Kelembutan tutur katanya membuat otakku sedikit demi sedikit bisa berpikir jernih. Begitu pun genggaman tangannya, menyejukkan hatiku yang sebelumnya kacau-balau. Kuberanikan diri membalas tatapannya.
“Sebelumnya saya mohon maaf kalau apa yang saya katakan ini tidak pantas, bu Diah”, ujarku. Aku tak bisa menyembunyikan nada suaraku yang bergetar.
“Katakan saja. Pantas tak pantas biar aku yang memutuskan”, tandas bu Diah.
Sesaat aku terdiam, memikirkan kata-kata yang tepat untuk mengungkapkannya.
“Saya suka sama bu Diah …”, jawabku singkat sambil menatap wajahnya sekilas sebelum kupalingkan pandanganku ke kopi susuku. Andai ia mentertawakan jawabanku, aku tak akan tersinggung, karena aku merasa bodoh mengucapkan itu. Bodoh karena tak bisa menemukan kata-kata yang lebih romantis yang membuat bu Diah terkesan.
“Apa maksudmu suka?” bu Diah mengernyitkan dahinya.
Mulutku terkunci rapat. Aku ingin mengatakan “cinta”, tapi tak tercetus. Rongga dadaku bergemuruh. Bu Diah masih saja menatapku dengan pandangan yang kutafsirkan sebagai kemarahan. Ia mendesakku dengan pertanyaan yang sama sampai 3 kali, hingga aku merasa kepalang basah.
“Cinta, bu”, jawabku dengan suara parau.
“Cinta? Kamu cinta aku?”, kupikir bu Diah tertawa terbahak-bahak setelah mengucapkan itu. Mentertawakan aku yang cuma tukang listrik berani-beraninya pada wanita kaya dan terhormat seperti dirinya. Ternyata tidak. Bahkan senyum pun tidak. Ia diam menunggu jawabanku.
“Ya, bu”, jawabku polos. Sepolos anak kecil yang dimarahi gurunya karena kedapatan mencontek. Kudengar bu Diah menghela nafas, lalu kembali bertanya.
Kenapa? Apa yang bikin kamu naksir aku?”
Aku menduga setelah ini ia menamparku. Aku tak punya pilihan lain selain menjawab apa adanya. Mulutku nyerocos saja tanpa beban.
“Karena bu Diah cantik, baik dan perhatian”.
“Lalu?”, cecar bu Diah.
“… Wangi …”, jawabku polos.
“Apalagi?”
Aku diam memikirkan jawabannya, dan kata “ … Seksi …” terlontar begitu saja. Aku sempat nyengir kecil dengan muka tersipu. Itu adalah jawaban terkonyol yang bisa kukatakan. Aku berharap bu Diah tidak bertanya lagi, karena aku sudah kehabisan jawaban.
Bu Diah menatap tajam ke arahku sesaat, lalu memalingkan wajahnya, agak menunduk. Aku tertegun kala melihat butiran air mengalir dari matanya. Dan tanpa kusadari, aku balas menggenggam erat jemari bu Diah.
“Saya minta maaf, bu. Sungguh, saya betul-betul minta maaf. Saya khilaf, bu. Jika bu Diah mau mengusir saya sekarang juga, saya akan pergi. Saya tahu saya tidak pantas mencintai bu Diah …”, ujarku mengalir begitu saja. Aku merasa ia marah padaku, tapi tak mampu mengungkapkannya dan hanya bisa menangis.
Pelan-pelan bu Diah merenggangkan genggamannya. Kuartikan itu sebagai isyarat kalau ia memang ingin aku pergi. Aku pun beringsut dari tempat dudukku. Aku memang harus pergi, pikirku. Tapi ada sedikit kelegaan dalam hatiku karena telah mengungkapkan perasaanku pada bu Diah. Kuakui, yang kulakukan tadi malam adalah pelampiasan nafsu, tapi dilandasi atas dasar cinta. Ya, aku memang telah jatuh cinta pada bu Diah. Cinta jugalah yang membuatku menerima tugas darinya untuk memperbaiki villanya hingga berujung kejadian tadi malam.
Kuberesi barang-barang milikku ke dalam ransel. Dari cermin yang ada di pintu almari, terlihat olehku bu Diah berdiri memandangiku, lalu berjalan mendekat.
“Kamu mau kemana?”, tanya bu Diah lirih.
“Kembali ke Bandung, bu. Mungkin saya akan sekalian pamit pada pak Amin untuk cari kerja di tempat lain”, jawabku sambil memasukkan barang-barangku asal-asalan ke dalam ransel.
