Main-main Jadi Sungguhan

Jimmy, 31 tahun, Jakarta:

Pertemuan dengan mantan dosenku, sebut saja namanya bu Helen, di acara pernikahan teman kuliahku menorehkan kenangan khusus bersamanya.

Waktu itu aku masih kuliah semester I ketika pertama kali melihat sosok bu Helen. Cantik, kulitnya putih bersih, tapi angkuh. Mahal senyum. Aku baru jadi mahasiswanya ketika semester III dan saat itu kurasakan ia makin menyebalkan saja.

Suatu ketika aku sesumbar di hadapan beberapa teman kuliahku saat kami ngumpul di rumah salah satu dari kami untuk mengerjakan tugas dari bu Helen. Kukatakan, aku akan menjadikannya pacarku paling lambat dalam waktu 6 bulan ke depan. Bahkan kemudian kami pun taruhan, kalau aku berhasil menggaet bu Helen, mereka akan patungan mentraktirku makan apapun yang kusukai di restoran termewah di kotaku. Wow!

Secara usia memang tak sepadan antara aku dengan bu Helen. Menurut informasi, bu Helen usianya 15 tahun di atasku. Tapi toh aku cuma iseng, sekedar ingin menaklukkan keangkuhannya. Mungkin ia merasa cantik hingga bersikap seperti itu. Hal itulah yang membuatku tertantang.

Aku mengambil mata kuliah bu Helen pada semester III dan IV, dan itu adalah kesempatanku untuk melakukan PDKT dengannya. Apalagi mata kuliahnya tergolong sulit, sehingga aku punya alasan untuk bertanya terus padanya, baik saat jam kuliah maupun di luar kuliah. Dengan gaya bloon (memang aku bloon kali ya?) dan noting to lose aku mendatangi ruang kerjanya untuk menanyakan pelajaran-pelajaran yang tak kumengerti.

Ternyata memang sulit menemui bu Helen di luar jam kuliahnya. Ia sering tidak ada di tempat. Kalaupun ada, selalu mengatakan kalau ia sedang sibuk. Tapi aku tak putus asa, demi misi penaklukan yang sudah kusepakati dengan teman-temanku. Aku rela menunggu berjam-jam di depan ruang kerjanya demi mendapatkan simpati dari bu Helen kalau aku serius ingin menghadap.

Entah karena iba atau karena tak punya alasan lain, akhirnya bu Helen mengijinkanku masuk ke ruangannya. Akupun mulai beracting sebagai mahasiswa polos yang tak paham pelajaran yang diajarkannya. Dan bu Helen (entah ikhlas atau terpaksa) mengajariku dengan gaya angkuhnya dan kadang suaranya meninggi kalau aku tak ngerti juga penjelasannya.

Suatu hari, hujan turun sangat deras. Aku baru selesai kongkow-kongkow dengan teman-temanku usai kuliah dan mengendarai mobilku (maksudku mobil papiku) untuk pulang. Ketika melewati halte bus depan kampus aku melihat bu Helen sedang berdiri di sana. Aku segera memutar balik mobilku dan mendekati halte. Tanpa mempedulikan hujan, aku turun dari mobil dan menghampiri bu Helen, bermaksud mengantarnya pulang. Semula ia menolak dengan halus tawaranku. Tapi aku tak putus asa. Kutawarkan diri untuk menemaninya menunggu bus kota. Saat itulah tiba-tiba payung yang diletakkan di dekat kakinya terbang terhembus angin. Spontan aku berlarian mengejar payung bu Helen di tengah hujan deras dan nyaris tertabrak taksi. Tentu saja tubuhku jadi basah kuyup. Kulipat payung bu Helen dan kuberikan kepadanya. Bu Helen menyuruhkan untuk pulang saja agar aku tak masuk angin. Tapi aku bersikeras akan menemaninya di situ, kecuali kalau ia mau kuantar pulang.

Agaknya sikap keraskepalaku membuat hati bu Helen luluh. Ia akhirnya mau masuk ke mobilku untuk kuantar pulang. Dalam perjalanan kami bicara banyak hal dan dari situ baru aku tahu kalau bu Helen ternyata suka ngobrol juga. Sesekali ia tertawa lepas saat aku cerita yang lucu.

