Pembaca yang budiman, perkenalkan namaku, sebut saja Jek. Menginjak kelas 2 STM (sekarang SMK), aku putus sekolah karena ketiadaan biaya. Maklum, orang tuaku tergolong tak mampu. Aku terpaksa harus menghidupi diriku sendiri agar bisa survive dari belitan kemiskinan yang dari hari ke hari makin mencekik leher. Dengan berbekal ketrampilan di bidang kelistrikan yang kumiliki itulah kuberanikan diri hengkang dari desa kelahiranku, mencari kehidupan yang lebih baik di tempat baru.
Petualanganku kumulai di kota terdekat dengan desaku, yaitu Pacitan. Di sana aku bekerja sebagai tenaga serabutan pada sebuah bengkel mobil selama 1 tahun. Setelah kurasa cukup menimba pengalaman di Pacitan, aku merantau ke Malang dan lagi-lagi dapat pekerjaan serabutan dengan bayaran pas-pasan untuk hidup.
Belum genap 2 tahun di Malang, aku diajak teman seprofesi untuk merantau ke Pontianak. Di sana aku bekerja di sebuah perusahaan swasta yang cukup besar. Fasilitasnya pun lengkap. Aku tak perlu kos karena tempat tinggal sudah disediakan, walaupun dalam bentuk semacam barak, sementara makan disediakan sehari 3 kali.
Suatu hari aku baca di koran ada iklan lowongan kerja sebagai tenaga kontrak di sebuah BUMN di Surabaya, di mana salah satu yang dibutuhkan adalah tukang listrik. Tanpa pikir panjang kukirim lamaran ke sana. Begitu dapat panggilan untuk tes, kutinggalkan Pontianak tempat aku mencari nafkah selama kurang lebih 6 bulan.
Aku diterima di perusahaan itu setelah dinyatakan lulus tes ketrampilan maupun wawancara. Meskipun gajinya standar UMR, tapi aku dapat banyak tambahan dari lembur yang selalu ada setiap hari. Di kota pahlawan itu aku tinggal agak lama, sekitar 3 tahun, karena sewaktu bekerja di BUMN itu aku dan sejumlah tenaga lapangan lain dimagangkan di Jepang selama 6 bulan, dan setelah itu kena ikatan dinas.
Aku senang bukan main bisa menjejakkan kakiku di Jepang. Kukabari orang tuaku di desa dan mereka sangat bangga karena aku orang pertama di desaku yang bisa ke luar negeri. Sepulang dari Jepang aku diwajibkan bekerja selama 1 tahun sebagai bagian dari ketentuan ikatan dinas.
Setelah masa ikatan dinas habis, aku ditawari oleh salah seorang mantan atasanku yang pindah kerja di Batam untuk kerja di sana. Sayangnya aku kurang betah di Batam. Gajinya memang besar, tapi biaya hidupnya juga tinggi. Dari Batam, aku pindah kerja lagi ke Cilegon, lalu Jakarta. Begitu seterusnya, aku terus berpindah kerja dan tempat tinggal, mengikuti kata hatiku.
Selama berkelana dari satu kota ke kota lain itu aku sempat berpacaran beberapa kali, tapi terus bubar. Dari pacaran itu aku sempat mencicipi nikmatnya permainan ranjang. Tak heran jika kemudian hasrat untuk melakukan lagi selalu muncul. Betul juga kata orang, seks itu seperti merokok. Bikin ketagihan. Jadinya, hampir setiap kali pacaran pasti ada aktifitas yang orang biasa menyebut “seks bebas”.
Dengan hidup “nomaden” seperti itu pastinya banyak kisah, suka maupun duka, yang kualami. Namun yang paling berkesan adalah ketika aku berada di Bandung. Di sana aku bekerja di sebuah perusahaan kontraktor sebagai tenaga kontrak. Kalau tidak salah, usiaku 27 tahun waktu itu.
Suatu hari pimpinan perusahaanku, sebut saja namanya pak Amin, menyuruhku untuk datang ke rumahnya. Ia butuh bantuan membenahi jaringan listrik yang kerap mengalami korsleting. Kebetulan saat itu di ruang tamu rumah pak Amin sedang ada acara arisan yang diadakan istri pak Amin. Keadaan di sana agak gelap karena lampu padam. Aku pun segera bekerja mencari penyebab korsleting agar acara arisan tidak terganggu.