Setelah selesai, aku mendekati bu Diah untuk berpamitan. Kuulurkan tanganku bermaksud menyalaminya. Tiba-tiba, ia merengkuh dan memelukku erat-erat. Kepalanya direbahkan ke dadaku.
“Aku nggak ingin kamu pergi. Aku ingin kamu tetap di sini”, kata bu Diah terisak.
Aku tertegun. Sesaat kemudian kubalas pelukan bu Diah dan bu Diah makin merapatkan pelukannya.
Sesaat kemudian ia tengadahkan wajahnya, menatapku lalu berkata, “Kamu cinta sama aku, Jek?”. Suaranya agak parau.
Spontan aku menjawab, “Ya, bu. Aku cin…”. Belum lagi aku tuntas bicara, bu Diah melingkarkan tangannya ke bahuku dan mendaratkan ciuman tepat di bibirku yang masih terbuka. Aku yang tak menyangka itu bakal terjadi sempat melotot terpana, namun kehangatan bibir bu Diah melenakanku hingga kemudian membalas ciumannya. Lama kami berciuman dan saling memagut hingga nafas kami memburu.
Bisa kurasakan betapa bergairahnya bu Diah dari pagutan-pagutannya yang seperti ingin melumat habis bibirku. Juga rengkuh kedua lengannya di tengkukku. Keadaan ini kutafsirkan sebagai isyarat kalau bu Diah juga mencintaiku. Ditambah lagi ia mengimbangi gerakan lidahku yang menari-nari di rongga mulutnya. Keberanian sekaligus birahiku pun bangkit seketika.
Masih sambil berciuman, kulolosi daster bu Diah hingga jatuh ke lantai. Jemariku tak perlu menunggu lama untuk menjelajahi dadanya yang ranum tanpa bra. Hal ini membuat mulutku tergoda untuk melakukan hal yang sama. Kulepaskan pagutanku di bibir bu Diah dan kualihkan ke bagian dadanya. Bu Diah mendesah panjang ketika mulut dan lidahku mulai beraksi. Sesekali kugigit ujungnya yang menonjol, sementara satu tanganku mulai menjelajah bagian bawah tubuhnya.
Bu Diah yang tampak terdongkrak birahinya melepas kancing bajuku satu per satu. Setelah itu tangannya turun ke resleting celana panjangku, membukanya dengan penuh nafsu dan menyusupkannya ke dalam.
Masih dengan berdiri, kami terus saja bercumbu dan saling menelanjangi sampai tak ada sehelai benangpun yang menutupi tubuh kami.
Pelan-pelan kugeser lokasi percumbuan ke tempat tidurku. Selanjutnya bisa ditebak. Kami tenggelam dalam sebuah pergumulan yang panas membara di setiap detik penuh gairah demi memuaskan dahaga batin. Ujung-ujungnya adalah helaan nafas memburu berbalut keletihan yang nikmat seiring dengan semburan cairanku di perut dan dada bu Diah.
Beberapa saat lamanya bu Dah berbaring di dadaku. Nafas kami yang memburu lambat laun kembali normal. Bisa kurasakan dengan jelas degup jantung bu Diah. Tak ada kata terucap. Hanya belaian lembut tangan-tangan kami sebagai ungkapan kasih sayang kami. Pikiranku melayang-layang antara percaya dan tidak percaya kalau aku baru saja bercinta dengan bu Diah.
Lamunanku buyat ketika bu Diah mengangkat kepalanya hingga wajah kami beradu pandang. Kukecup bibir bu Diah yang dibalas olehnya dengan kecupan pula. Kami pun saling memagut.
“Kukira kamu homo, Jek”, kata bu Diah memecahkan kesunyian setelah beberapa detik kami saling pagut.
“Memangnya kenapa, bu?”
“Ah, nggak apa-apa. Cuma ngomong aja”, jawab bu Diah sambil merapatkan tubuhnya dan menenggelamkan wajahnya di dadaku.
“Kamu tahu nggak, kalau kamu mirip banget sama pak Tyo (bukan nama sebenarnya), almarhum suamiku?” katanya lagi.
“Ah, masa sih …” belum lagi kuselesaikan ucapanku, bu Diah berlutut di atasku dan membuka laci meja rias di sampingnya. Sementara ia mencari-cari sesuatu, mataku tak lepas dari tubuh bu Diah yang putih mulus tanpa cacat. Aku masih tak percaya kalau tubuh indah itu telah kunikmati. Kuraba tubuh itu dengan penuh perasaan. Ya, mulai saat itu aku bisa menyentuhnya tanpa dihantui rasa was-was.
