Jika aku mengingat tanggal 4 Januari 2010, sungguh aku ingin menjerit, berteriak sekeras mungkin. Ingin rasanya aku kembali pada masa itu dan tak melakukan hal bodoh yang ternyata akan menghancurkan masa depanku sendiri.
Sebelumnya,kenalkan namaku Ferdi Ahmad (nama samaran), 21 tahun. Kini aku bekerja di Surabaya, di salah satu perusahaan terbesar di Indonesia.
Kisah ini kualami pada saat aku masih duduk di bangku salah satu SMK negeri di Bojonegoro, Jawa Timur. Berawal dari kisah cinta ku bersama gadis bernama Suci (nama samaran) yang tak lain adalh adik kelasku sendiri. Aku menjalin hubungan dengannya saat duduk di kelas 3 dan usiaku 17 tahun saat itu.
Suci adalah gadis yang paling cantik di sekolahku. Wajah ayu dan lembut, kulit putih,dan tubuhnya begitu indah,sehingga tak heran banyak lelaki di sekolahku yang berusaha mendapatkan cintanya. ia begitu dipuja para lelaki di sekolahku dan dikenal di sekolah lain di Bojonegoro.
Sebetulnya aku juga mengaguminya, tapi aku tidak pernah ada niat untuk menjadi pacarnya, karena kecil kemungkinan ia memilihku sebab banyak yang lebih sempurna dari pada aku.
Langsung saja kisah kelamku ini aku mulai.
Berawal dari keisenganku minta nomor HP Suci dari temanku. Begitu mendapat nomornya, aku akhirnya bisa komunikasi dengan Suci. Ternyata responnya padaku juga bagus. Mungkin karena aku termasuk siswa populer di sekolahku, baik karena prestasiku sehingga mendapatkan beasiswa dari sekolah, maupun penampilan fisikku yang kata teman-temanku lumayan ganteng dan serasi dengan tinggi badanku yang 173cm.
Sebetulnya waktu itu Suci sudah punya pacar, tapi aku tak begitu mempedulikannya. Prinsipku, sepanjang “janur belum melengkung” (istilah untuk orang yang sudah menikah), siapapun bebas mendekatinya. Begitu pula denganku.
Beberapa bulan kemudian, kudengar kalau Suci putus dengan pacarnya. Kesempatan ini tak kusia-siakan. Saat ada kesempatan berdua dengannya, langsung saja “kutembak” dia. Dan aku senang karena cintaku tak bertepuk sebelah tangan. Akhirnya kami pun jadian.
Kira2 - 3 bulan kami berpacaran, kami melakukan hal yang sangat dilarang oleh agama. Kami terbuai oleh nikmatnya madu cinta yang memabukkan hingga terjerumus dalam hubungan suami istri. Inilah awal petaka masa depan kami.
Kami adalah korban kemajuan teknologi yang tak didukung dengan pendidikan moral yang memadai. Maklumlah, dari kecil aku hanya dirawat oleh kakek dan nenekku karena ayah dan ibu bercerai. Di lain pihak, Suci sejak kecil ia ditinggal mati ayahnya karena serangan jantung, sehingga ia hidup dengan ibu dan ayah tirinya.
Dan, ini mungkin keegoisan dan kebodohanku, karena aku merekam adegan ranjangku dengan Suci. Sebenarnya Suci keberatan dengan tindakanku itu, tapi aku meyakinkannya kalau rekaman video itu hanya untuk dokumentasi pribadiku.
Terakhir kali kami melakukan hubungan intim hari Minggu saat kakek dan nenekku sedang tidak ada di rumah. Sekali lagi kami hanyut dalam lautan nafsu birahi yang bergejolak selama tak kurang dari 30menit lamanya. Aku bahagia sekali punya pacar Suci yang mau mengimbangi gairahku yang menggebu-gebu.
Namun kebahagiaan yang kami rasakan itu berubah menjadi bencana yang tak pernah kami bayangkan sebelumnya. Keesokan harinya, saat upacara dilakukan sweeping HP. Tas seluruh siswa diperiksa satu per satu untuk mengetahui ada tidaknya HP di sana.
Awalnya aku sedikit tenang, karena HP-ku kukantongi di saku celana. Namun jantungku berdegup kencang manakala dilakukan penggeledahan ke setiap siswa. Tak ayal, Pak Hari (nama samaran), salah satu guru yang turut bertugas menggeledah mengetahui aku membawa HP dari kantong celanaku yang menonjol. Tentu saja aku panik saat itu dan berusaha mengelak, Tapi kemudian aku didatangi seorang guru lagi (sebut saja namanya pak Yono) untuk membantu pak Hari.
Sempat kulirik Suci yang berdiri di barisan depan. Wajahnya tampak tegang menatapku. Secara refleks kulempar HP-ku jauh-jauh keluar pagar. Melihat reaksiku itu, pak Hari langsung menamparku, sementara pak Yono mencengkeram erat kedua tanganku. Aku sempat protes karena tidak semestinya mereka melakukan hal itu. Sebagai guru, mereka harus menjadi orang yg dapat dicontoh oleh anak didiknya. Tapi protesku tak digubris.