Saat aku membawa tangga melewati ruang keluarga yang berbatasan dengan ruang tamu, kulihat ibu-ibu dengan dandanan wah sedang berceloteh dengan riuhnya. Tiba-tiba kudengar salah seorang dari mereka memanggil ke arahku. Begitu aku menoleh, mereka memandangiku. Tentu saja aku jadi salah tingkah. Aku jadi makin salah tingkah karena tak seorangpun dari mereka yang mengajakku bicara. Bergegas aku berlalu sebelum wajahku memerah. Kudengar celotehan mereka makin riuh.
Akhirnya, tak sampai setengah jam pekerjaanku selesai. Ibu-ibu itu bertepuk tangan saat lampu menyala.
Beberapa hari kemudian pak Amin memanggilku. Katanya, salah seorang teman arisan bu Amin, sebut saja namanya bu Diah, butuh orang untuk memasang titik-titik lampu baru di rumahnya yang baru direnovasi.
Dengan berbekal petunjuk dari pak Amin, aku berangkat naik angkot menuju rumah bu Diah. Sampai di tujuan, seorang laki-laki tua menyambut kedatanganku dan mempersilakanku masuk. Setelah menunggu bebeberapa menit bu Diah muncul menemuiku.
Ternyata bu Diah orangnya cantik dan ramah. Penampilannya sederhana, tapi tetap saja berkesan orang kaya. Busananya yang ketat menampakkan lekuk liku tubuhnya yang indah. Memang tidak begitu langsing, tapi juga tak layak disebut gemuk. Cara berjalannya anggun. Tutur katanya lemah lembut, tak ada kesan arogan sebagaimana orang kaya menghadapi orang susah seperti aku. Hal itu membuatku merasa nyaman.
Rumah bu Diah tergolong besar, terlebih setelah renovasi. Arsitekturnya klasik. Setelah sepakat tentang ongkos kerjanya, aku mulai melakukan survey, dengan dipandu langsung oleh bu Diah yang menentukan lokasi titik lampu yang dihendaki serta tambahan saklar dan stop kontak baru. Setelah menghitung item-item yang dibutuhkan, aku pergi ke toko listrik.
Karena banyaknya titik yang harus dipasang, pekerjaan tidak selesai hari itu dan kukatakan pada bu Diah untuk melanjutkan esok harinya. Bu Diah tanya di mana aku tinggal, dan ketika kukatakan alamat tempat tinggalku, Bu Diah menyarankan untuk nginap di rumahnya saja. Aku tak keberatan karena kosku memang jauh dari rumah bu Diah.
Bu Diah menunjukkan kamar yang bisa kutempati malam itu. Letaknya terpisah dari rumah utama, berjajar dengan dapur, kamar mandi, tempat cucian dan gudang, serta bersebelahan dengan kamar pembantu. Aku tak khawatir soal makan, karena bu Diah menyediakan untukku. Begitu juga dengan jajanan kecil dan rokok. Soal baju, aku pun tak risau, karena bu Diah meminjamkan baju anaknya. Walaupun agak kekecilan sedikit, tapi lumayanlah daripada aku tak ganti baju sama sekali.
Untuk menghabiskan waktu sebelum tidur, aku ngobrol di belakang rumah dengan 2 pembantu bu Diah yang ternyata sepasang suami istri, sebut saja namanya pak dan bu Kosim. Kutaksir mereka seusia bapak ibuku. Mereka ikut bu Diah sudah lama. Dulunya mereka jadi pembantu di rumah orang tua bu Diah, tapi begitu kedua orang tua bu Diah meninggal, mereka ganti ikut bu Diah.
Menurut cerita pak Kosim, anak bu Diah ada 2 yang semuanya anak tiri. Anak pertama bekerja di Amerika dan dapat istri orang sana, sedangkan yang bungsu juga sudah menikah dan bekerja di perusahaan tambang minyak di Turki (kalau tidak salah, karena aku sudah agak lupa nama negaranya). Suami bu Diah yang seorang pensiunan pejabat meninggal 1 tahun lalu karena serangan jantung.