Sejak itu, sikap bu Helen kurasakan lebih lunak padaku. Ia bersedia meluangkan waktu lebih lama untuk memberikan bimbingan di ruang kerjanya atau sekedar ngobrol yang tak ada hubungannya dengan mata kuliah.

Selain melakukan PDKT langsung, aku juga getol mencari informasi lebih banyak tentang bu Helen dari berbagai sumber. Tapi tentunya bukan dari kalangan dosen. Dua bulan aku berburu informasi, dan tak disangka-sangka justru dapat dari sepupuku sendiri, sebut saja namanya Tata.

Waktu kumpul keluarga saat Natalan di rumah mbak Tata, bu Helen datang juga. Ternyata mereka sahabatan waktu SMA. Aku sempat kaget saat melihat bu Helen datang, karena sama sekali tak menyangka. Jadilah hari itu aku jadi bahan gurauan keluarga besarku, karena bu Helen cerita kalau aku paling susah mengikuti pelajarannya.

Begitu bu Helen pulang, aku mengorek informasi dari mbak Tata. Katanya, bu Helen dulu pernah pacaran dengan teman kuliahnya, sebut saja Willy. Hubungan mereka berlanjut hingga lulus. Bu Helen melanjutkan kuliah S2, sementara Willy bekerja di perusahaan multi nasional. Saat bu Helen lulus S2-nya dan menjadi dosen, Willy medapat tugas belajar ke Amerika. Yang membuat hati bu Helen hancur adalah ketika Willy kembali ke Indonesia, ia mendapat pacar baru yang sama-sama kuliah di Amerika. Willy kemudian menikahi pacarnya itu.

Lama aku termenung memikirkan bu Helen. Kurasa ia menjadi angkuh gara-gara sikap pacarnya itu. Gilanya, hal ini tak membuatku surut langkah menaklukkan hati bu Helen. Aku tetap pada misiku semula. Dan yang lebih menggembirakanku, bu Helen makin ramah kepadaku. Mungkin karena ia sudah tahu kalau sahabatnya adalah sepupuku.

Begitu bu Helen tak menjadi dosenku, aku lebih gencar melancarkan pendekatan. Aku bahkan berani mengajaknya makan berdua. Semula bu Helen menolakku dengan alasan sibuk. Tapi ketika libur semesteran aku mengulangi ajakanku, ia tak punya alasan lagi. Jadilah kami makan berdua di sebuah restoran bernuansa romantis. Sebelumnya, aku sudah mengontak teman-teman yang bertaruh denganku untuk mengikuti, agar mereka tahu kalau aku berhasil.

Tapi dasar teman-temanku, aku dianggap belum berhasil karena aku terbantu dengan hubungan baik bu Helen dan mbak Tata. Salahku juga, kenapa menceritakan kehadiran bu Helen di rumah Tata waktu Natalan itu.

Aku tak peduli dengan sikap teman-temanku yang ingkar janji. Aku merasa aku sudah cukup punya nyali untuk menaklukkan dosen yang termasuk klasifikasi “killer” di kampusku dan aku puas. Aku memutuskan untuk menghentikan misiku.

Ilustrasi.
Namun, hal yang terduga terjadi. Aku merasa sangat kangen pada bu Helen. Sehari tak bertemu aku jadi sangat gelisah. Menjelang tidur, wajahnya selalu terbayang-bayang di benakku. Aku memaki diriku sendiri. Tak mungkin aku jatuh cinta padanya. Aku berusaha keras menepis pikiran itu.

Aku makin terpuruk dalam kegalauan ketika suatu hari bu Helen meneleponku. Ia minta ditemani nonton film. Sebetulnya aku ragu mengiyakan ajakannya karena takut akan makin tenggelam dalam lautan cinta padanya, tapi entah kenapa aku sanggupi saja ajakannya. Mungkin karena perasaan kangen yang terpendam padanya.

Dalam perjalanan menuju rumahnya aku sudah bertekad untuk bersikap biasa-biasa saja, tak lagi melancarkan 'jurus maut'.

Namun sayang tekadku sirna seketika saat kami duduk berdampingan di keremangan gedung bioskop. Apalagi kami dapat kursi di jajaran paling belakang, persis di bawah proyektor, dan penontonnya tidak begitu banyak.

