkan tanganku untuk menyalamiku, ia menyambutnya dengan hangat. Kusebut namaku dan ia pun menyebut namanya, Sofia (bukan nama sebenarnya). Ia hanya sendiri saja.

Mungkin karena telah pernah bertemu beberapa kali sebelumnya, kami pun cepat menyesuaikan diri. Kami pun ngobrol di tengah hiruk pikuk pengunjung mall. Waktu kutanya mana suaminya, Sofia hanya menjawab singkat “Nggak ikut”.

Karena tak ingin mengganggu acara belanjanya, aku pamit dan kami pun berpisah. Sebetulnya aku ingin minta nomor hapenya, tapi aku takut dikira mau macam-macam dengannya. Makanya kuurungkan niatku itu.

Keesokan petangnya kudatangi gerai makan milik Sofia. Begitu melihatku, ia langsung menyambutku dengan senyum manisnya sambil membawa daftar menu. Ia menawariku salah satu menu andalannya dan aku setuju.

Ketika makanan telah siap di meja, ia menawarkan diri untuk menemaniku. Aku tentu saja tak keberatan karena dapat teman ngobrol. Sofia ternyata orang sangat terbuka dan menyenangkan. Sambil makan, kami saling bertukar cerita tentang diri masing-masing, seolah teman karib yang lama tak bertemu. Aku pun berani minta nomor hapenya (walaupun aku tak tahu apa ada gunanya), dan ia dengan senang hati memberikan seraya minta ku-missed call agar ia juga punya nomorku.

Malam sekitar jam 10 aku tak bisa tidur. Pertemuan dengan Sofia mengguratkan satu kesan tersendiri dalam hatiku. Mungkin itu yang mendorongku untuk iseng meneleponnya. Sofia bilang ia sedang berberes-beres gerainya karena mau tutup. Tadinya aku merasa tak enak karena mengganggu kesibukannya, tapi dari nada suaranya ia tampak antusias menerima teleponku.

Tanpa kusadari mulutku keceplosan minta ia mampir di hotel tempat aku menginap. Tapi belum sempat aku meralat ucapanku, ia ternyata menerima tawaranku. Kontan jantungku berdebar. Padahal aku cuma iseng. Dalam hati aku bertanya-tanya, kok mau-maunya ia mampir padahal hari sudah hampir larut malam.

Segera kuberesi baju-bajuku yang berserakan. Malu kalau ia datang, kamarku dalam keadaan berantakan.

Jam 10.30 lebih Sofia tak kunjung datang. Aku pun berniat turun ke lobi untuk menunggunya di sana. Belum lagi aku melangkah ke pintu, kudengar suara ketukan. Ternyata Sofia datang sambil menenteng sebungkus jajanan khas Semarang.

Ia bertanya kepadaku apakah kehadirannya menggangguku. Tentu saja tidak, jawabku sambil mempersilakannya masuk.

Ilustrasi.
Sofia langsung duduk di bibir ranjang sambil menatap ke arah TV. Aku merasa agak canggung juga sebenarnya, karena baru sekali itu aku berada dalam kamar hotel dengan perempuan lain. Baru kenal pula. Tapi kecanggunganku langsung mencair begitu Sofia memulai obrolannya. Mula-mula dari hal yang ringan, kemudian menjurus ke pribadi kami masing-masing.

Kali ini Sofia blak-blakan menceritakan prahara rumah tangganya. Suaminya adalah pengusaha jual beli mobil bekas (mobkas) yang cukup berhasil. Setahun lalu suaminya menikah lagi dengan wanita lain yang seprofesi dengannya. Setelah menikah, wanita itu diberi rumah oleh suami Sofia di Cilacap dan membuka usaha jual beli mobkas di sana.

Alasan suaminya menikah lagi adalah karena Sofia tidak kunjung memberinya anak, padahal mereka sudah menikah lebih dari 15 tahun. Sofia sangat terpukul dengan keputusan suaminya itu, tapi ia tak berdaya melawan karena dari pemeriksaan medis ia memang mandul.

Bulan-bulan pertama suaminya masih berbuat adil. Satu minggu di Semarang, satu minggu di Cilacap. Tapi lama-lama suami Sofia makin jarang datang ke Semarang. Alasannya, usaha jual beli mobkas di Cilacap maju pesat, hingga bisa buka cabang di sana.