Bu Kosim menambahkan, bu Diah dinikahi almarhum suaminya ketika masih kuliah. Beda usia mereka 15 tahun. Meski begitu, bu Diah sangat mencintai suaminya yang baik, penuh perhatian, pemurah dan taat ibadah. Suami bu Diah duda beranak 2 yang ditinggal mati istrinya. Sayangnya, dari pernikahan itu bu Diah tidak mempunyai anak seorang pun.
Dari cerita pak dan bu Kosim itu kuperkirakan usia bu Diah sekitar 40-45 tahunan, tapi ia tampak lebih “kinclong” dari usianya. Pasti lah berkat perawatan wajah dan tubuhnya, pikirku.
Keesokan harinya, aku lanjutkan lagi pekerjaanku. Semuanya berjalan lancar hingga menjelang istirahat makan siang. Bu Diah menemuiku dan mengajakku keluar dengan mobilnya. Katanya ia ingin beli kulkas baru dan ingin minta pendapatku tentang kualifikasi kulkas yang bagus. Seumur-umur belum pernah aku beli kulkas, mana tahu mana yang bagus atau tidak, kataku dalam hati. Tapi kupatuhi juga ajakannya. Kutinggalkan ransum makan siangku walaupun sebenarnya aku sudah lapar berat.
Usai berkeliling dari satu toko elektronik ke toko elektronik berikutnya, akhirnya bu Diah memutuskan membeli kulkas berukuran besar. Setelah itu ia mengajakku makan siang di sebuah restoran yang banyak dikelilingi kolam ikan. Terus-terang aku jadi kikuk makan berdua dengan orang yang statusnya jauh berbeda denganku. Maklum, sehari-harinya aku makan di warteg. Tapi karena keramahan bu Diah, lama-lama hilang juga kecanggunganku.
Acara makan itu rasanya seperti ajang interogasi bagiku. Bu Diah banyak bertanya tentang aku. Kuceritakan semua pengalamanku padanya, hingga akhirnya sampai di Bandung. Kulihat bu Diah sangat antusias mendengar ocehanku. Berkali-kali ia memujiku sebagai orang yang ulet dan pantang menyerah. Ia juga menyindirku, sebagai laki-laki petualang, pastilah banyak punya pacar. Aku hanya tertawa mendengar ucapannya.
Hari ke 3, aku dibuat terpana oleh bu Diah. Betapa tidak. Saat aku mulai bekerja pagi itu, bu Diah keluar dari kamarnya dengan mengenakan baju yang terbuka di bagian leher dadanya. Dia menghampiriku yang sedang berada di atas tangga untuk menanyakan apakah aku sudah sarapan atau belum. Darahku berdesir ketika melihat dadanya yang menyembul. Maklum, sudah berbulan-bulan aku tak punya kesempatan menyalurkan hasrat, sehingga melihat sesuatu yang “menantang” seperti itu langsung “greng”. Cepat-cepat kupalingkan muka dan berpura-pura meneruskan tugasku memasang fitting di langit-langit seraya menjawab kalau aku sudah sarapan. Aku tak mau bu Diah tahu kalau aku terpesona pada dada indahnya. Bu Diah kemudian berlalu menuju ruang keluarga dan menonton TV di sana.
Karena tingginya tingkat kesulitan yang kuhadapi, ditambah lagi bu Diah yang sering mengajakku pergi untuk menemaninya, entah itu cari kekurangan bahan yang kubutuhkan atau belanja di mall, praktis pekerjaanku baru bisa selesai dalam waktu 6 hari. Untungnya pak Amin memberikan kelonggaran padaku untuk meninggalkan pekerjaanku di proyek. Mungkin karena ia kenal baik dengan bu Diah, makanya tak begitu mempersoalkan ketidakhadiranku di proyek.
Waktu pekerjaanku selesai, bu Diah memberikan tambahan ongkos kerja untukku, karena hasil kerjaku dinilai sangat baik olehnya. Tentu saja aku sangat senang, karena jumlahnya sebesar ongkos kerja yang telah disepakati di awal. Artinya aku dapat upah 2 kali lipat.