Ternyata bu Diah mengambil sebuah album foto kecil, membuka lembar demi lembar, lalu memberikannya padaku.
“Coba lihat ini. Ini foto almarhum waktu muda”, ujarnya sambil berbaring lagi di sampingku.
Kuamati foto yang sudah agak kusam kertasnya, mungkin karena termakan waktu. Memang benar, sekilas mirip aku. Hanya saja yang di foto agak lebih gemuk sedikit. Tapi kumis dan potongan rambutnya nyaris tak berbeda.
“Waktu kamu datang di rumah bu Amin dulu ibu-ibu arisan pada bilang kalau kamu mirip pak Tyo. Aku juga merasa begitu, tapi aku pura-pura menyangkal dan kubilang kalau pak Tyo jauh lebih cakep. Tapi kayaknya kamu lebih tinggi sedikit dari dia, Jek,” ujar bu Diah sambil berbaring lagi di sampingku.
“Ngoroknya sama nggak, bu?”, candaku.
“Nggak lah. Ngorok pak Tyo lebih merdu”, bu Diah membalas candaanku sambil tertawa lirih.
Setelah ngobrol beberapa saat, bu Diah mengajakku mandi bersama. Aku tak keberatan meski tadi sudah mandi.
Sejak kejadian pagi itu, bu Diah makin mesra padaku. Ia memanjakanku dengan menyiapkan kopi susu dan roti bakar begitu aku bangun pagi. Setiap aku selesai mandi, baju dan celanaku sudah tersedia di atas ranjang. Aku betul-betul tersanjung dengan perlakuan istimewa bu Diah padaku. Hanya saja tampaknya ia menjaga betul rahasia hubungan khususnya denganku, baik pada kedua tukang maupun mang Dudung. Begitu pun aku. Aku tak ingin seorang pun tahu, karena aku tak ingin merusak nama baik bu Diah.
Kami baru bisa bersikap intim sebagaimana layaknya sepasang manusia yang dimabuk asmara saat malam tiba. Saat di mana udara dingin menusuk tulang, kesunyian dan keremangan cahaya kamar membangkitkan gairah birahi kami. Kami tak lagi tidur di ranjang terpisah, tapi di ranjang bu Diah. Kalau percintaannya sebelumnya kurasakan bu Diah agak pasif, malam itu sudah lebih agresif. Ia mau melakukan oral padaku walaupun agak malu-malu, setelah sebelumnya kulakukan hal itu padanya.
Malam ketiga keintiman kami, bu Diah mengutarakan sesuatu yang membuatku tercenung. Ia mengajakku nikah! Ia tak ingin aku dan dia terjerumus makin dalam ke lembah dosa zina yang telah kami lakukan tiga hari ini. Beberapa saat aku terdiam dan itu membuat bu Diah tampak merasa jengah. Ia mengira aku tak setuju dengan usulnya, tapi kukatakan dengan sejujurnya kalau aku merasa minder menikahi wanita cantik dan kaya seperti bu Diah. Semula bu Diah menganggap aku hanya berdalih, tapi aku jawab kalau aku benar-benar jatuh cinta padanya. Keadaanlah yang membuatku ragu. Kami berasal dari latar belakang yang sangat bertolak belakang. Seperti bumi dan langit. Bu Diah bergelimang harta, sedangkan aku orang susah yang harus bekerja membanting tulang demi menyambung hidup.
Bu Diah kukuh pada pendiriannya. Ia tak ingin melakukan dosa lebih banyak lagi, tapi ia juga tak ingin kehilangan aku. Ia meyakinkanku kalau ia tak peduli dengan semua perbedaan itu. Ia siap dengan semua resiko yang harus ia hadapi jika menikah denganku. Ia sangat mencintaiku dan merasa bahagia menemukan kembali suaminya yang telah tiada. Hal itu membuatnya menjadi bersemangat lagi menjalani hidup yang sempat meredup sejak ditinggalkan suami tercintanya. Ia berharap, tak cuma wajahku saja yang mirip dengan almarhum, tapi juga sifat-sifatnya yang sabar dan penuh perhatian. Bu Diah mengatakan semua itu dengan air mata berlinang.
Cukup lama kami berdiskusi tentang hal itu hingga akhirnya aku menerima ajakannya untuk menikah. Tapi aku mengusulkan untuk nikah siri saja dulu. Pertimbanganku, andai suatu saat ia berubah pikiran karena tak tahan dengan cibiran kerabat, keluarga atau teman-teman arisannya, ia bisa memutuskan untuk berpisah. Sebaliknya, jika ia bertahan, baru kami menikah secara resmi. Bu Diah tampak agak kecewa, namun mau menerima saranku. Ia berjanji akan membuktikan kalau aku salah menilai tentang dia.
