Demi mendapatkan teman dan sedikit romantisme, Thea bergabung di AshleyMadison.com, sebuah situs yang menjadi comblang bagi para suami/ istri yang menghendaki “sedikit” affair sebagai pelarian dari kehidupan perkawinan mereka.
Setelah beberapa kali ketemuan, Thea mulai menjalin hubungan dengan seorang pria. “Ia memberiku semua yang tak kudapatkan dari suamiku, perhatian dan kasih sayang,” akunya.
Banyak alasan orang berselingkuh, seperti balas dendam, bosan, hasrat untuk mencari sensasi seksual, dan kecanduan seks. Akan tetapi para pakar mengatakan bahwa ada perbedaan yang mendasar yang mendorong orang berselingkuh. Pria cenderung karena seks, sedangkan wanita lebih melibatkan sisi emosional mereka.
Rasa kesepian, sirnanya chemistry dengan suami dan diacuhkan adalah hal yang paling banyak dikeluhkan sebagai penyebab munculnya hasrat untuk “berpindah ke lain hati”.
Pria berselingkuh kebanyakan karena menginginkan seks dengan pasangan selingkuhnya, bukan cinta. Artinya, pria tetap saja berselingkuh meski kehidupan rumah tangganya baik-baik saja. Di lain pihak, wanita berselingkuh karena adanya hubungan emosional dengan kekasih gelap mereka yang dianggapnya bisa memenuhi kebutuhan yang tidak diberikan oleh suami mereka.
Secara statistik, 34% wanita yang kehidupan rumah tangganya baik-baik saja melakukan perselingkuhan, sedangkan pria 56%.
Menurut teori yang dianggap kontroversial, perilaku selingkuh sudah ada sejak jaman purba. Para pria melakukan hubungan seks dengan banyak wanita untuk menyebarkan keturunan sebanyak-banyaknya, sedangkan wanita membutuhkan pria yang bisa melindunginya dan anak-anaknya, memberi mereka makan dan sebagai cadangan untuk berjaga-jaga jika pasangan mereka mati. Itulah sebabnya mereka rela ditiduri banyak pria demi mendapatkan itu semua.
Teori tersebut memang tidak dapat dibuktikan kebenarannya, namun yang jelas teori yang menyatakan bahwa motivasi wanita berselingkuh bukan semata-mata karena seks ada benarnya, walaupu mereka tidak keberatan jika pasangan gelap mereka menghendaki seks.
Contoh kasus lain seperti yang dialami Diana. Ia merasa rumah tangganya tidak bahagia. Yang dirasakannya hanyalah kesepian yang berkepanjangan. Ia berharap itu akan berakhir. Nyatanya tidak.
Untuk mengisi kesepiannya, ia coba-coba main mata dengan rekan kerjanya. Awalnya Diana tak bermaksud untuk selingkuh, namun ia terlena dengan situasi romantis yang tercipta antara ia dengan rekannya. Akhirnya ia terlibat dalam hubungan terlarang dan itu berlangsung lama.
Tak seperti halnya pria, wanita perlu waktu untuk berpikir panjang untuk melakukan sebuah perselingkuhan. Pria dapat dengan mudah melupakan dengan siapa saja ia melakukan hubungan seks, sedangkan wanita tidak demikian. Ia akan bersedia untuk melakukannya dengan pasangan selingkuhnya jika ia benar-benar siap untuk itu.
Itulah sebabnya orang akan mencibir jika wanita berselingkuh mengatakan khilaf, karena sebelumnya ia telah mempertimbangkan dengan matang untuk terjun ke “zona terlarang”.
Sumber: women.webmd.com
Jika Anda berminat mengirim curhat, klik di sini.