Beberapa hari sejak perjumpaanku dengan bu Diah, aku merasakan sesuatu yang tak biasa. Entah kenapa, ingatanku selalu saja tertuju pada bu Diah. Apalagi saat menjelang tidur. Mungkin saja karena kecantikannya, kebaikannya, perhatiannya, atau hanya gara-gara melihat “penampakan” dadanya yang putih ranum itu, aku tak tahu. Yang jelas, aku tak pernah berhenti memikirannya. dan berharap bertemu lagi dengannya. Saat itu aku merasa betapa bodohnya aku jika rasa yang muncul di hatiku adalah cinta. Belum pernah aku mengalami seperti ini, jatuh cinta pada perempuan yang secara usia jauh lebih matang, kaya raya pula.
Biasanya, jika aku jatuh cinta, aku akan langsung mengutarakannya pada perempuan yang menarik perhatianku. Dan usianya pastilah lebih muda dariku. Minimal sama. Tapi pada bu Diah jelas tak mungkin. Kalaupun mungkin, hanya dalam mimpi. Jurang pemisah di antara aku dengannya sangat lebar. Tak ada yang bisa kulakukan selain mengubur dalam-dalam rasa itu dan mulai melupakan bu Diah.
Namun tampaknya kisahku bersama bu Diah belum berakhir. Dua minggu kemudian pak Amin lagi-lagi memanggilku. Katanya, bu Diah butuh bantuanku lagi. Maka atas seijin pak Amin dan dengan langkah ringan kutinggalkan lokasi proyek, menunggu angkot yang searah dengan kediaman bu Diah. Gadis cantik yang duduk di sampingku tak lagi menarik perhatianku. Pikiranku hanya tertuju pada bu Diah dan bu Diah.
Aku merasa seperti kembali menjadi ABG begitu langkahku sudah dekat dengan rumah bu Diah. Jantungku berdegup kencang. Lebih-lebih ketika aku dipersilakan oleh pak Kosim untuk menunggu di teras rumah, satu menit serasa seminggu. Tubuhku panas dingin. Aku langsung berdiri saat ia membuka pintu rumahnya dan menyambutku dengan ramah. Aku berharap ia tak melihat mataku yang berbinar karena senang bisa menatap lagi wajah cantiknya.
Di teras bu Diah mengutarakan maksudnya meminta bantuanku untuk memeriksa kondisi villanya yang ada di Lembang yang katanya sering terjadi korsleting. Aku langsung mengiyakan saat ia menanyakan apakah ongkos kerja sama dengan sebelumnya. Mukaku bersemu merah, malu, ketika ia memintaku untuk mengemudkan mobilnya yang sudah siap di halaman. Mana bisa aku mengemudi mobil, sedangkan mengendarai motor saja bisa dihitung dengan jari, karena motor pinjaman.
Sampai di villa aku langsung berkeliling mensurvei. Kulihat memang banyak plafon yang lapuk karena kena bocoran air hujan. Artinya, aku tidak bisa bekerja sendiri. Aku butuh bantuan tukang kayu atau tukang bangunan untuk membenahi bagian-bagian villa berkamar 3 yang bocor. Dan waktu pengerjaannya pun tidak sebentar. Kuperkirakan sekitar 2 minggu. Ketika kusampaikan hal itu pada bu Diah, ia langsung memerintahkan mang Dudung (nama samaran), penjaga villa bu Diah, untuk mencari tukang yang kumaksud.
Dua hari kemudian, bu Diah mengajakku ke villanya lagi untuk mulai bekerja. Dan supaya tidak perlu bolak-balik Bandung-Lembang, bu Diah memintaku untuk tinggal saja di villa sampai pekerjaan selesai dan aku dipercaya olehnya untuk menjadi mandor bagi kedua tukang yang bertugas mengganti plafon dan kayu-kayu yang lapuk. Aku tak perlu risau soal pak Amin, karena bu Diah sudah bicara langsung dengan beliau untuk pinjam tenagaku.
Sore harinya bu Diah kembali ke Bandung, sementara kedua tukangku pulang karena mereka berasal dari sekitar situ. Sebelum pulang ia memberikan sejumlah uang untuk membeli bahan-bahan tambahan yang mungkin diperlukan untuk renovasi. Juga untuk beli makan buatku dan tukang. Untuk tidur, tadinya aku mau nebeng di kamar mang Dudung di belakang, tapi bu Diah menyuruhku menempati salah satu kamar yang ada di dalam villa yang belum dibongkar plafonnya dan mengijinkanku memakai kamar mandi yang ada di kamar tidur utama.
