Rahasia Ayahku

Alif (bukan nama sebenarnya), 35 tahun, Palembang :

Saat menunggu ayahku yang terbaring sakit di sebuah rumah sakit di Palembang, aku ngobrol banyak dengan sahabat baik ayah, sebut saja namanya om Gani. Om Gani adalah teman ayah semasa SMP dan masih terus berhubungan karena kebetulan mereka berdua punya hobi yang sama, yaitu memelihara ayam jago. Ayah sedang tidur saat om Gani datang menjenguk. Aku pun menemaninya ngobrol, hingga akhirnya terkuaklah sebuah rahasia yang selama ini tidak aku ketahui.

“Kamu sudah dewasa, jadi kamu berhak tahu kejadian yang sebenarnya. Tapi kamu jangan bilang ayahmu kalau om cerita, ya”, begitu pesan om Gani sebelum ia memulai ceritanya. Aku mengangguk dengan rasa penasaran. Dan sore itu aku menyadari semuanya dan muncul penyesalan yang amat dalam atas perbuatanku selama ini kepada ayah.

Sejak aku menginjak usia remaja aku sudah memendam marah pada ayah karena mengusir mama dari rumah. Sebagai anak tunggal, aku sering merasa kesepian saat sendirian di rumah, karena setiap hari ayah bekerja menjaga toko bahan bangunan miliknya. Itulah sebabnya akan memilih untuk menyibukkan diri dengan bermain ding dong di pertokoan dekat sekolahku dan waktu di rumah aku lebih banyak mengurung diri di kamar karena enggan bersua dengan ayah.

Ketika masih kecil ada mama yang selalu ada di rumah, tapi entah kenapa suatu hari mama pergi dari rumah dan tidak pernah kembali lagi. Setiap kali aku tanya ayah, ayah selalu menjawab “Besok”. Begitu terus hingga akhirnya aku bosan bertanya.

Ternyata, ayah menceraikan mama karena mama berselingkuh dengan om Dewa (bukan nama sebenarnya) yang tak lain adalah tetangga mama di kampung asalnya, Lahat.

Aku benar-benar kaget mendengar penjelasan om Gani dan ingatanku pun melayang ke masa lalu. Aku sudah agak lupa detailnya, tapi yang kuingat adalah bahwa waktu aku masih kecil (mungkin seusia 5-6 tahunan) om Dewa datang dan tinggal agak lama di rumahku.

Seingatku, om Dewa yang berasal dari Lahat hendak mencari pekerjaan di Palembang. Itulah sebabnya ayah membangun sepetak kamar di halaman rumah untuk menampung om Dewa di mana tadinya ada kandang ayam di situ. Untuk keluar masuk ke kamar om Dewa, ayah membobol dinding ruang tamu. Kandang ayam itu di pindah dekat pintu pagar rumah.

Kata om Gani, om Dewa tinggal di rumahku hingga hampir dua bulan sebelum akhirnya pindah ke kos dekat tempat kerjanya.

Di sini memori otakku seakan sebuah rekaman yang diputar ulang ke masa itu dan sampai pada suatu kejadian yang membuatku bingung karena aku masih kecil. Waktu itu siang hari, aku sedang nonton TV, sementara mama tiduran di kamar. Lalu om Dewa datang (Memang meski sudah pindah, tapi kulihat om Dewa masih sering datang ke rumah. Terakhir yang aku ingat adalah ketika aku pulang sekolah, om Dewa sedang ngobrol dengan mama di ruang tamu dan tak lama kemudian ia pulang).

Yang membuatku melonjak gembira karena om Dewa membawa mainan mobil remote control. Karena rumahku kecil, mama menyuruhku untuk memainkannya di aula kelurahan yang letaknya tak jauh dari rumahku. Di sana sudah ada beberapa teman sebayaku yang juga tengah asyik bermain.

Setelah agak lama bermain, aku merasa mainanku tidak lagi bisa berjalan kencang (baru kemudian aku tahu kalau baterenya lemah dan butuh di-charge). Aku kecewa karena belum puas bermain, dan aku ingin segera pulang untuk memberi tahu om Dewa.

(Ilustrasi)
Sampai di rumah, pintu ruang tamu dalam keadaan tertutup. Kupikir om Dewa sudah pulang. Biasanya mama suka marah kalau sedang tiduran aku ribut. Itulah sebabnya diam-diam kubuka pintu ruang tamu dan aku langsung menuju kamar mandi untuk cuci tangan dan kaki.

Saat lewat ruang tamu itu aku seperti mendengar suara mama dari bekas kamar om Dewa. Langsung saja kubuka pintu kamar itu dan di sana aku melihat om Dewa berbaring di ranjang, sementara mama duduk di atasnya.