Sofia menolak tegas ketika suaminya mengajak pindah ke Cilacap juga. Ia tak mau tinggal sekota dengan madunya. Sejak itu Sofia berkeinginan untuk mencari uang sendiri. Ia mencoba beberapa usaha tapi gagal. Suatu ketika salah seorang temannya menawari gerai di sebuah pujasera yang baru dibuka dan ia pun coba-coba membuka usaha makanan dengan uang tabungannya.

Sambil bercerita, Sofia merebahkan tubuhnya di ranjang. Mungkin karena kelelahan setelah seharian bekerja. Kulihat kedua matanya berkaca-kaca. Kata Sofia, sudah 2 bulan ini suaminya tak datang. Ia hanya menelepon dan mengirimkan uang untuk biaya hidup Sofia sehari-hari.

Spontan kurebahkan tubuhku di samping Sofia, lalu kuusap dengan lembut air matanya. Dan saat itulah tiba-tiba ia mendekatkan wajahnya ke wajahku dan mencium bibirku! Aku terkejut, tapi juga senang, bagai mendapat durian runtuh. Kubalas ciumannya dengan mesra.

Beberapa detik kami saling memagut hingga membuatku hanyut dalam birahi. Pelan-pelan kubaringkan tubuhku di atas tubuh Sofia dan kami berciuman makin panas. Secara refleks tanganku menyingkap roknya dan mulai menjelajahi bagian bawah tubuh Sofia. Tubuhnya menggelinjang. Ia seperti kafilah di padang pasir yang menemukan oase. Bibirnya melumat habis bibirku, sementara kedua tangannya mencengkeram kuat belakang kepalaku seolah tak ingin aku melepaskan pagutanku.

Desahan nafasnya membuatku makin menggila. Tanganku bergerak naik ke dada Sofia, menyelusup ke dalam bra di balik bajunya dan melakukan remasan-remasan penuh gairah.

Saat kulajahi telinga Sofia dengan lidahku, kubisikkan padanya agar ia melepas bajunya.

Ilustrasi.
Kulucuti baju dan celanaku sementara Sofia melepas T-shirtnya. Ia menggeser tubuhnya yang hanya dibalut celana dalam berwarna putih tipis ke tengah ranjang. Meski tubuhnya tak lagi langsing, tapi begitu melihatnya dalam kondisi seperti itu, serta kulitnya yang putih mulus dan dadanya yang ranum, aku jadi bernafsu menerkamnya. Kami pun bergumul laksana sepasang suami istri yang lama tak bertemu.

Sofia mendorong tubuhku dan ia berganti posisi di atasku. Sungguh, ia seperti harimau lapar yang tengah mencabik-cabik rusa gemuk. Ia mencumbui tubuhku seperti aku mencumbui tubuhnya dari ujung kepala hingga ke bawah perut. Dengan sigap tangannya melucuti celana dalamku yang makin terasa sempit dan … Aku merasakan kenikmatan yang luar biasa di setiap gerakan naik turun kepalanya.

Tak ada kata yang tepat yang dapat kugambarkan tentang Sofia saat itu selain: Ganas! Sekitar lima belas menit kemudian kami sama-sama terkapar dalam kepuasan bercinta yang sangat panas. Kulihat mata Sofia terpejam dalam kenikmatan.

Dan malam itu, aku minta Sofia untuk tinggal di hotel bersamaku,menghabiskan waktu bersamaa mengarungi lautan asmara yang tak bertepi.

Pergumulan itu membuat perut kami kelaparan. Usai melahap jajanan yang dibawa Sofia, kami kembali melakukan pergulatan seru di ranjang. Kali ini durasinya lebih panjang.

Dalam semalam hingga dini hari kami bercinta 4 ronde. Setelah tidur tak sampai 2 jam, kami bangun dan sempat bercinta lagi di kamar mandi sebelum berkemas.

Setelah sarapan, Sofia mengantarku ke tempar workshop lalu pulang ke rumahnya. Aku tak bisa mengikuti hari terakhir workshop karena mengantuk luar biasa akibat semalaman bergoyang ranjang dengan Sofia.

Sebelum aku turun di tempat workshop Sofia memintaku untuk mampir lagi ke gerai makannya usai workshop. Sayang aku tak bisa karena harus segera kembali ke Tangerang. Tapi aku berjanji jika suatu saat ditugaskan lagi ke Semarang, aku akan menemuinya.