Setelah mencari-cari di rerumputan di luar pagar sekolah, akhirnya pak Hari menemukan HP-ku. Ia langsung membuka file-file yang ada di sana dan menemukan video pribadiku bersama Suci. Lantas,ia berikan saat itu juga kpd pakdeku yang menjabat sebagai Kepala Sekolah di sekolahku.
Ya Allah, ingin aku menangis saat mengingat kejadian itu. Dunia serasa kiamat. Pakde memanggilku ke depan lapangan upacara pada waktu upacara selesai. Di depan para siswa dan guru pakdeku melayangkan pukulan dengan penuh emosi menggunakan sepatunya. Aku hanya bisa pasrah saat sepatunya mendarat di tubuh dan pipi kiriku, Sungguh hal yang sangat memalukan bagiku dan juga bagi beliau.
Pukul 10 pagi hari berikutnya aku mendatangi kantor kepsek bersama dengan ayahku. Di situ pak kepsek lagi-lagi meluapkan emosinya,dengan memukuliku, tapi untung ayah segera melerai hingga tidak berlanjut. Aku hanya bisa menangis dan meminta maaf.
“Ferdi, kamu telah melakukan kesalahan yang sangat fatal dan memalukan. Ini sudah di luar batas kemampuanku untuk mempertahankanmu agar tetap sekolah disini. Dan hasil meeting bersama guru tadi pagi, memutuskan agar kamu dikeluarkan dari sekolah ini. Maafkan pakde, Fer", ujar pakde. Nada suaranya melunak. Tampak olehku sudut matanya basah berlinang air mata.
Astaghfirullah, aku serasa kehilangan hidupku, kehilangan semangatku. Aku merasa tiada lagi masa depan.
Sejak berita video intim kami itu menyebar, baik aku maupun Suci jadi bahan pergunjingan dan olokan teman-teman. Dan sebagai perempuan, Suci lah yang paling tertekan batinnya meskipun ia diberi kesempatan untuk menyelesaikan pendidikan hingga akhir semester dan mempunyai opsi untuk dipindahkan ke sekolah lain. Ia terus menangis karena malu dan batinnya dipenuhi dengan sesal. Tak ada lagi keceriaan dalam dirinya. Sekolah yang dulu ia anggap sebagai surga kini menjadi sebuah tempat yang mengerikan.
Teman-temannya mengucilkannya, sementara sahabat yang dulu ia kenal baik pun mulai menjauhinya. Tidak sedikit tatapan sinis dan cibiran yang ia dapatkan. Belum lagi tekanan dr siswa lelaki.
Akhirnya, setelah semesteran berakhir, ia memilih untuk tidak melanjutkan sekolah.
Bagaimana dengan aku? Sejak kasus itu merebak aku tinggal di rumah ayah di Surabaya. Tapi bukan berarti hidupku tenang. Rasa malu, sesal, dan marah pada diriku sendiri teus berkecamuk menghantuiku siang malam. Aku seperti mau gila rasanya.
Pernah kucoba untuk mengakhiri hidup, namun dapat digagalkan oleh kakak perempuanku. Dialah yang terus memotivasi dan memberi semangat padaku.
Berkat ketekunan kakak perempuanku, perlahan-lahan aku mulai dapat menerima keadaan ini. Namun saat terlintas dalam fikiranku kejadian waktu upacara hari itu, aku merasakan perih, pedih, seperti luka tersayat silet yang disiram air garam. Itulah gambaran pedihnya hatiku.
Malu, itu yang kurasakan saat pulang ke Bojonegoro. Seisi kampungku telah mengetahui semuanya. Namun beritanya sudah menjadi bias, karena ternyata ada beberapa versi yang dikarang atau dibuat-buat oleh orang-orang yang tak menyukaiku hingga memperkeruh suasana. Hal ini kian memberatkan beban fikiranku.
Bulan April 2010, atas kesepakatan antara orang tua Suci dan orang tuaku, aku menikahi Suci. Saat itu adalah saat menjelang Unas. Semua teman sekolahku sibuk mempersiapkan diri menghadapi Unas. Kembali kurasakan pedih dalam hatiku melihat keadaan ini.
Itulah sepenggal kisahku, dengan harapan bisa diambil hikmahnya buat teman-teman pembaca blog ini. Akhir kata, ijinkan aku yang telah berlumur dosa ini memberikan sedikit pesan. Perkuatlah selalu iman agar tidak mudah terjerumus pada lembah kenistaan. Jangan salah gunakan kemajuan teknologi, tapi justru jadikanlah teknologi sebagai pemacu prestasimu.
Kisahku tak lantas berhenti sampai di sini. Masih ada sepenggal kisah lagi setelah pernikahanku dgn Suci. Mungkin di lain kesempatan aku akan menceritakannya. (*)