Keesokan harinya bu Diah meninggalkan villa, sementara aku terus melanjutkan pekerjaanku. Ia akan mengurus semua keperluan untuk pernikahan siri kami. Kupandangi mobilnya hingga keluar halaman villa dengan pikiran tak menentu. Tak kusangka, perjalanan hidupku akan seperti ini. Aku masih tak percaya dengan apa yang kualami. Hanya dalam waktu tak sampai 1 bulan berada di Bandung, aku dapat istri cantik. Kaya lagi. Itu tak membuatku merasa senang. Aku khawatir akan ada yang mengetahui hubungan kami dan mencemoohku sebagai laki-laki matre (materialistis).
Sejujurnya, aku sama sekali tak tergiur dengan harta bu Diah walaupun aku orang susah. Aku cuma jatuh cinta padanya. Dan mencintainya membuatku takut kehilangan. Padahal jauh di lubuk hatiku, aku masih ingin menimba pengalaman lebih banyak lagi sampai kutemukan pekerjaan dengan penghasilan yang cocok. Tidak pas-pasan seperti selama ini. Aku ingin berhasil dengan jerih payahku sendiri, bukan dari pemberian bu Diah. Tapi kehadiran bu Diah di hatiku memaksaku untuk memikirkan ulang rencana-rencanaku. Mungkin aku tak perlu lagi berkelana. Mungkin aku hanya akan mencari pekerjaan lain di Bandung saja yang pantas dengan status bu Diah, dan menikmati hidup bersamanya dengan sebaik-baiknya.
Sekitar tiga hari kemudian kami menikah siri di sebuah mushola sederhana di desa yang aku sudah lupa namanya. Tempatnya di pinggiran kota Bandung. Bu Diah sendiri yang menyiapkan segala sesuatunya hingga terlaksana nikah siri kami. Mulai dari mencari modin, saksi-saksi sampai biaya-biayanya, termasuk cincin kawin. Sebenarnya aku merasa tak nyaman dengan keadaan ini. Lebih tepatnya malu. Tapi melihat bu Diah yang begitu antusias melakukan persiapan dari awal hingga terlaksananya nikah siri itu, kupendam dalam-dalam rasa malu itu.
Selesai akad nikah, bu Diah mengajakku ke makam almarhum suaminya untuk minta restu. Di depan makam ia memanjatkan doa sambil terisak. Aku berdiri di belakang bu Diah dan memayunginya sambil turut berdoa dalam hati dengan doa-doa seadanya yang kuhafal. Sebelum berlalu, kami lakukan tabur bunga di atas makam pak Tyo.
Malam harinya kami berbulan madu dengan menginap di sebuah hotel mewah di Bandung. Dan bu Diah tampaknya juga sudah sangat siap menjadi istri sahku. Ia mengenakan baju tidur seksi transparan yang membuatku tak tahan untuk hanya memandanginya saja. Bu Diah telah benar-benar menempatkan statusnya sebagai istri sahku. Ia berikan pelayanan kepadaku dengan penuh antusias. Lepas. Tak ada ketakutan menanggung dosa.
Hanya sehari kami menginap di hotel, karena harus segera kembali ke villa untuk menuntaskan pekerjaan perbaikan hingga selesai dalam waktu tak sampai 2 minggu.
Dalam menjalani kehidupan sehari-hari berikutnya kami melakukan seperti biasa. Aku tetap bekerja di perusahaan pak Amin. Bedanya, aku tak lagi kos di kampung kumuh, tapi menempati rumah bu Diah yang lain yang berlokasi di sebuah kompleks perumahan baru. Kata bu Diah, rumah itu sebenarnya untuk dikontrakkan. Penghuni terakhir tidak memperpanjang kontraknya yang telah berakhir sebulan sebelumnya.
Rumah itu berkamar tiga, dua kamar di bawah dan satu di lantai 2, tidak begitu besar, tapi halamannya luas dan berkesan elegan. Perabotannya lengkap, termasuk peralatan fitness yang ditaruh di kamar lantai 2. Di halaman belakang ada parabola besar dan kolam renang berukuran sedang. Pertama kali menempati rumah itu aku merasa canggung. Aku yang biasa menempati kamar kos sempit di perkampungan kumuh, tiba-tiba tinggal di rumah mentereng seperti itu.