Sekembali ke Tangerang, aku dihinggapi rasa bersalah pada istriku, karena aku kini sudah termasuk dalam daftar laki-laki peselingkuh, walaupun hanya satu malam. Aku jadi ragu apakah akan menemui lagi Sofia di Semarang saat tugas berikutnya atau tidak. Benakku selalu dipenuhi pikiran antara rasa berdosa dan keinginan untuk mengulang kembali kenikmatan bersama Sofia.

Beberapa kali Sofia mengirim SMS menanyakan kabarku. Aku merasa itu merupakan isyarat kalau ia rindu padaku, dan aku pun merasakan hal yang sama. Perasaanku campur aduk, antara takut dan ingin mengulangi dosa itu lagi. (*)

readmore »»  

Main-main Jadi Sungguhan

Jimmy, 31 tahun, Jakarta:

Pertemuan dengan mantan dosenku, sebut saja namanya bu Helen, di acara pernikahan teman kuliahku menorehkan kenangan khusus bersamanya.

Waktu itu aku masih kuliah semester I ketika pertama kali melihat sosok bu Helen. Cantik, kulitnya putih bersih, tapi angkuh. Mahal senyum. Aku baru jadi mahasiswanya ketika semester III dan saat itu kurasakan ia makin menyebalkan saja.

Suatu ketika aku sesumbar di hadapan beberapa teman kuliahku saat kami ngumpul di rumah salah satu dari kami untuk mengerjakan tugas dari bu Helen. Kukatakan, aku akan menjadikannya pacarku paling lambat dalam waktu 6 bulan ke depan. Bahkan kemudian kami pun taruhan, kalau aku berhasil menggaet bu Helen, mereka akan patungan mentraktirku makan apapun yang kusukai di restoran termewah di kotaku. Wow!

Secara usia memang tak sepadan antara aku dengan bu Helen. Menurut informasi, bu Helen usianya 15 tahun di atasku. Tapi toh aku cuma iseng, sekedar ingin menaklukkan keangkuhannya. Mungkin ia merasa cantik hingga bersikap seperti itu. Hal itulah yang membuatku tertantang.

Aku mengambil mata kuliah bu Helen pada semester III dan IV, dan itu adalah kesempatanku untuk melakukan PDKT dengannya. Apalagi mata kuliahnya tergolong sulit, sehingga aku punya alasan untuk bertanya terus padanya, baik saat jam kuliah maupun di luar kuliah. Dengan gaya bloon (memang aku bloon kali ya?) dan noting to lose aku mendatangi ruang kerjanya untuk menanyakan pelajaran-pelajaran yang tak kumengerti.

Ternyata memang sulit menemui bu Helen di luar jam kuliahnya. Ia sering tidak ada di tempat. Kalaupun ada, selalu mengatakan kalau ia sedang sibuk. Tapi aku tak putus asa, demi misi penaklukan yang sudah kusepakati dengan teman-temanku. Aku rela menunggu berjam-jam di depan ruang kerjanya demi mendapatkan simpati dari bu Helen kalau aku serius ingin menghadap.

Entah karena iba atau karena tak punya alasan lain, akhirnya bu Helen mengijinkanku masuk ke ruangannya. Akupun mulai beracting sebagai mahasiswa polos yang tak paham pelajaran yang diajarkannya. Dan bu Helen (entah ikhlas atau terpaksa) mengajariku dengan gaya angkuhnya dan kadang suaranya meninggi kalau aku tak ngerti juga penjelasannya.

Suatu hari, hujan turun sangat deras. Aku baru selesai kongkow-kongkow dengan teman-temanku usai kuliah dan mengendarai mobilku (maksudku mobil papiku) untuk pulang. Ketika melewati halte bus depan kampus aku melihat bu Helen sedang berdiri di sana. Aku segera memutar balik mobilku dan mendekati halte. Tanpa mempedulikan hujan, aku turun dari mobil dan menghampiri bu Helen, bermaksud mengantarnya pulang. Semula ia menolak dengan halus tawaranku. Tapi aku tak putus asa. Kutawarkan diri untuk menemaninya menunggu bus kota. Saat itulah tiba-tiba payung yang diletakkan di dekat kakinya terbang terhembus angin. Spontan aku berlarian mengejar payung bu Helen di tengah hujan deras dan nyaris tertabrak taksi. Tentu saja tubuhku jadi basah kuyup. Kulipat payung bu Helen dan kuberikan kepadanya. Bu Helen menyuruhkan untuk pulang saja agar aku tak masuk angin. Tapi aku bersikeras akan menemaninya di situ, kecuali kalau ia mau kuantar pulang.

