Hantu Pak Manajer

Siswo, 37 tahun, Malang :

Pak Hendra (bukan nama sebenarnya) adalah manajer seniorku yang sangat keras. Tubuhnya agak pendek dengan rambut botak di depan serta berkumis tebal. Aku baru 2 tahun menjadi bawahannya, tapi sudah tak terhitung berapa kali aku kena damprat olehnya. Terlebih saat rekan satu timku yang satu (laki-laki) mengundurkan diri karena dapat pekerjaan di tempat lain, dan yang satu lagi (perempuan) cuti hamil. Praktis beban kerjaku bertambah berat.

Sebenarnya sudah ada rencana untuk memutasi karyawan dari bagian lain ke bagianku, tapi pak Hendra masih belum memutuskan setuju atau tidak. Ia benar-benar sangat pemilih dalam mencari bawahan. Aku jadi kalang kabut setiap mendapat tugas mendesak darinya. Namun meski begitu, yang membuatku salut padanya adalah kesalehannya dalam beribadah. Ia selalu tepat waktu mengerjakan sholat jika adzan berkumandang dari masjid perusahaan. Meski sedang meeting dengan Direktur pun, jika saatnya sholat, ia akan langsung meninggalkan ruang meeting. Para direktur sudah maklum dengan kebiasaan pak Hendra ini.

Suatu sore aku dipanggil pak Hendra ke ruang kerjanya. Di situ lagi-lagi aku kena semprot gara-gara ada kesalahan dalam konsep presentasi yang kubuat untuk beliau. Dengan nada berang Pak Hendra menyuruhku untuk memperbaikinya dan besok pagi harus sudah siap di mejanya. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain mengangguk-angguk saja, walau dalam hati kesal.

Karena sudah jam pulang, aku berniat melanjutkan pekerjaanku di rumah. Celakanya, malam hari usai aku, istri dan anakku usai makan malam, listrik mendadak mati. Saat kutanya ke kantor PLN, listrik di daerahku mati karena gardu listrik terbakar. Aku tidak mungkin mencari warnet untuk menyewa komputer, karena listrik di satu-satunya warnet terdekat dengan rumahku pasti juga mati. Akhirnya kuputuskan untuk berangkat pagi-pagi ke kantor agar bisa mengerjakan tugasku tepat waktu.

Pagi sekitar jam 6, aku sampai di kantor dan langsung menuju ruang kerjaku. Satpam perusahaan heran melihat datang sepagi itu, tapi manggut-manggut saat kujelaskan duduk persoalannya. Saat sedang asyik dengan keyboardku, tiba-tiba ada seseorang menepuk bahuku. Aku kaget bukan kepalang, karena suasana kantor sangat sepi. Aku lebih kaget lagi karena yang menepuk bahuku adalah pak Hendra! Ia mengenakan kemeja putih dan dasi biru bergaris-garis hitam serta bercelana biru tua.

Biasanya pak Hendra mengenakan jas saat tiba di kantor. Ini berarti ia sudah lebih dahulu datang dariku dan meletakkan jasnya di ruang kerjanya. Aku sempat terheran-heran dengan keadaan waktu itu. Selama aku bekerja bersamanya, tak pernah sekalipun pak Hendra datang lebih dahulu di kantor daripada karyawan lainnya. Aku jadi berpikir, apa karena menunggu revisi konsep presentasi dariku hingga ia datang sepagi itu? Tapi, bagaimana ia tahu aku akan datang pagi-pagi? Toh presentasinya baru dilaksanakan jam 9 seperti yang dikatakannya kemarin sore.

Aku enggan bertanya lebih lanjut. Saat itu aku cuma diam dan menunggu kalau ia mau marah-marah lagi. Ternyata dugaanku salah. Ia justru tersenyum, dan mengatakan, “Kerja yang baik ya. Maaf tentang kejadian kemarin sore”. Aku mengangguk dan balas tersenyum sambil menjawab, “Ya, pak”. Setelah itu pak Hendra berlalu, dan melalui sudut mataku kulihat pak Hendra masuk ke ruang kerjanya. Aku pun melanjutkan pekerjaanku. Yang aku heran, selama ini pak Hendra tak pernah sekalipun minta maaf usai mendampratku, tapi kok tumben ia melakukan itu.

Sekitar 15 menit kemudian, Parno, petugas cleaning service, datang dengan perlengkapannya. Kali ini ia yang heran melihatku sudah sibuk mengetik. “Wah, hari ini mas Siswo juara masuk kerja paling pagi”, selorohnya. Aku mengisyaratkan agar ia tidak terlalu keras bicara. Ia meletakkan gagang pel di dalam ember lalu nghampiriku.

“Kenapa, mas?”, tanya Parno.

“Juaranya bukan aku, tapi pak Hendra!”, jawabku setengah berbisik.

“Hah? Pak Hendro sudah datang?! Ah, masa sih, mas?”, kata Parno sambil menoleh ke ruang kerja pak Hendra yang jaraknya sekitar 10 meter dari mejaku.

“Tapi saya kok tidak melihat mobilnya di tempat parkir?”, lanjut Parno.

Kini ganti aku yang heran. Setiap hari pak Hendra naik mobil ke kantor dan parkir di tempat khusus mobil para manajer. Tapi aku tak mau berdebat dengan Parno, karena harus segera menyelesaikan pekerjaanku. Kusuruh Parno untuk membersihkan ruang pak Hendra lebih dahulu.

Di pintu masuk ruang kerja pak Hendra kulihat Parno celingukan. “Mana? Pak Hendra nggak ada gitu lho, mas!”, teriaknya. Sambil kerja kujawab sekenanya, “Mungkin ke toilet. Sudah, jangan ganggu aku!”. Aku selalu nervous bekerja dalam tekanan seperti ini.

“Ah, mas Siswo ini sukanya ngerjai orang,” cetus Parno sambil mulai mengepel.

Waktu terus berlalu dan teman-teman kantorku berdatangan. Mereka sudah maklum aku datang lebih awal karena mereka mendengar dampratan pak Hendra kemarin sore, tapi ada juga yang meledekku sebagai karyawan teladan.

Tiba-tiba muncul bu Susi (bukan nama sebenarnya), sekretaris pak Hendra, dan mengabarkan kalau pak Hendra meninggal dunia. Semua terkejut, tapi aku yang paling shock. Sangat shock, sampai-sampai aku tak tahu harus ngomong apa pada rekan-rekanku. Kami pun menyewa bus mini untuk bersama-sama melayat ke rumah duka.

Dalam perjalanan, bu Susi, berdasarkan informasi dari keluarga pak Hendra, menceritakan kalau kemarin sore sepulang dari kantor, pak Hendra bermain tenis bersama rekan-rekan sejawatnya. Saat bermain itulah ia jatuh pingsan dan langsung dilarikan ke rumah sakit. Ternyata pak Hendra kena serangan jantung. Ia menghembuskan nafas terakhir jam 3 dini hari.

Pikiranku sangat kalut memikirkan kejadian pagi tadi. “Jika pak Hendra meninggal jam 3 pagi, lalu siapa yang menepuk bahuku? Jelas kulihat kalau itu pak Hendra, tapi bagaimana mungkin? Atau mungkinkah itu arwah pak Hendra yang menyempatkan diri minta maaf padaku?” Ah, aku jadi merinding memikirkan itu. Aku cuma bisa berdoa, semoga pak Hendra khusnul khotimah.

Kejadian 10 tahun itu hingga kini tetap menjadi misteri bagiku, dan bila mengingatnya, bulu kudukku masih saja berdiri. (**)

Artikel Terkait Curhat