Aku tak pernah menyangka kalau pertemuanku dengan S waktu reunian alumni SMP berlanjut menjadi hubungan cinta. Bahkan lebih jauh lagi, ke hubungan yang seharusnya hanya boleh dilakukan suami istri. Dan itu terjadi beberapa kali sebelum aku mengetahui fakta yang sebenarnya tentang S, bahwa ia seorang hypersex.
Reunian akbar SMP tempat aku sekolah di kota S yang diadakan waktu aku duduk di bangku kuliah di universitas negeri (mungkin sekitar semester 5 atau 6, aku sudah agak lupa) berlangsung sangat meriah. Di situlah aku bertemu S.
Seingatku, waktu SMP dulu S berkulit agak hitam dan gemuk, tapi begitu bertemu waktu reunian ia sudah berubah drastis. Kulitnya putih, tubuhnya sintal. Wajahnya pun terlihat lebih cantik dari dulu. Hal ini membuatku terpesona padanya. Apalagi caranya bertutur kata juga terlihat sangat santun, tak seperti teman-teman perempuanku lainnya yang kerap tertawa lepas jika ada yang melemparkan joke.
Sebelum acara bubar iseng-iseng aku menanyakan alamat dan nomor telepon S (waktu itu belum ada HP) dan ternyata ia pun memberikannya dengan senang hati serta ganti meminta nomor teleponku.
Beberapa hari kemudian aku meneleponnya dan mengutarakan keinginanku untuk main ke rumahnya. Ia minta 2 hari lagi datang ke rumahku karena ia sedang sibuk menghadapi ujian semesternya. Sekedar informasi, S kuliah di universitas swasta terkemuka di kota S.
Dua hari berikutnya aku bertandang ke rumahnya yang mentereng. Dari pertemuan kedua ini aku merasa kalau S adalah seorang yang menyenangkan, enak diajak ngobrol, dan manja. Aku tak heran ia manja, karena ia adalah anak bungsu dari 3 bersaudara. Kakak tertuanya laki-laki sudah menikah dan tinggal di rumah mertuanya, sedangkan kakaknya yang kedua perempuan sudah bekerja tapi belum menikah.
Dari obrolan hari itu pun aku mengetahui kalau ayahnya sudah meninggal waktu S baru masuk kuliah semester 1, dan ibunya yang melanjutkan bisnis almarhum ayahnya di bidang konstruksi. Maka tak heran jika saat itu hanya ada aku dan S, sementara 2 orang pembantunya sibuk di dapur.
Setelah puas ngobrol dan mau pulang, aku mengajak S untuk nonton film yang katanya sangat dia sukai. S setuju dan kami janjian untuk nonton esok harinya, jam 1 siang.
Saat hari H untuk nonton tiba aku sedikit nervous, karena baru kali ini aku nonton berdua dengan cewek. Asal tahu saja, selama ini aku memang belum pernah pacaran. Tapi melihat sikap S yang santai dan penuh perhatian, aku jadi terhibur. Ternyata hari itu adalah hari terakhir film itu main, sehingga kursi penonton terlihat banyak yang kosong. Kami pun dapat tempat paling belakang. S menggandeng tanganku erat saat kami mencari kursi kami dalam keremangan, karena lampu sudah dimatikan dan layar menampilkan iklan.
Tanpa pernah kubayangkan sebelumnya, selama film diputar justru S yang agresif “menyerangku”, mulai dari membelai tanganku, meminta dicium, sampai tangannya menggerayangi bagian bawah tubuhku.
Aku yang belum pernah menyentuh atau disentuh wanita, tentu sangat “terpesona” dan berkeringat dingin mendapat perlakuan begitu. Dengan wawasan yang kupelajari dari film porno yang pernah kulihat, aku pun mengimbangi perbuatan S padaku.