Hari keempat bu Diah datang lagi ke villa. Kali ini ia membawa sekoper pakaian. Ia berencana menginap juga di villa agar bisa turut mengawasi jalannya renovasi. Karena ia menempati kamar yang semula kupakai tidur, barang-barangku pun kukeluarkan semua dari kamar itu dan kupindahkan ke ruang tamu dekat sofa yang akan kupakai untuk tidur. Dan sore itu aku mandi di kamar mandi luar yang ada di dekat kamar mang Dudung yang tempatnya agak di belakang villa.
Setelah makan malam, kami nonton TV sambil ngobrol. Bu Diah tampak rileks sekali bicaranya, seolah kami sudah kenal lama dan tidak terbatasi perbedaan status maupun usia. Ada saja bahan obrolan yang ia lontarkan, sehingga suasananya terasa hidup.
Jam 9 malam, bu Diah pamit padaku untuk tidur, sementara aku melanjutkan nonton TV. Ia berpesan, kalau aku butuh ke kamar kecil bisa pakai kamar mandi yang ada di kamarnya agar tidak perlu jauh-jauh ke kamar mandi luar. Kuiyakan saja pesannya, walau sebenarnya aku keberatan karena merasa tak enak harus keluar masuk kamarnya hanya untuk ke kamar kecil.
Tapi dasar aku penakut. Suasana sepi yang mencekam dan remang-remang karena beberapa lampu sudah dimatikan oleh mang Dudung, membuatku ragu untuk ke kamar kecil luar. Celakanya, aku harus sering ke kamar kecil jika kedinginan. Untung di ruang tamu yang kutempati ada sebuah ember kecil yang biasa digunakan untuk menampung air hujan.
Akibat bolak-balik buang air kecil, ember itu jadi penuh dengan air seniku. Padahal aku sudah kebelet sekali untuk buang air kecil lagi. Tersiksa sekali rasanya. Aku pun tak mungkin membuang isi ember itu ke pekarangan, karena pasti baunya akan menyebar kemana-mana.
Karena sudah tak tahan, akhirnya kuberanikan diri untuk menggunakan kamar mandi di kamar bu Diah yang letaknya dekat dengan ruang tamu. Tampaknya bu Diah sengaja tidak menutup pintu kamarnya rapat-rapat agar aku bisa keluar masuk sesukaku. Kubuka pintu dengan hati-hati agar tak mengganggu tidurnya. Dalam kamar kulihat ia tidur berselimut dengan posisi menghadap dinding. Aku berjalan agak berjingkat menuju kamar mandi karena tak ingin bu Diah mendengar langkahku. Siapa tahu ia kaget lalu spontan meneriakiku maling.
Selesai buang air kecil, aku harus berjingkat lagi untuk keluar dari kamar bu Diah.
Jam 1 dini hari aku terjaga, lagi-lagi karena kebelet buang air kecil. Sambil berjalan menuju kamar bu Diah aku memaki kebiasaanku itu. Begitu masuk kamar bu Diah, kulihat selimutnya sudah teronggok di lantai. Mungkin jatuh saat ia bergerak dalam tidurnya. Yang membuat darahku berdesir, daster bu Diah tersingkap hingga dalam keremangan cahaya aku bisa melihat paha mulusnya. Aku tertegun. Sontak jantung berdegup kencang. Sebagai laki-laki normal, terus terang aku terangsang. Tapi akal sehatku masih bisa bekerja dengan baik. Buru-buru kupalingkan wajahku dan berjalan menuju kamar kecil.
Saat air seniku terkuras habis, batinku bergolak. Bayang-bayang paha mulus bu Diah menari-nari di benakku. Rangsangan yang muncul tadi mendadak terasa meronta ingin disalurkan. Darah mengalir lebih kencang ke kelelakianku, hingga otakku kehilangan kemampuan menormalkan akal sehatku. Wanita yang kukagumi yang beberapa hari terakhir ini menghiasi benakku kini tergolek menampakkan bagian tubuh rahasianya. Spontan birahi meronta.
Birahi yang meletup-letup itu mendorongku keluar kamar mandi dengan jemariku masih menggenggam erat kelelakianku yang menjulang seperti batu karang.