Mama memunggungiku hingga aku bisa melihat pantatnya karena bajunya disingkap ke atas dan om Dewa tidak pakai celana. Mama dan om Dewa juga kaget melihat kedatanganku yang tiba-tiba. Mama langsung meloncat dari atas om Dewa dan menghampiriku sambil berkata tergagap, “A-Alif kok sudah pulang?!”

Aku yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi waktu itu dengan polos menjawab “Mobilku tidak bisa jalan, Ma”. Om Dewa yang belakangan keluar dari bekas kamarnya berkata “Oh, baterenya habis, Lif. Sini om charge biar bisa jalan lagi”.

Seiring dengan berjalannya waktu, mungkin kejadian itu mengendap dalam memoriku dan muncul lagi ke permukaan begitu mendengar cerita om Gani. Aku berusaha mengingat lagi detail kejadian waktu itu. Seingatku, mama terlihat gugup, begitu juga om Dewa. Om Dewa pulang setelah membantuku men-charge batere dan mengingatkan mama untuk mencabut charger dari colokan listrik setelah lampu kecil di charger tidak berkedip.

Setelah kejadian itu aku tak pernah lagi melihat om Dewa datang ke rumah. Dan ketika om Gani mengatakan kalau ayah menceraikan mama saat aku berumur 8 tahun, itu berarti sekitar 2-3 tahun setelah aku memergoki mereka berdua di bekas kamar om Dewa.

Dan, masih menurut om Gani, perselingkuhan mama dengan om Dewa secara tak sengaja diketahui oleh om Koko (adik bungsu ayah). Ceritanya, om Koko akan ke rumahku mengantar undangan pernikahannya. Tapi dalam perjalanan ia melihat mama di bonceng om Dewa naik motor. Karena curiga, om Koko tidak langsung memanggil, tapi mengikuti diam-diam di belakang mereka.

Kecurigaan om Koko ternyata terbukti. Mama dan om Dewa masuk ke sebuah losmen. Om Koko lalu mengontak ayah, dan bersama beberapa orang polisi, mereka mendobrak kamar tempat mama dan om Dewa check in.

Meskipun ayah sakit hati atas perbuatan mama, tapi ayah tidak menuntut perselingkuhan mama dengan om Dewa diproses pengadilan. Ayah menceraikan mama dengan baik-baik dan hak asuh atas diriku jatuh ke ayah.

Sebagai sahabat, om Gani sangat prihatin atas kejadian yang dialami ayah dan om Gani menyebutnya sebagai “pagar makan tanaman”.Tapi ayah selalu berpesan pada om Gani untuk tidak menceritakan masalah ayah dan mama kepadaku dan di mana mama berada sejak mereka bercerai. Termasuk alasan kenapa ayah tidak pernah menikah lagi.

Ternyata, sebenarnya om Dewa sudah punya istri di kampungnya dan diceraikan untuk kemudian menikahi mama. Mereka lalu pindah ke Jakarta, dan sejak saat itu tak terdengar lagi kabar beritanya.

Yang membuat aku lebih terkejut lagi adalah jawaban atas keherananku selama ini melihat ayah bertahan menduda. Kata om Gani, ayah tidak menikah lagi karena ia menderita impotensi. Penyebabnya adalah kecelakaan lalu lintas waktu aku masih berumur sekitar 1 tahun. Ayah sudah berobat ke mana-mana, tapi tidak ada hasilnya.

Aku tepekur begitu om Gani selesai bercerita. Tiba-tiba saja rasa rinduku pada mama mendadak sirna. Sebaliknya, kemarahanku pada ayah yang kupendam selama ini langsung mencair, berubah menjadi penyesalan yang teramat dalam.

Tanpa terasa air mataku menitik. Betapa besar dosaku, menyia-nyiakan waktu kebersamaan bersama ayah yang ternyata menyimpan rahasia yang sangat menyakitkan dan itu disimpannya rapat-rapat dalam hatinya. Itu dilakukannya semata-mata agar aku tidak membenci mama.

Sebagai bentuk penyesalanku, aku memutuskan untuk berhenti dari pekerjaanku dan beralih membantu ayah mengelola toko bahan bangunan miliknya. Aku pun mulai mendekatkan diri pada ayah, mengajaknya ngobrol kala toko sedang sepi dan ketika libur mengajaknya jalan-jalan atau sekedar makan di luar.

Meski demikian, rasa bersalahku tak juga sirna. Terlebih ketika ayah meninggal 3 tahun lalu karena penyakit yang sama, infeksi saluran pernafasan. Kini aku hidup sebatang kara, dan sampai sekarang aku masih sering menangis sendirian mengenang ayah. Tak ada yang dapat kulakukan selain mendoakan ayah agar tenang di alam sana. (**)

Artikel Terkait Curhat