Setiap malam bu Diah datang ke tempatku. Kadang menginap kadang tidak. Hal ini untuk menjaga agar pak Kosim dan istrinya tidak bertanya-tanya.
Sejak resmi menikah, bu Diah makin memanjakan dan memperhatikanku. Tak hanya dalam aktifitas di ranjang, tapi juga materi. Baju, jam tangan, sepatu, makanan yang enak-enak dan apapun kebutuhanku dipenuhinya. Harganya pun mahal-mahal. Tapi yang paling membuatku terkesan padanya saat ia mengenakan jilbab. Begitu cantik dan anggun. Ibadahnya pun rajin. Aku yang tadinya jarang sholat, jadi ikut rajin juga. Bu Diah juga mengajariku doa-doa taubatan nasuha agar dosa-dosa kami di masa lalu diampuni oleh-Nya.
Perhatiannya padaku tak perlu kuragukan lagi. Ia tak bosan-bosannya mengingatkanku agar sholat saat waktunya tiba. Ia juga menyuruhku berhenti merokok. Ia benar-benar telah menempatkan dirinya sebagai istriku. Tapi itu hanya saat kami berdua saja. Di luar, kami tetap menjaga agar tak seorangpun tahu. Itu atas permintaanku. Ia pun mulai memanggilku dengan “papa”, sementara aku masih merasa jengah memanggilnya “mama”.
Suatu ketika hal tak terduga terjadi. Proyek yang dikerjakan pak Amin terhenti karena investornya bangkrut. Saat itu sedang memanasnya krisis moneter. Imbasnya, ia melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran. Termasuk aku juga kena PHK. Tapi bu Diah terus menghiburku agar aku tak putus asa. Ia berjanji akan mencarikan pekerjaan untukku melalui teman-teman yang ia kenal baik. Sambil menunggu aku dapat kerjaan lagi, bu Diah mengajakku umrah, kemudian jalan-jalan ke Paris untuk bulan madu kedua.
Waktu pun terus bergulir. Aku banyak menghabiskan waktu dengan bermain game, nonton TV atau fitness saat bu Diah tak ada. Saat bu Diah datang, selain mengajariku berenang, ia juga membimbingku mengaji. Berkat kesabaran dan ketekunannya mengajariku, aku bisa khatam dalam waktu tak sampai 1 bulan. Dalam hal berenang, Ia pun mahir sekali, karena sejak muda rutin melakukannya. Pantas saja tubuhnya masih kencang seperti baru berumur 30 tahunan.
Tak cuma itu. Selain diikutkan kursus mengemudi sampai dapat SIM agar kalau jalan berdua, aku yang mengemudi, aku juga dikursuskan mengetik dan komputer untuk menambah ketrampilanku. Ternyata aku kepincut dengan dunia komputer yang kala itu masih berupa barang langka. Melihat minatku, bu Diah kemudian membeli seperangkat komputer untukku. Dengan begitu aku bisa lebih mendalaminya, baik secara otodidak maupun melalui pelatihan di lembaga resmi.
Untuk meningkatkan penampilan, bu Diah tak segan mengajakku ke salon agar aku terlihat lebih rapi. Selain untuk perawatan rambut, juga kulit.
Berbekal kemampuan di bidang komputer itulah aku mulai mengirim beberapa lamaran ke sejumlah perkantoran. Dan keberuntungan pun berpihak padaku. Ada 2 perusahaan yang memanggilku untuk wawancara dan semuanya kulalui dengan lancar hingga aku diterima di 2 perusahaan itu. Atas masukan dari bu Diah, aku memilih salah satu yang menurutnya paling bonafid. Gajinya standar, tapi masih jauh lebih baik daripada saat aku mengandalkan ketrampilan perlistrikanku.
Saat menganggur aku merasa sangat rendah diri, tapi dengan memiliki pekerjaan, aku bisa lebih tegak berdiri di hadapan bu Diah. Aku merasa lengkap sebagai seorang suami. Ada kepuasan tersendiri bisa memberikan gajiku kepada bu Diah walaupun aku tahu ia tidak butuh.
Meski telah menjalani biduk rumah tangga dengan bu Diah beberapa bulan, entah kenapa aku masih saja dihantui perasaan tidak tenang. Bisa jadi karena kami hidup dalam keadaan tak biasa. Menjadi suami istri saat berdua dan menjadi orang lain saat berada di dunia luar. Aku merasa yang kami jalani itu bukan kehidupan yang sebenarnya. Bukan kenyataan. Hanya mimpi indah yang setiap saat bisa sirna.
