Tobat Jadi Rentenir

DS, 47 tahun, Surabaya :

Profesi sebagai seorang rentenir secara tak sengaja kujalani sekitar 10 tahun lalu. Waktu itu ada pengurangan karyawan di perusahaan tempat aku bekerja di mana aku termasuk yang “tergusur”. Untungnya perusahaan memberikan pesangon yang menurutku, sebagai karyawan rendahan, lumayan besar, yang dapat kugunakan untuk hidup sehari-hari sambil menunggu panggilan kerja dari beberapa perusahaan tempat aku mengirimkan lamaran.

Sambil mencari-cari pekerjaan baru aku dan istriku nyambi jualan kain batik dan daster yang kubeli di Solo. Aku berkeliling menawarkannya ke teman-temanku, sementara istriku berkeliling menawarkannya ke teman-temannya. Kegiatan ini ternyata tak mudah, mungkin karena baru mulai. Orang-orang yang kutawari bukannya membeli, malah ingin pinjam uangku, karena mereka tahu aku dapat rejeki nomplok dari pesangon.

Lama-kelamaan makin banyak saja orang yang datang ke rumahku untuk hutang. Mulanya aku hanya sekedar meminjamkan tanpa embel-embel apapun. Namun ternyata di antara mereka ada yang membayar hutang dengan memberi sedikit tambahan uang. Sebagai tanda terima kasih, kata mereka.

Ilustrasi (Foto: Republika Online)
Dari sini muncul ide untuk membuka usaha pinjam-meminjam uang dengan mensyaratkan bunga tertentu, sehingga besaran tambahannya proporsional sesuai jumlah pinjaman.

Entah bagaimana ceritanya, usahaku berkembang dan makin banyak nasabahnya, baik nasabah baru maupun lama. Akibatnya, ketika aku dapat panggilan wawancara dari perusahaan tempat aku melamar langsung kuabaikan dan aku memutuskan untuk konsentrasi mengurus

Memang kendala ada, terutama dalam hal keterlambatan angsuran dari nasabah, tapi jumlahnya tak banyak. Itupun sebenarnya uang pokokku sudah kembali dari beberapa kali angsuran.

Tak heran, dalam waktu tak sampai 6 tahun, aku dan keluargaku menikmati hasilnya. Aku bisa merenovasi rumahkan jadi lebih baik, bahkan aku juga bisa membeli rumah walau kecil dan terletak di kampung dekat rumahku. Tak hanya itu. Anakku yang sulung kecipratan rejeki berupa sepeda motor model terbaru sebagai kado di hari ulang tahunnya, sementara anakku yang nomor dua dapat jatah sepeda. Istriku pun mampu beli sejumlah perhiasan untuk simpanan dan rutin mengirim uang untuk orang tuanya di desa.


Namun rupanya aku tak diberi kesempatan untuk “menjadi orang kaya” lebih lama. Sekitar 2 tahun lalu musibah menimpaku secara bertubi-tubi. Mula-mula istriku didiagnosis dokter menderita kanker payudara hingga harus dioperasi. Beberapa bulan kemudian, rumah keduaku yang kukontrakkan terbakar habis gara-gara arus pendek listrik. Cobaan tak berhenti sampai di situ. Selang sekitar 3 bulan setelah kebakaran itu, anak sulungku mengalami kecelakaan sepeda motor. Yang membuat aku dan keluargaku sangat terpukul, ia jadi cacat karena sebelah kakinya lumpuh.

Tak henti-hentinya aku dan istriku meratapi kejadian itu. Aku merasa, itu semua terjadi karena dosaku membungakan uang. Aku tahu itu salah, tapi hatiku telah dibutakan oleh keuntungan yang bagaikan air mengalir ke pundi-pundi uangku.

Aku ingat ketika mudik beberapa tahun sebelumnya, bapakku mengingatkanku untuk mencari pekerjaan yang halal, tapi dengan enteng aku menjawab, “Jaman sekarang cari yang haram susah, pak! Apalagi yang halal”. Apakah karena ucapanku itu kemudian Tuhan menghukumku dengan cobaan-cobaanNya yang bertubi-tubi?

Tadinya aku berusaha menghibur diri dengan membandingkan orang lain yang juga berprofesi sebagai rentenir, tapi aman-aman saja, bahkan bertambah makmur. Tapi hati kecilku berkata lain. Aku yakin ini semua azab dari Tuhan. Apalagi harta bendaku makin hari makin berkurang untuk membiayai pengobatan istri dan anak sulungku, membuatku semakin memantapkan diri untuk berhenti dari pekerjaan haram itu.

Aku menjual semua hartaku yang tersisa dan memboyong keluargaku pindah ke desa orang tuaku. Di sana aku memulai hidup baru dengan membuka usaha ternah lele, sampai sekarang. Alhamdulillah akhirnya aku bisa bangkit dari keterpurukan. (*)

Artikel Terkait Curhat