Agaknya sikap keraskepalaku membuat hati bu Helen luluh. Ia akhirnya mau masuk ke mobilku untuk kuantar pulang. Dalam perjalanan kami bicara banyak hal dan dari situ baru aku tahu kalau bu Helen ternyata suka ngobrol juga. Sesekali ia tertawa lepas saat aku cerita yang lucu.

Sejak itu, sikap bu Helen kurasakan lebih lunak padaku. Ia bersedia meluangkan waktu lebih lama untuk memberikan bimbingan di ruang kerjanya atau sekedar ngobrol yang tak ada hubungannya dengan mata kuliah.

Selain melakukan PDKT langsung, aku juga getol mencari informasi lebih banyak tentang bu Helen dari berbagai sumber. Tapi tentunya bukan dari kalangan dosen. Dua bulan aku berburu informasi, dan tak disangka-sangka justru dapat dari sepupuku sendiri, sebut saja namanya Tata.

Waktu kumpul keluarga saat Natalan di rumah mbak Tata, bu Helen datang juga. Ternyata mereka sahabatan waktu SMA. Aku sempat kaget saat melihat bu Helen datang, karena sama sekali tak menyangka. Jadilah hari itu aku jadi bahan gurauan keluarga besarku, karena bu Helen cerita kalau aku paling susah mengikuti pelajarannya.

Begitu bu Helen pulang, aku mengorek informasi dari mbak Tata. Katanya, bu Helen dulu pernah pacaran dengan teman kuliahnya, sebut saja Willy. Hubungan mereka berlanjut hingga lulus. Bu Helen melanjutkan kuliah S2, sementara Willy bekerja di perusahaan multi nasional. Saat bu Helen lulus S2-nya dan menjadi dosen, Willy medapat tugas belajar ke Amerika. Yang membuat hati bu Helen hancur adalah ketika Willy kembali ke Indonesia, ia mendapat pacar baru yang sama-sama kuliah di Amerika. Willy kemudian menikahi pacarnya itu.

Lama aku termenung memikirkan bu Helen. Kurasa ia menjadi angkuh gara-gara sikap pacarnya itu. Gilanya, hal ini tak membuatku surut langkah menaklukkan hati bu Helen. Aku tetap pada misiku semula. Dan yang lebih menggembirakanku, bu Helen makin ramah kepadaku. Mungkin karena ia sudah tahu kalau sahabatnya adalah sepupuku.

Begitu bu Helen tak menjadi dosenku, aku lebih gencar melancarkan pendekatan. Aku bahkan berani mengajaknya makan berdua. Semula bu Helen menolakku dengan alasan sibuk. Tapi ketika libur semesteran aku mengulangi ajakanku, ia tak punya alasan lagi. Jadilah kami makan berdua di sebuah restoran bernuansa romantis. Sebelumnya, aku sudah mengontak teman-teman yang bertaruh denganku untuk mengikuti, agar mereka tahu kalau aku berhasil.

Tapi dasar teman-temanku, aku dianggap belum berhasil karena aku terbantu dengan hubungan baik bu Helen dan mbak Tata. Salahku juga, kenapa menceritakan kehadiran bu Helen di rumah Tata waktu Natalan itu.

Aku tak peduli dengan sikap teman-temanku yang ingkar janji. Aku merasa aku sudah cukup punya nyali untuk menaklukkan dosen yang termasuk klasifikasi “killer” di kampusku dan aku puas. Aku memutuskan untuk menghentikan misiku.

Ilustrasi.
Namun, hal yang terduga terjadi. Aku merasa sangat kangen pada bu Helen. Sehari tak bertemu aku jadi sangat gelisah. Menjelang tidur, wajahnya selalu terbayang-bayang di benakku. Aku memaki diriku sendiri. Tak mungkin aku jatuh cinta padanya. Aku berusaha keras menepis pikiran itu.

Aku makin terpuruk dalam kegalauan ketika suatu hari bu Helen meneleponku. Ia minta ditemani nonton film. Sebetulnya aku ragu mengiyakan ajakannya karena takut akan makin tenggelam dalam lautan cinta padanya, tapi entah kenapa aku sanggupi saja ajakannya. Mungkin karena perasaan kangen yang terpendam padanya.

Dalam perjalanan menuju rumahnya aku sudah bertekad untuk bersikap biasa-biasa saja, tak lagi melancarkan 'jurus maut'.