Momen yang paling menentramkan hatiku adalah saat berada dalam pelukan bu Diah. Sayangnya, demi menjaga rahasia, aku tak bisa berharap ia selalu ada saat perasaanku gelisah.
Tampaknya bu Diah bisa merasakan kegalauanku. Ia menawarkan untuk pindah dari Bandung dan memulai hidup baru di tempat baru di mana tak ada lagi yang perlu dirahasiakan. Aku senang bu Diah mengatakan itu. Artinya ia siap sehidup semati denganku dalam keadaan senang maupun susah. Kami pun kemudian bicara panjang lebar tentang berbagai alternatif yang bisa kami tempuh untuk menjalani kehidupan rumah tangga secara normal.
Saat itu aku merasa betapa besar kekuatan cinta. Ia bisa merobohkan dinding perbedaan yang sedemikian tebal. Tak hanya itu. Ia juga mampu merubah hal yang tak mungkin menjadi mungkin. Aku yang dulu mengira tak bisa mendapatkan bu Diah, hanya dalam tempo singkat ia sah menjadi istriku. Meski dalam situasi yang terbatas, kami bisa mereguk kebahagiaan bersama-sama dan bersabar menunggu saat yang tepat untuk mewujudkan rencana kami.
Namun manusia merencanakan, Tuhan yang menentukan. Mimpi indah kami buyar. menyusul terbongkarnya hubungan bu Diah denganku!
Saat bangun tidur sore itu, 5 orang yang tak kukenal, 2 laki-laki dan 1 perempuan, serta 2 orang hansip dan seorang laki-laki setengah baya datang ke rumah yang kutinggali dengan ekspresi kemarahan. Tiga orang itu ternyata kerabat bu Diah dari pihak almarhum suaminya. Kata-kata kasar menyakitkan keluar dari mulut mereka silih berganti. Bahkan ada yang mencoba memukulku. Untung dicegah oleh salah seorang hansip. Mereka menghujatku habis-habisan. Aku dituding sebagai laki-laki tukang “morotin” perempuan, tidak tahu diri dan berbagai sumpah serapah tajam lainnya. Laki-laki setengah baya yang belakangan kuketahui sebagai ketua RT di kompleks perumahan itu berupaya meredam kerabat almarhum suami bu Diah, tapi sia-sia.
Ujung-ujungnya mereka mengusirku. Barang-barangku diambil dari kamar dan dilemparkan ke halaman. Aku yang tak menduga bakal mengalami ini tak mampu berkata apa-apa untuk membela diri. Aku juga tak mau mengatakan kalau aku tinggal di situ atas kemauan bu Diah. Aku tak mau mengorbankan dirinya.
Pikiranku benar-benar kacau. Sekujur tubuhku terasa lunglai, seperti rusa yang tak berdaya dalam terkaman harimau. Kuberesi barang-barangku dan aku berlalu begitu saja diiringi sumpah serapah mereka. Punah sudah harapanku hidup bersama bu Diah di tempat yang baru. Dengan terbongkarnya hubungan kami, semuanya tidak akan sama lagi. Orang yang paling menderita akibat dari itu adalah bu Diah. Tak ada jalan lain bagiku selain pergi sejauh mungkin darinya, karena hanya dengan cara itulah kehidupan bu Diah akan berangsur pulih dan hubungannya dengan pihak keluarga suaminya akan membaik, begitu pikirku waktu itu.
Saat aku melangkahkan kaki di trotoar depan rumah bu Diah datang. Ia hentikan mobilnya tepat di depanku dan buru-buru keluar. Matanya sembab. Ia langsung memelukku dan menghiba agar aku tak pergi. Tangisnya tumpah. Disela isak tangisnya Ia bilang akan jelaskan semuanya pada keluarga almarhum suaminya. Kubalas pelukannya dengan sangat erat. Kuanggap itu sebagai pelukan perpisahan dariku karena setelah itu aku akan pergi.
Tapi belum lagi aku berpamitan padanya, bu Diah tiba-tiba menarikku kembali ke rumah. Di hadapan orang-orang yang terbakar amarah itu ia bersujud dan minta maaf karena menikah tanpa seijin mereka. Ia memohon agar dimaafkan dan direstui hubungannya denganku. Tindakannya itu justru menyulut emosi mereka. Giliran bu Diah yang kena damprat dengan umpatan yang tak kalah menyakitkan, seperti perempuan murahan lah, gatal lah, kegenitan lah, binal lah. Aku yang semula diam saja, mendidih darahku. Aku tak rela bu Diah dikata-katai seperti itu. Ganti aku mengumpat mereka sebagai orang tak tahu malu yang hanya ingin menguasai harta almarhum suami bu Diah.
