Ini pengalamanku yang tak terlupakan bersama istriku waktu kami baru melangsungkan pernikahan. Undangan sudah disebar ke semua kerabat dan tetangga, tapi waktu hari resepsi hujan turun sangat lebat hingga kampungku banjir hingga selutut. Tak terkecuali rumah istriku yang dijadikan lokasi acara.
Akibat banjir, acara resepsi tidak berlangsung sesuai rencana. Tapi apa boleh buat. Aku beserta seluruh keluarga besarku dan keluarga besar istriku sudah sepakat untuk menuntaskan acara hingga selesai.
Hingga malam hari, banjir tak juga surut karena hujan masih turun rintik-rintik. Udara dingin malam itu membuatku tak sabar untuk segera masuk kamar menikmati malam pertama. Semula istriku menolak karena situasinya yang kurang menyenangkan. Bagaimana tidak, ranjang pengantin yang sejak pagi dihias sedemikian rupa jadi berantakan karena seprei dilipat ke ranjang agar tak kena air. Ya, seisi rumah tergenang air, termasuk kamar pengantin.
![]() |
| Ilustrasi. |
Setelah puas mencumbuinya, aku pun menancapkan “senjataku” dan mulai menggoyangkan tubuhku. Mula-mula pelan, lama-lama semakin cepat. Tiba-tiba ... gubrak!!! Ranjang pengantin kami patah ke empat kakinya. Kontan aku dan istriku tercebur ke genangan air.
Karena senjataku masih tegang, kusuruh istriku untuk menunggingkan tubuhnya, sambil tangannya memegangi meja. Akhirnya tuntas sudah malam pengantin kami. Kalau biasanya usai melakukan itu, orang akan langsung rebah di kasur kelelahan, kami harus buru-buru mengelap tubuh yang basah kuyup, memakai baju lalu sibuk mengangkati kasur, bantal, guling dan seprei yang terendam air.
Sebelum keluar kamar kami sempat kebingungan, malu mengatakan kepada keluarga istriku kalau ranjang kami roboh. Bisa heboh mereka.
Dan memang benar, hingga beberapa hari kemudian kejadian yang kami alami menjadi bahan guyonan kerabat kami. Bahkan hampir di setiap acara keluarga, hingga sekarang anak kami sudah dua, hal itu masih saja diungkit-ungkit. Hehehe ... (*)