Tiba-tiba S berdiri dari tempat duduknya, merapikan baju dan roknya, lalu mengajakku pulang, padahal film baru berjalan kurang setengahnya. Seperti kerbau dicocok hidungnya, aku pun menuruti ajakannya untuk pulang.
Dalam perjalanan pulang, di mobil pemberian ayahku tangan S tak henti-hentinya meraba-raba “senjata”ku. Aku yang merasakan kenikmatan tentu saja membiarkan ulah S. Lagi pula mobilku pakai kaca gelap.
Sampai di rumah S kami melanjutkan aksi lebih gila lagi. Intinya, kami sampai pada hubungan intim.
Terus terang, sejak kejadian itu, S selalu hadir dalam pikiranku. Aku merasa kalau aku telah jatuh cinta padanya.
Tanpa terasa, 4 bulan sudah hubunganku dengan S berlangsung. Sesuai permintaan S sejak awal, aku boleh datang ke rumahnya 2 minggu sekali saja, sebab kata S, ibunya termasuk orang tua yang keras dan tak ingin anaknya terganggu kuliahnya gara-gara pacaran. Aku pun tak keberatan, asalkan setiap ketemu bisa melakukan “itu”. Aku benar-benar sudah ketagihan.
Suatu pagi, aku mendatangi S untuk minta “jatah”, namun ternyata ia tak ada di rumah. Kata pembantunya, S ke kampus dijemput teman sekampusnya. Karena aku tak punya acara lain, aku pun memutuskan untuk pergi ke kampus S dengan maksud untuk menjemputnya.
Sampai di lingkungan kampus segera kuparkir mobilku, dan langsung masuk gedung fakultas tempat S kuliah. Aku celingukan mencarinya, namun tak kulihat sosok yang kucari. Aku pun lalu ke kantin dekat situ dan kupesan minuman dingin. Suasananya ramai sekali, hingga aku terpaksa berdesakan dengan mahasiswa lain.
Iseng-iseng kutanyakan pada seorang mahasiswa yang duduk persis di sebelahku, apakah ia kenal S. “Wah, semua orang kenal S, mas!”, jawabnya ringan. Dalam hati aku bangga juga karena ternyata pacarku populer di kampus. Mahasiswa itu balik bertanya padaku’ “Mas kenal S juga?”. Kujawab kalau aku hanya dengar desas-desus kalau ada mahasiswi cantik di kampus itu bernama S.
“S memang cantik dan termasuk mahasiswi cerdas, tapi sayang dia nakal, mas!”, kata si mahasiswa setengah berbisik. Aku tentu saja kaget bukan main. Dan pastinya penasaran sekali dengan kata “nakal”. Aku bertanya lebih lanjut, dan menurut penjelasan si mahasiswa, S terkenal sebagai seorang hypersex. Tanpa kuminta, mahasiswa itu menunjuk beberapa laki-laki yang juga tengah asyik bercengkerama di kantin. Katanya mereka itu pernah tidur dengan S. Bahkan beredar rumor kalau S gemar bermasturbasi.
Jantungku berdegup kencang menahan amarah, baik pada mahasiswa itu maupun S, tapi aku masih bisa menahan diri. Kemudian percakapanku dengannya berlanjut, yang kira-kira seperti ini :
“Mas tahu S dari siapa?” tanya mahasiswa itu.
“Dari teman kuliah. Kenapa, mas?”, kataku.
“Kalau mas minat, gampang kok. Yang penting punya mobil. Punya nomor teleponnya?”
“Belum. Mas punya?”
Mahasiswa itu mengambil pulpen dan menulis di kertas yang disobek dari buku diktatnya, lalu ia serahkan kepadaku. Begitu kulihat, itu adalah nomor telepon rumah S yang sudah aku hafal betul.
“Hari ini S kuliah nggak, mas?” tanyaku saat ia menulis.
“Nanti jam 3. Kalau mau ketemu, tunggu saja di sini”, jawab si mahasiswa.