Laki-laki yang ternyata adik kandung almarhum suami bu Diah lagi-lagi menyerangku, dan aku siap melawan, tapi dihalangi oleh 2 orang hansip itu. Pak RT segera menyuruh kami untuk meninggalkan mereka agar keadaan tak makin runyam. Bu Diah menarik lenganku keluar halaman rumah dan menyuruhku mengemudikan mobil.
Entah berapa lama kami hanya berkeliling saja di jalanan kota Bandung, karena memang tidak tahu tujuannnya. Bu Diah terus saja menangis dan minta maaf padaku atas perlakuan kerabatnya itu. Yang membuat hatiku trenyuh, bu Diah bersedia ikut aku kemana pun aku pergi, meski harus meninggalkan semuanya.
Setelah puas berkeliling dan hari sudah gelap, bu Diah mengajak untuk menginap di hotel, tapi sebelumnya minta diantar pulang dulu untuk mengambil barang-barang keperluannya. Sampai di rumah bu Diah turun sementara aku menunggu di mobil. Saat menunggu, lagi-lagi pikiranku berkecamuk. Aku merasa hidup bu Diah tak akan tenang sepanjang masih bersamaku. Aku yakin keluarga almarhum suaminya tak akan berhenti menerornya sampai ia benar-benar menyerah. Karena itulah kukuatkan niatku untuk pergi meninggalkannya. Kukemasi barang-barang yang kuanggap penting tapi bukan pemberian bu Diah, lalu kumasukkan ke ransel. Tapi saat aku beringsut hendak membuka pintu mobil, bu Diah muncul. Secara refleks kulempar ranselku ke jok belakang. Begitu masuk ke mobil, bu Diah langsung menyuruhku menuju hotel tempat kami berbulan madu dulu.
Di hotel, kami langsung mandi, kemudian sholat Maghrib berjamaah disusul dengan mengaji bersama. Suara bu Diah terbata-bata saat melafalkan ayat-ayat Quran. Air matanya tak berhenti mengalir. Setelah itu bu Diah memesan makan malam, tapi ternyata tak kami sentuh sama sekali. Peristiwa sore itu membuat selera makan kami sirna. Kunyalakan TV lalu kubaringkan diriku di samping bu Diah. Ia langsung memelukku dengan mesra. Ia tampak masih shock. Matanya sembab. Ya, siapa pun, apalagi wanita, pasti akan shock mengalami kejadian seperti itu, dihujat habis-habisan dengan kata-kata kotor tanpa diberi kesempatan untuk membela diri. Terlebih yang menghujat itu adalah kerabat sendiri.
Kami menghibur diri dengan bercerita hal-hal lucu yang kami alami, kadang mengomentari berita di TV. Kami sama sekali tak membicarakan masalah yang sedang terjadi. Jam 8 malam kami sholat Isya berjamaah. Setelah berdoa usai sholat, bu Diah mengajakku bercinta. Katanya, orgasme akan membuat pikiran jadi fresh. Terus terang sebetulnya saat itu aku tidak mood. Caci-maki orang-orang itu masih terngiang jelas di telingaku, terutama saat mereka bilang kalau aku cuma mau hartanya bu Diah saja. Tapi demi bu Diah, kubuang sementara sakit hatiku.
Selama bercinta, bu Diah sengaja tak menahan desah kenikmatan yang dirasakannya. Suaranya lepas, seolah sebagai pelampiasan atas beban berat di benaknya. tak henti-hentinya memekik dan mengerang. Suara kami bersahut-sahutan hingga akhirnya sama-sama menggelapar di puncak kenikmatan. Ternyata memang benar. Bu Diah bisa tersenyum lagi. Wajahnya terlihat berseri-seri. Seperti halnya aku, pikirannya benar-benar plong. Nafsu makan kami pun timbul kembali.
Sambil menikmati makan malam bu Diah mengusulkan untuk pergi ke Bekasi untuk menemui kakaknya yang bernama pak Hendra (bukan nama sebenarnya), meminta pendapat tentang apa yang harus kami lakukan untuk menjalani hari-hari berikutnya. Sebetulnya aku kurang setuju karena mengkhawatirkan bu Diah yang mungkin akan mengalami kejadian yang sama. Bu Diah tampaknya sudah memasrahkan hidupnya padaku. Jika memang pak Hendra ikut-ikutan menghujanya, maka ia akan ikut kemana pun aku pergi seperti yang diucapkannya di mobil. Yang penting bertemu dulu dengan satu-satunya saudara kandung bu Diah.