Namun sayang tekadku sirna seketika saat kami duduk berdampingan di keremangan gedung bioskop. Apalagi kami dapat kursi di jajaran paling belakang, persis di bawah proyektor, dan penontonnya tidak begitu banyak.

Aku tak mampu menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu. Mula-mula kusentuh tangan bu Helen, seolah-olah tak sengaja. Darahku berdesir hangat manakala kurasakan betapa halus tangan bu Helen. Anehnya, bu Helen tak berusaha menepis tanganku, hingga membuatku berani menggenggamnya dan mataku jadi tak konsentrasi ke layar.

Cukup lama juga kami saling bergenggaman tangan. Pada pertengahan film, kuangkat pelan-pelan tangan kami dan aku mencium tangan bu Helen. Saat itulah bu Helen menoleh ke arahku. Kami pun saling berpandangan sejenak. Tanpa kusadari, kudekatkan wajahku ke wajah bu Helen dan … kucium lembut bibirnya. Hanya sekejap, karena bu Helen pelan-pelan menyandarkan kembali kepalanya ke sandaran kursi dan mengalihkan pandangannya ke layar. Aku hanya bisa menyatakan maaf dengan nada lirih dan tersendat. Jantungku berdegup makin kencang.

Kejadian di gedung bioskop itu begitu membekas di benakku. Hingga pagi mataku sulit sekali terpejam. Seisi kepalaku penuh dengan bayang-bayang bu Helen. Begitupun harum nafasnya. Aku betul-betul gila dibuatnya. Aku tak ingin jatuh cinta padanya, tapi hati kecilku tak dapat mengingkarinya. Aku terjerumus dalam jebakan yang kupasang sendiri.

Bila dulu bertemu bu Helen aku biasa-biasa saja, kini begitu mendebarkan. Aku berusaha menghindar bertemu dengannya hanya karena aku tak ingin terlihat salah tingkah. Lagi pula, demi kebaikanku sendiri, karena tak mungkin aku memacarinya. Waktu pulang dari bioskop waktu itu kami hanya diam membisu. Bu Helen selalu mengarahkan pandangan ke jendela mobil, seakan tak ingin bertatapan muka denganku. Aku merasa dia marah karena aku telah lancang mencuri ciumannya padanya. Aku pun tak berani mengajaknya bicara, apalagi mampir saat tiba di rumahnya.

Beberapa bulan setelah nonton berdua, aku tak pernah bertemu atau sengaja menemui bu Helen. Teman-temanku selalu meledekku dan mendorongku agar melanjutkan misi, tapi tak kutanggapi. Selama libur semesteran aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, bermain playstation dengan adikku.

Setahun kemudian, mbak Tata datang ke rumahku dan menyodorkan sebuah undangan pernikahan. Aku sangat kaget, karena yang akan menikah adalah bu Helen dan Willy, bekas pacarnya. Kusembunyikan rasa terkejutku dalam-dalam saat kukatakan pada mbak Tata, bahwa Willy sudah menikah dengan perempuan lain sebagaimana diceritakan mbak Tata dulu. Kata mbak Tata, istri Willy meninggal bersama bayi dalam kandungannya saat proses persalinan. Beberapa bulan setelah itu Willy menemui bu Helen dan mereka kembali berhubungan, hingga akhirnya bu Helen menerima lamaran Willy.

Ilustrasi.
Jujur saja, aku sangat terpukul mendengar berita itu. Tapi aku tak mampu berbuat apa-apa. Aku merasa ini adalah hukuman buatku atas perbuatanku mempermainkan bu Helen. Aku berusaha untuk tidak cengeng.

Saat acara pernikahannya, aku ajak beberapa temanku untuk datang. Bu Helen nampak sangat cantik dan anggun dalam balutan gaun pengantin berwarna putih. Ia tampak sangat bahagia. Dan aku tibat-tiba merasa sangat kesepian. Sangat kehilangan.

Waktu bertemu di acara nikahan teman kuliahku waktu itu, bu Helen datang bersama suami dan dua anaknya. Saat ia menanyakan, kapan aku menikah, kujawab kalau aku menemukan sosok seperti bu Helen. Ia hanya tertawa mendengar jawabanku. Memang aku menjawab sambil bercanda, tapi jauh di lubuk hatiku aku bersungguh-sungguh. (*)

Seperti diceritakan ybs kepada tim JBSS.
readmore »»