Setelah itu aku beranjak dari kantin dengan pikiran tak karuan, antara percaya dan tidak pada penjelasan mahasiswa itu. Percaya kalau mengingat keagresifan S dan kebohongannya kalau ia kuliah sejak pagi padahal tidak, tidak percaya karena S selalu bersikap lemah lembut dan santun.
Kuputuskan untuk menuruti saran si mahasiswa, tapi aku menunggu di mobil setelah sebelumnya kupindahkan parkir mobil di tempat yang agak tersembunyi.
Benar saja. Jam menunjukkan hampir jam 3 ketika S datang naik mobil bersama seseorang. Ternyata si pengemudi tetap di mobilnya dan berlalu setelah S turun. Saat itu aku ragu, menemui S atau tetap di mobil. Kuputuskan untuk tetap di mobil dan mengamati S yang berjalan masuk ke kampus lalu aku pulang.
Dua hari kemudian nekad kudatangi rumah S lebih pagi, meskipun waktu kutelepon malam sebelumnya S bilang kalau hari itu dia ada kuliah. Tujuanku satu : membuktikan kebenaran informasi yang kuperoleh, sekaligus membuktikan apakah benar S kuliah. Kalau biasanya aku langsung memasukkan mobil ke halaman rumah S, kali ini kuparkir mobilku agak jauh dari rumahnya. Saat melewati rumah S itulah aku melihat sebuah mobil parkir tepat depan rumahnya. Pikiranku langsung menjurus negatif.
![]() |
| Ilustrasi. |
Kukira pemandangan itu sudah cukup bagiku untuk tidak lagi berhubungan dengan S. Aku selama ini terkecoh oleh sikap lembut dan perhatiannya padaku. Sejak saat itu aku merasa jijik jika mengingat wajah S. Foto-fotonya yang terpajang di meja belajarku kubakar. Begitu juga yang tersimpan di dompetku.
Aku berpesan pada orang rumah, jika ada telepon untukku, kuminta untuk mengatakan kalau aku tidak di rumah. Dan memang benar. Keesokan harinya teleponku berdering mencariku, malam pun juga. Ini berlangsung hingga beberapa hari kemudian, dan kata mama, adik atau pembantuku yang menerima telepon, yang menelepon adalah perempuan. Setelah itu tak ada lagi.
Aku memang sudah bertekad melupakan S dan konsentrasi untuk segera menyelesaikan kuliahku Awalnya sulit, karena wajah S masih melekat kuat di benakku. Apalagi saat kebutuhan biologisku muncul, memoriku tentang semua yang pernah kulakukan dengan S terus saja membayangi, hingga kadang membuatku ingin berhubungan lagi dengannya.
Untungnya aku bisa menahan diri dari godaan itu, hingga akhirnya aku bisa menyelesaikan kuliahku tepat waktu dengan hasil memuaskan. Beberapa hari setelah wisuda aku langsung terbang ke kota J untuk bekerja di perusahaan pamanku yang bergerak di bidang kontraktor. Di kota itu aku kemudian berkenalan dengan seorang wanita yang kini menjadi istriku dan telah memberiku 3 orang anak.
Kalau dulu aku merasa jijik pada S setelah semua tentang dia terungkap, kini justru aku merasa kasihan. Aku yakin ia tidak pernah ingin menjadi seperti itu. Ia sakit, dan tak seorangpun yang ingin dirinya sakit, bahkan meski hanya flu sekalipun. Aku berharap ia menemukan jalan untuk “menyembuhkan” dirinya dan bisa menjalani hidupnya dengan normal.
Informasi terakhir yang kudengar, S dinikahi seorang pengusaha sukses yang konon bosnya sendiri tempat ia bekerja usai menyelesaikan kuliahnya.
Itulah pengalaman rahasiaku sekian tahun lalu yang selama ini kusimpan rapat-rapat dalam memoriku. (**)
Seperti diceritakan Mr. X kepada tim JBSS.