Aku tak mampu menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu. Mula-mula kusentuh tangan bu Helen, seolah-olah tak sengaja. Darahku berdesir hangat manakala kurasakan betapa halus tangan bu Helen. Anehnya, bu Helen tak berusaha menepis tanganku, hingga membuatku berani menggenggamnya dan mataku jadi tak konsentrasi ke layar.

Cukup lama juga kami saling bergenggaman tangan. Pada pertengahan film, kuangkat pelan-pelan tangan kami dan aku mencium tangan bu Helen. Saat itulah bu Helen menoleh ke arahku. Kami pun saling berpandangan sejenak. Tanpa kusadari, kudekatkan wajahku ke wajah bu Helen dan … kucium lembut bibirnya. Hanya sekejap, karena bu Helen pelan-pelan menyandarkan kembali kepalanya ke sandaran kursi dan mengalihkan pandangannya ke layar. Aku hanya bisa menyatakan maaf dengan nada lirih dan tersendat. Jantungku berdegup makin kencang.

Kejadian di gedung bioskop itu begitu membekas di benakku. Hingga pagi mataku sulit sekali terpejam. Seisi kepalaku penuh dengan bayang-bayang bu Helen. Begitupun harum nafasnya. Aku betul-betul gila dibuatnya. Aku tak ingin jatuh cinta padanya, tapi hati kecilku tak dapat mengingkarinya. Aku terjerumus dalam jebakan yang kupasang sendiri.

Bila dulu bertemu bu Helen aku biasa-biasa saja, kini begitu mendebarkan. Aku berusaha menghindar bertemu dengannya hanya karena aku tak ingin terlihat salah tingkah. Lagi pula, demi kebaikanku sendiri, karena tak mungkin aku memacarinya. Waktu pulang dari bioskop waktu itu kami hanya diam membisu. Bu Helen selalu mengarahkan pandangan ke jendela mobil, seakan tak ingin bertatapan muka denganku. Aku merasa dia marah karena aku telah lancang mencuri ciumannya padanya. Aku pun tak berani mengajaknya bicara, apalagi mampir saat tiba di rumahnya.

Beberapa bulan setelah nonton berdua, aku tak pernah bertemu atau sengaja menemui bu Helen. Teman-temanku selalu meledekku dan mendorongku agar melanjutkan misi, tapi tak kutanggapi. Selama libur semesteran aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, bermain playstation dengan adikku.

Setahun kemudian, mbak Tata datang ke rumahku dan menyodorkan sebuah undangan pernikahan. Aku sangat kaget, karena yang akan menikah adalah bu Helen dan Willy, bekas pacarnya. Kusembunyikan rasa terkejutku dalam-dalam saat kukatakan pada mbak Tata, bahwa Willy sudah menikah dengan perempuan lain sebagaimana diceritakan mbak Tata dulu. Kata mbak Tata, istri Willy meninggal bersama bayi dalam kandungannya saat proses persalinan. Beberapa bulan setelah itu Willy menemui bu Helen dan mereka kembali berhubungan, hingga akhirnya bu Helen menerima lamaran Willy.

Ilustrasi.
Jujur saja, aku sangat terpukul mendengar berita itu. Tapi aku tak mampu berbuat apa-apa. Aku merasa ini adalah hukuman buatku atas perbuatanku mempermainkan bu Helen. Aku berusaha untuk tidak cengeng.

Saat acara pernikahannya, aku ajak beberapa temanku untuk datang. Bu Helen nampak sangat cantik dan anggun dalam balutan gaun pengantin berwarna putih. Ia tampak sangat bahagia. Dan aku tibat-tiba merasa sangat kesepian. Sangat kehilangan.

Waktu bertemu di acara nikahan teman kuliahku waktu itu, bu Helen datang bersama suami dan dua anaknya. Saat ia menanyakan, kapan aku menikah, kujawab kalau aku menemukan sosok seperti bu Helen. Ia hanya tertawa mendengar jawabanku. Memang aku menjawab sambil bercanda, tapi jauh di lubuk hatiku aku bersungguh-sungguh. (*)

Seperti diceritakan ybs kepada tim JBSS.

Artikel Terkait Curhat