Cinta Satu Malam (2)

Jun (nama samaran), 40 tahun, Tangerang:

Waktu itu aku dapat tugas dari perusahaan untuk ikut workshop di kantor cabang di kota Semarang selama 3 hari. Sebagaimana kebiasaanku, malam harinya aku menyempatkan diri jalan-jalan di pusat kota yang merupakan ibu kota propinsi Jawa Tengah itu. Cuci mata sambil cari makan.

Selesai makan aku masuk ke salah satu mall terkemuka di kota itu. Secara tak sengaja aku bertemu dengan seorang wanita yang beberapa kali kutemui di pujasera yang baru buka tak begitu jauh kantor cabangku. Aku tak mengenalnya, tapi kuduga ia adalah salah satu pemilik gerai makan yang ada di pujasera, karena saat aku mencoba makan di sana, wanita bertahi lalat dekat bibir itu ikut membantu menyiapkan sajian.

Dengan sedikit berbasa-basi kudekati wanita itu. Tampaknya ia mengenaliku, karena begitu kuulurkan tanganku untuk menyalamiku, ia menyambutnya dengan hangat. Kusebut namaku dan ia pun menyebut namanya, Sofia (bukan nama sebenarnya). Ia hanya sendiri saja.

Mungkin karena telah pernah bertemu beberapa kali sebelumnya, kami pun cepat menyesuaikan diri. Kami pun ngobrol di tengah hiruk pikuk pengunjung mall. Waktu kutanya mana suaminya, Sofia hanya menjawab singkat “Nggak ikut”.

Karena tak ingin mengganggu acara belanjanya, aku pamit dan kami pun berpisah. Sebetulnya aku ingin minta nomor hapenya, tapi aku takut dikira mau macam-macam dengannya. Makanya kuurungkan niatku itu.

Keesokan petangnya kudatangi gerai makan milik Sofia. Begitu melihatku, ia langsung menyambutku dengan senyum manisnya sambil membawa daftar menu. Ia menawariku salah satu menu andalannya dan aku setuju.

Ketika makanan telah siap di meja, ia menawarkan diri untuk menemaniku. Aku tentu saja tak keberatan karena dapat teman ngobrol. Sofia ternyata orang sangat terbuka dan menyenangkan. Sambil makan, kami saling bertukar cerita tentang diri masing-masing, seolah teman karib yang lama tak bertemu. Aku pun berani minta nomor hapenya (walaupun aku tak tahu apa ada gunanya), dan ia dengan senang hati memberikan seraya minta ku-missed call agar ia juga punya nomorku.

Malam sekitar jam 10 aku tak bisa tidur. Pertemuan dengan Sofia mengguratkan satu kesan tersendiri dalam hatiku. Mungkin itu yang mendorongku untuk iseng meneleponnya. Sofia bilang ia sedang berberes-beres gerainya karena mau tutup. Tadinya aku merasa tak enak karena mengganggu kesibukannya, tapi dari nada suaranya ia tampak antusias menerima teleponku.

Tanpa kusadari mulutku keceplosan minta ia mampir di hotel tempat aku menginap. Tapi belum sempat aku meralat ucapanku, ia ternyata menerima tawaranku. Kontan jantungku berdebar. Padahal aku cuma iseng. Dalam hati aku bertanya-tanya, kok mau-maunya ia mampir padahal hari sudah hampir larut malam.

Segera kuberesi baju-bajuku yang berserakan. Malu kalau ia datang, kamarku dalam keadaan berantakan.

Jam 10.30 lebih Sofia tak kunjung datang. Aku pun berniat turun ke lobi untuk menunggunya di sana. Belum lagi aku melangkah ke pintu, kudengar suara ketukan. Ternyata Sofia datang sambil menenteng sebungkus jajanan khas Semarang.

Ia bertanya kepadaku apakah kehadirannya menggangguku. Tentu saja tidak, jawabku sambil mempersilakannya masuk.

Ilustrasi.
Sofia langsung duduk di bibir ranjang sambil menatap ke arah TV. Aku merasa agak canggung juga sebenarnya, karena baru sekali itu aku berada dalam kamar hotel dengan perempuan lain. Baru kenal pula. Tapi kecanggunganku langsung mencair begitu Sofia memulai obrolannya. Mula-mula dari hal yang ringan, kemudian menjurus ke pribadi kami masing-masing.

Kali ini Sofia blak-blakan menceritakan prahara rumah tangganya. Suaminya adalah pengusaha jual beli mobil bekas (mobkas) yang cukup berhasil. Setahun lalu suaminya menikah lagi dengan wanita lain yang seprofesi dengannya. Setelah menikah, wanita itu diberi rumah oleh suami Sofia di Cilacap dan membuka usaha jual beli mobkas di sana.

Alasan suaminya menikah lagi adalah karena Sofia tidak kunjung memberinya anak, padahal mereka sudah menikah lebih dari 15 tahun. Sofia sangat terpukul dengan keputusan suaminya itu, tapi ia tak berdaya melawan karena dari pemeriksaan medis ia memang mandul.

Bulan-bulan pertama suaminya masih berbuat adil. Satu minggu di Semarang, satu minggu di Cilacap. Tapi lama-lama suami Sofia makin jarang datang ke Semarang. Alasannya, usaha jual beli mobkas di Cilacap maju pesat, hingga bisa buka cabang di sana.