Genggamanku tak lagi bisa diam saat menatap bagian bawah tubuh bu Diah yang terbuka sebagian. Batinku bergejolak makin tak menentu, antara hasrat untuk mendekati bu Diah dengan bayangan resiko yang harus kuhadapi andai bu Diah memergoki perbuatanku. Ya, kesadaranku yang semakin menipis mengatakan, bu Diah rela berbagi kamar mandi denganku karena telah mempercayaiku seratus persen. Tak mungkin aku macam-macam padanya. Bisa jadi aku sudah dianggap seperti anaknya sendiri, sehingga ia tak menaruh prasangka buruk padaku.
Tapi nafsu birahiku tak mau diajak kompromi. Aku tak mampu lagi membendung dorongan hasrat yang menggelegak. Antara sadar dan tidak, aku berlutut di dekat ranjangnya, tepat di depan betis dan pahanya yang demikian menggoda. Nafasku makin memburu seiring dengan gerakan genggaman tanganku. Hasrat untuk menyentuh, meraba, dan menciumnya begitu kuat. Tapi aku tak ingin bu Diah terbangun. Aku hanya bersimpuh saja di situ, memandanginya dengan tatapan liar. Sesekali mataku terpejam, menikmati setiap gesekan di kelelakianku sambil membayangkan bu Diah yang melakukannya. Kudengar nafas bu Diah teratur. Tampaknya ia tidur sangat nyenyak.
Hal itu membuatku tak puas dengan hanya begitu. Dengan hati-hati kusentuh salah satu paha bu Diah. Beberapa detik kubiarkan satu tanganku menempel di situ. Aku menunggu reaksi bu Diah. Jika ia beringsut, aku segera melepaskan sentuhanku. Ternyata tak ada reaksi dari bu Diah. Bahkan saat kuusapkan tanganku pelan-pelan, menjalar makin ke atas. Karena bu Diah masih tak bereaksi, aku makin kesetanan. Kusibak lebih tinggi daster bu Diah hingga aku bisa melihat celana dalamnya yang berwarna hitam. Spontan, degup jantungku makin kencang. Satu tanganku menyentuh dan mengelus dengan hati-hati pantatnya yang bulat penuh, sementara tanganku satu lagi bergerak-gerak di dalam celanaku.
Tiba-tiba kudengar bu Diah menggumam, lalu beringsut. Secara refleks kulepaskan sentuhanku lalu merapatkan tubuhku ke lantai di samping ranjangnya agar ia tak bisa langsung melihatku jika membuka matanya. Bu Diah telah berubah posisi tubuhnya jadi telentang. Kutunggu beberapa saat dengan jantung berdebar. Begitu mendengar nafasnya yang teratur, aku kembali berlutut.
Kedua bola mataku tak berkedip manakala kulihat posisi kakinya yang agak mengangkang hingga aku bisa melihat dengan jelas bagian depan celana dalamnya. Aliran darahku langsung mengalir makin kencang, sekencang genggaman pada kelelakianku. Kuraba dengan lembut bagian tubuh bu Diah yang tertutup celana dalam putih dengan penuh perasaan. Sejurus kemudian satu kakiku sudah naik ke ranjang karena aku terdorong untuk mengecup bagian itu.
Dengan penuh perasaan kuciumi dan sesekali kujilati bagian bawah tubuh bu Diah, sementara satu tanganku bekerja makin kencang dan makin kencang. Beberapa menit kemudian aku mengejang. Cairan hangatku tumpah ke paha bu Diah. Aku tak berlama-lama merasakan kenikmatan itu karena akal sehatku kembali normal. Kuambil tisu di meja rias lalu dengan hati-hati kubersihkan paha bu Diah. Sebelum berlalu, kubenahi daster dan selimut bu Diah.
Saat berbaring lagi di ranjangku aku berpikir, bagaimana aku bisa senekad itu? Bagaimana jika bu Diah memergoki perbuatanku? Bisa-bisa aku dilaporkan ke polisi dengan tuduhan pelecehan seksual. Namun kelelahan yang mendera setelah bekerja seharian dan diakhiri dengan tersalurnya hajat yang lama terpendam membuat pikiran-pikiran itu sirna dengan sendirinya karena aku segera terlelap.