Saat makan itu bu Diah juga menyatakan keinginannya untuk bisa segera punya anak dariku, walaupun ia ragu, karena selama menjadi istri pak Tyo ia tak kunjung hamil. Keraguannya ditepisnya sendiri dengan mengatakan jika Tuhan mengendaki, kami pasti akan dikaruniai anak, meskipun dari segi usia sangat tipis kemungkinannya. Aku mengamininya.
Terkadang aku sulit memahami kenapa bu Diah begitu mencintaiku dan mau berkorban begitu besar hanya karena aku mirip almarhum suaminya. Kenapa ia tak jatuh cinta saja pada laki-laki yang sepadan dengannya? Kenapa justru aku? Pikiranku melayang ke beberapa bulan sebelumnya.
Awal-awal kami menikah siri dulu bu Diah pernah curhat kepadaku. Semenjak menjanda, ada beberapa lelaki yang datang melamarnya, termasuk pak Amin. Aku kaget, sebab pak Amin sudah punya istri dan istrinya berteman baik dengan bu Diah. Bu Diah menolak pinangan para lelaki itu, apalagi pinangan pak Amin, karena ia merasa cintanya sudah terkubur bersama jasad almarhum suaminya. Ia bertekad tidak akan jatuh cinta lagi. Namun begitu melihatku waktu di rumah pak Amin, bu Diah merasakan getar-getar cintanya tumbuh lagi. Mulanya ia mengabaikan rasa itu, karena melihat aku yang jauh lebih muda darinya. Ia merasa tak mungkin kami bisa bersatu. Tapi makin ia berusaha melupakanku, makin rindu ia padaku. Itulah sebabnya ia mencari cara untuk bertemu lagi denganku yang akhirnya memintaku untuk memperbaiki perlistrikan di rumahnya, walaupun sebenarnya ia sudah punya langganan tukang sendiri.
Tampaknya benar kata orang, cinta tak perlu dijabarkan secara logika, tapi cukup dirasakan dan dijalani. Mengalir seperti air. Dan itulah yang kami alami saat ini. Nyatanya, menjalin cinta dengan bu Diah membawa banyak kebaikan pada diriku. Aku jadi rajin beribadah, bisa mengaji, dan dapat tambahan ketrampilan di bidang komputer dan bahasa Inggris, selain berenang dan mengemudikan mobil. Itu kusyukuri benar-benar, bahkan sampai sekarang.
Esok harinya kami bermobil menuju Bekasi. Ternyata pak Hendra, kakak kandung bu Diah, sudah tahu prahara yang kami alami. Kerabat almarhum suami bu Diah yang mengabarkan kepadanya. Mereka berpesan kepada pak Hendra agar bu Diah meninggalkan aku yang hanya mengincar hartanya saja. Namun tampaknya pak Hendra cukup bijak menyikapi masalah kami. Ia menyerahkan keputusannya pada kami berdua, karena kami yang menjalani.
Bu Diah minta maaf kepada kakaknya karena tak mengabari kalau ia telah menikah lagi. Ia takut akan membuat geger keluarga besarnya jika tahu ia menikah dengan laki-laki yang lebih pantas jadi anaknya. Berkali-kali bu Diah menegaskan kepada kakak kandungnya kalau ia sangat mencintaiku, tapi tak menyebutkan kalau gara-gara aku mirip almarhum suaminya. Ia hanya minta pak Hendra merestui perkawinan kami.
Pak Hendra yang pensiunan pegawai negeri bisa memahami apa yang dirasakan adiknya. Ia tak keberatan memberikan restu, tetapi persoalan yang memanas antara kami dengan kerabat almarhum bu Diah harus dituntaskan. Ia berjanji akan menemui keluarga almarhum suami bu Diah untuk menyelesaikan masalah kami. Kami diminta untuk tinggal dulu di rumahnya sampai masalah itu tuntas. Pak Hendra menyediakan kamar milik anak gadisnya, sebut saja namanya Ira, untuk kami tempati, sementara Ira pindah sekamar dengan kakaknya yang bernama Ita (nama samaran).
Ketika makan malam bersama, telepon di rumah pak Hendra berdering. Pak Hendra sendiri yang menjawab dan kebetulan telepon itu untuknya. Kulihat ia tampak serius mendengarkan suara penelepon. Sesekali ia menjawab “ya”, sesekali manggut-manggut. Setelah itu pak Hendra kembali menikmati makan malamnya. (Bersambung)
Jika Anda berminat mengirim curhat, klik di sini.