Sofia menolak tegas ketika suaminya mengajak pindah ke Cilacap juga. Ia tak mau tinggal sekota dengan madunya. Sejak itu Sofia berkeinginan untuk mencari uang sendiri. Ia mencoba beberapa usaha tapi gagal. Suatu ketika salah seorang temannya menawari gerai di sebuah pujasera yang baru dibuka dan ia pun coba-coba membuka usaha makanan dengan uang tabungannya.

Sambil bercerita, Sofia merebahkan tubuhnya di ranjang. Mungkin karena kelelahan setelah seharian bekerja. Kulihat kedua matanya berkaca-kaca. Kata Sofia, sudah 2 bulan ini suaminya tak datang. Ia hanya menelepon dan mengirimkan uang untuk biaya hidup Sofia sehari-hari.

Spontan kurebahkan tubuhku di samping Sofia, lalu kuusap dengan lembut air matanya. Dan saat itulah tiba-tiba ia mendekatkan wajahnya ke wajahku dan mencium bibirku! Aku terkejut, tapi juga senang, bagai mendapat durian runtuh. Kubalas ciumannya dengan mesra.

Beberapa detik kami saling memagut hingga membuatku hanyut dalam birahi. Pelan-pelan kubaringkan tubuhku di atas tubuh Sofia dan kami berciuman makin panas. Secara refleks tanganku menyingkap roknya dan mulai menjelajahi bagian bawah tubuh Sofia. Tubuhnya menggelinjang. Ia seperti kafilah di padang pasir yang menemukan oase. Bibirnya melumat habis bibirku, sementara kedua tangannya mencengkeram kuat belakang kepalaku seolah tak ingin aku melepaskan pagutanku.

Desahan nafasnya membuatku makin menggila. Tanganku bergerak naik ke dada Sofia, menyelusup ke dalam bra di balik bajunya dan melakukan remasan-remasan penuh gairah.

Saat kulajahi telinga Sofia dengan lidahku, kubisikkan padanya agar ia melepas bajunya.

Ilustrasi.
Kulucuti baju dan celanaku sementara Sofia melepas T-shirtnya. Ia menggeser tubuhnya yang hanya dibalut celana dalam berwarna putih tipis ke tengah ranjang. Meski tubuhnya tak lagi langsing, tapi begitu melihatnya dalam kondisi seperti itu, serta kulitnya yang putih mulus dan dadanya yang ranum, aku jadi bernafsu menerkamnya. Kami pun bergumul laksana sepasang suami istri yang lama tak bertemu.

Sofia mendorong tubuhku dan ia berganti posisi di atasku. Sungguh, ia seperti harimau lapar yang tengah mencabik-cabik rusa gemuk. Ia mencumbui tubuhku seperti aku mencumbui tubuhnya dari ujung kepala hingga ke bawah perut. Dengan sigap tangannya melucuti celana dalamku yang makin terasa sempit dan … Aku merasakan kenikmatan yang luar biasa di setiap gerakan naik turun kepalanya.

Tak ada kata yang tepat yang dapat kugambarkan tentang Sofia saat itu selain: Ganas! Sekitar lima belas menit kemudian kami sama-sama terkapar dalam kepuasan bercinta yang sangat panas. Kulihat mata Sofia terpejam dalam kenikmatan.

Dan malam itu, aku minta Sofia untuk tinggal di hotel bersamaku,menghabiskan waktu bersamaa mengarungi lautan asmara yang tak bertepi.

Pergumulan itu membuat perut kami kelaparan. Usai melahap jajanan yang dibawa Sofia, kami kembali melakukan pergulatan seru di ranjang. Kali ini durasinya lebih panjang.

Dalam semalam hingga dini hari kami bercinta 4 ronde. Setelah tidur tak sampai 2 jam, kami bangun dan sempat bercinta lagi di kamar mandi sebelum berkemas.

Setelah sarapan, Sofia mengantarku ke tempar workshop lalu pulang ke rumahnya. Aku tak bisa mengikuti hari terakhir workshop karena mengantuk luar biasa akibat semalaman bergoyang ranjang dengan Sofia.

Sebelum aku turun di tempat workshop Sofia memintaku untuk mampir lagi ke gerai makannya usai workshop. Sayang aku tak bisa karena harus segera kembali ke Tangerang. Tapi aku berjanji jika suatu saat ditugaskan lagi ke Semarang, aku akan menemuinya.

Sekembali ke Tangerang, aku dihinggapi rasa bersalah pada istriku, karena aku kini sudah termasuk dalam daftar laki-laki peselingkuh, walaupun hanya satu malam. Aku jadi ragu apakah akan menemui lagi Sofia di Semarang saat tugas berikutnya atau tidak. Benakku selalu dipenuhi pikiran antara rasa berdosa dan keinginan untuk mengulang kembali kenikmatan bersama Sofia.

Beberapa kali Sofia mengirim SMS menanyakan kabarku. Aku merasa itu merupakan isyarat kalau ia rindu padaku, dan aku pun merasakan hal yang sama. Perasaanku campur aduk, antara takut dan ingin mengulangi dosa itu lagi. (*)

Artikel Terkait Curhat