Pagi harinya, saat terbangun dari tidurku aku sempat merasa kikuk karena ingat kejadian semalam. Jam di dinding menunjukkan pukul 5 lebih. Suasana sepi dan dingin saat itu membuatku enggan bangkit dari tempat tidur. Aku melamun. Rasanya sulit percaya kalau tadi malam aku “mencuri kenikmatan” atas diri bu Diah, wanita yang selama ini begitu baik padaku. Batinku berkecamuk dipenuhi rasa bersalah. Aku merasa telah melecehkannya. Jantungku berdebar. Muncul kekhawatiran kalau-kalau bu Diah tiba-tiba muncul dan mendampratku karena telah berbuat tidak senonoh padanya. Buru-buru aku bangkit dan memberesi tempat tidur, kemudian bermaksud untuk mandi di kamar mandi luar. Namun bertepatan dengan saat kubuka pintu, bu Diah datang dengan membawa nampan berisi roti bakar dan kopi susu. Begitu masuk, ia dorong pintu kamar dengan sebelah kakinya hingga menutup.
“Sudah bangun, Jek?”, kata bu Diah sambil tersenyum padaku. Ia nyelonong masuk melewatiku dan kemudian letakkan nampan di atas meja.
“Ya, bu”, jawabku agak tergagap.
“Sarapan yuk. Dingin-dingin begini pasti lapar ‘kan?” ajak bu Diah.
Melihat sikapnya yang biasa-biasa saja, aku menduga sekaligus berharap ia benar-benar tidak menyadari kalau malam itu aku telah berbuat kurang ajar padanya. Aku jadi lega meski juga malu pada diriku sendiri. Aku berusaha bersikap wajar.
“Saya mandi dulu ya, bu”, jawabku sedikit gugup. Dengan agak menunduk-nunduk sebagaimana lazimnya bawahan kepada atasan, aku berlalu dari kamar. Bu Diah memanggilku saat aku berbelok ke arah di mana kamar mandi luar berada.
“Ngapain mandi di luar? Di kamarku saja! Handuk bersih juga ada di kamar mandi. Pakai saja itu!”, ujar bu Diah bernada memerintah.
Saat aku diliputi keraguan dan canggung, bu Diah menarik tanganku sambil berkata, “Sudah mandi sana cepat. Nanti roti bakarnya keburu dingin”.
Mau tak mau aku masuk ke kamar bu Diah dan bergegas masuk ke kamar mandi.
Selesai mandi, bu Diah sudah menungguku di dalam kamarnya untuk sarapan. Meski telah beberapa kali makan bersama, tapi tetap saja aku merasa canggung. Apalagi jika memikirkan kejadian malam itu. Yang membuat aku makin blingsatan, baik aku maupun bu Diah sama-sama membisu. Biasanya bu Diah punya banyak bahan obrolan, tapi entah kenapa saat itu ia lebih banyak diam. Ia pun hanya memakan rotinya setengah, lalu menyeruput teh hangatnya. Dari sudur mataku terlihat kalau wajah bu Diah muram. Ini membuat perasaanku tak tenang. Jangan-jangan bu Diah tahu kejadian semalam, pikirku kalut. Roti yang kumakan serasa menyumpal tenggorokanku. Kuteguk kopi susuku agar gumpalan roti itu tergelontor masuk ke perutku. Kurasakan butiran keringat dingin mengalir di pelipisku.
Tiba-tiba suara bu Diah yang lembut memecah kesunyian dan membuatku kaget bukan kepalang.
“Apa yang kamu lakukan tadi malam, Jek?”, katanya. Matanya tajam menatapku.
Suara bu Diah masih lemah lembut seperti biasa, tapi kali ini kudengar seperti petir menggelegar di siang bolong. Aku kaget setengah mati. Tak ada lain yang bisa kulakukan selain tertunduk malu. Jari-jemariku gemetar. Jika ada pedang di situ saat itu, aku pasti langsung melakukan harakiri (bunuh diri ala Jepang) saking malunya.
“Maaf, bu Diah. Aku …”, suaraku terbata-bata, mencari kalimat yang tepat untuk menjelaskan kepada bu Diah. Lidahku terasa kelu. Seandainya bu Diah menamparku, atau menyiramkan teh hangatnya ke wajahku, aku siap. (Bersambung)
Jika Anda berminat mengirim curhat, klik di sini.








