Suami Suka “Main Sendiri”

YP, 36 tahun, Somewhere :

Usia perkawinanku dengan suamiku, sebut saja mas RS baru berjalan 1 tahun, namun aku merasakan hubungan kami hambar. Kuakui kami jarang sekali melakukan hubungan suami istri. Bisa dikatakan, dalam satu bulan paling banyak kami melakukannya tiga kali. Itupun aku tak pernah merasakan apa itu orgasme, karena mas RS selalu selesai lebih dahulu.


Masa pacaran kami berlangsung sekitar 5 tahun. Selama pacaran kami tak pernah melakukan hal-hal di luar norma. Paling hanya saling berpegangan tangan dan paling jauh adalah berciuman. Tidak lebih dari itu. Mas RS sangat baik dan sopan, juga agak pendiam. Namun yang membuatku kagum padanya adalah kerja kerasnya. Aku mengenalnya dan tahu banyak tentang mas RS karena perusahaan tempat ia bekerja adalah rekanan perusahaan tempat aku bekerja.

Ketika awal mula menikah, aku sempat kecewa karena tidak merasakan indahnya malam pertama dengan mas RS, karena ia “selesai” duluan. Saat itu aku bisa memaklumi, karena ini adalah pengalaman pertama baginya, juga bagiku. Aku berharap hari-hari berikutnya kami lalui malam-malam dengan sejuta kenikmatan bersama. Namun harapan tinggal harapan. Kekecewaan demi kekecewaan terus menderaku, karena hal itu terus terjadi.

Aku begitu gelisah
karena hasrat untuk bercinta
demikian kuat.
Jika memikirkan hal itu jadi tersiksa, apalagi saat birahiku meletup-letup. Tapi aku malu jika harus “minta” padanya. Apalagi kulihat ia sering bekerja hingga larut malam (ia memang sering membawa pekerjaannya pulang), hingga aku merasa “sungkan” untuk mengajaknya.

Suatu malam, seperti malam-malam sebelumnya, aku tak bisa tidur. Aku begitu gelisah karena hasrat untuk bercinta demikian kuat. Aku mencoba memberi mas RS isyarat dengan cara menyingkap sedikit daster dan berharap mas RS melihatnya lalu mencumbuiku. Tapi aku harus gigit jari karena mas RS kulihat sudah tidur. Aku kesal sekali padanya. Aku memunggunginya dan berusaha memejamkan mata.

Aku baru mulai tertidur ketika kurasakan tempat tidur kami bergoyang. Ternyata mas RS bangkit dari tempat tidur dan keluar dari kamar. Kupikir ia ke kamar mandi untuk buang air kecil. Akupun kembali menyingkap dasterku agar saat kembali ke kamar terangsang melihatku. Tunggu punya tunggu, mas RS tak kunjung masuk. Kuhitung-hitung, ada sekitar 25 menit ia keluar, hingga membuatku penasaran. Kebetulan saat itu aku tiba-tiba juga ingin buang air kecil.

Aku beranjak dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi. Ternyata kamar mandi dalam keadaan kosong. Aku jadi makin penasaran. Aku berjalan pelan menuju ruang tamu karena kulihat cahaya dari TV memantul di dinding. Begitu sampai di koridor antara ruang makan dan ruang tamu kulihat mas RS duduk di sofa sambil menyaksikan film di TV.

Yang membuat aku terkejut bukan main, mas RS memainkan “anu”nya dan TV menayangkan film porno. Ternyata mas RS sedang beronani sambil nonton film porno yang diputar dengan VCD player. Tanpa sadar aku memekik, “Mas, kamu ngapain?”.

Mas RS tak kalah kagetnya denganku. Wajahnya merah padam, entah marah entah malu. Buru-buru ia kenakan celana pendeknya. Aku ingin marah melihatnya, tapi justru yang keluar adalah tangisku. Aku tak menyangka kalau mas RS selama ini ternyata lebih suka onani daripada menyentuhku. Tanpa bicara, ia mematikan TV dan VCD player lalu ngeloyor masuk kamar.

Aku menyusulnya dan kami pun bertengkar hebat malam itu. Mas RS pergi dari rumah, meninggalkanku yang menangis di kamar. Itu adalah awal kehancuran rumah tanggaku. Ia tak pernah pulang ke rumah kami, tapi ke rumah orang tuanya.

Mas RS mengajukan gugatan cerai dan aku tak punya pilihan lain selain menerimanya. Enam bulan kemudian kami bercerai dengan alasan ketidakcocokan.

Sembilan tahun sudah kejadian itu berlalu. Kini aku sudah menikah lagi dan dikaruniai 1 orang anak laki-laki.

Untuk mas RS, aku mohon maaf jika tak mengerti keadaanmu. Dari lubuk hati yang paling dalam aku berdoa, semoga kau bahagia dengan wanita yang bisa mengerti dirimu. (**)

Artikel Terkait Curhat