Ketika pertama mengenalnya, mas X adalah laki-laki yang baik, sabar dan penuh perhatian. Hal ini yang membuatku tertarik padanya hingga aku menerima lamarannya, meski hubungan kami baru berlangsung selama 3 bulan. Semula keluarga besarku kurang setuju dengan keputusanku yang mereka anggap terlalu cepat, tapi aku sudah memantapkan diri untuk mengarungi mahligai rumah tangga bersama mas X.
Bulan-bulan awal menjadi istri mas X aku merasa sangat bahagia. Kebahagiaanku makin lengkap ketika kemudian lahir Y buah cinta kami. Mas X pun makin sayang kepadaku dan Y.
Namun, seiring berjalannya waktu, sikap mas X berubah drastis. Ia sering pergi tanpa tujuan yang jelas selama berhari-hari. Kalaupun ia sedang ada di rumah, seolah aku ataupun Y anak kami dianggap tidak ada. Ia lebih suka menyibukkan diri dengan HP-nya. Selain itu, ia lebih banyak memberikan perhatian kepada ibu dan adik-adiknya, sementara aku dan Y diabaikan begitu saja.
Aku tak tahu apa yang menyebabkan mas X tiba-tiba berubah. Sempat terbersit dalam pikiranku kalau mas X jatuh cinta pada wanita lain melalui facebook, karena aku sering memergokinya sedang asyik ber-facebook ria di HP-nya.
Hatiku makin pedih kala ia menuduhku sebagai istri durhaka. Aku tak tahu apa maksudnya mengatakan itu, dan ketika kutanyakan, ia malah makin marah lalu pergi dari rumah.
Kadang aku memberanikan diri bertanya kepadanya kenapa akhir-akhir ini ia kurang memperhatikan Y, tapi ia hanya menjawab kalau ia sibuk. Yang lebih membuatku sedih, setiap kali mas X pergi, Y selalu jatuh sakit. Hatiku makin trenyuh saat anakku yang sedang sakit menanyakan di mana bapaknya.
Aku berusaha tegar menghadapi kenyataan pahit ini. Dalam setiap usai sholat aku selalu memohon kepada Allah agar diberikan kesabaran dan ketabahan menghadapi takdir-Nya ini. Kalau pun pada akhirnya aku dan mas X harus berpisah karena jurang pemisah yang makin lebar, aku ikhlas. Yang aku mohon hanyalah diberi kesempatan dan kepercayaan oleh Allah untuk merawat dan membesarkan putri kecilku. (**)