Penolong Misterius

Khoirul Anam, 47 tahun, Kediri :

Kira-kira 10 tahun lalu aku dapat pekerjaan di kota Malang, sementara istri dan anak pertamaku tinggal di Kediri, di rumah orang tua istriku. Di Malang aku nebeng rumah tanteku untuk menghemat biaya kos dan seminggu sekali pulang ke Kediri naik sepeda motor. Untung hari Sabtu libur, jadi aku punya waktu 2 hari berkumpul dengan keluarga.

Setiap Jumat biasanya aku langsung berangkat ke Kediri begitu jam kantor selesai (jam 5 sore). Tapi karena di rumah tanteku sore itu ada tahlilan 100 hari meninggalnya bapak dari suami tante, aku baru bisa meluncur ke Kediri jam 10.30 malam.

Tante menyarankan agar aku berangkat besok pagi-pagi saja, karena tahu aku kelelahan membantu beres-beres usai acara tahlilan. Tapi karena kerinduanku pada anakku yang waktu itu baru berusia 6 bulan dan sedang lucu-lucunya, aku bersikeras pulang malam itu juga. Lagipula hari itu aku gajian.

Biasanya aku menempuh perjalanan Malang - Kediri atau sebaliknya kurang lebih selama 2 jam. Karena kondisi fisikku kurang optimal, aku tak menargetkan bisa sampai dalam waktu 2 jam itu. Apalagi di tengah perjalanan hujan turun meski tak begitu deras. Aku harus lebih hati-hati berkendara agar selamat sampai di rumah.

Tiba-tiba, ketika melewati kelokan pedesaan, rantai motorku putus. Aku panik, karena jalanan sepi. Untungnya hujan tak begitu deras di daerah itu, meski dinginnya udara sangat terasa menusuk tulang. Kutengok arlojiku. Hampir jam dua belas malam.

Dengan hati kesal, kuamati rantai yang putus tersebut. Hanya mengamati itulah yang bisa kulakukan. Setelah termenung beberapa saat, aku tuntun motorku, berharap di depan sana ada rumah penduduk yang bisa kutanyai lokasi bengkel terdekat.

Sambil menuntun motor, aku tak henti-hentinya berdoa agar Tuhan melindungiku dari orang yang berniat jahat yang ingin merampok gajiku. Apalagi di sekitarku hanya gubuk reyot yang roboh bagian depannya. Pastilah tak ada penghuninya, pikirku. Selebihnya adalah tanaman liar dan kebun pisang di kiri kanan jalan. Untung masih ada lampu penerangan jalan, walaupun jarak antara 1 dengan lainnya berjauhan.

Baru beberapa meter aku melangkah, aku dikejutkan suara seseorang dari belakangku. “Sepeda motornya kenapa, nak?”, katanya. Karuan saja jantungku berdetak kencang. Di benakku muncul pikiran negatif, “Jangan-jangan yang kukhawatirkan terjadi”.

Sambil terus menuntun aku menoleh ke belakang. Kulihat seorang laki-laki setengah baya berkopiah, mengenakan baju koko abu-abu dan sarung lusuh, seperti orang habis sholat, mengikuti langkahku. Aku sedikit lega, karena sosoknya bukan seperti preman atau penjahat pada umumnya.

Kuhentikan langkahku dan kujawab, “Rantainya putus, pak. Bapak tahu ada bengkel dekat-dekat sini?”

“Bengkel ada, tapi jauh, nak. Di perempatan sana. Masih 3 kilo lagi. Lagipula jam segini sudah tutup. Tapi saya tahu ada warga sini yang bisa memperbaiki. Rumahnya di depan sana itu,” jawabnya sambil menunjuk ke sebuah rumah di kanan jalan, kira-kira 200 meter dariku.

Dengan perasaan gembira kutuntun lagi motorku sambil mengucapkan terima kasih pada bapak tua itu. Aku merasa agak rikuh, ketika kemudian ia membantu mendorong motorku. Melihat fisiknya yang sudah renta, aku tak sampai hati dan mengatakan kalau ia tak perlu mendorong. Tapi ia hanya tersenyum sambil berkata “Tidak apa-apa, nak. Biar cepat sampai di sana”.

Dan memang aku merasa lebih ringan mendorong motorku. Untuk mencairkan suasana, kuperkenalkan diri dan asalku. Bapak itu balas memperkenalkan dirinya. “Nama saya Kiat, nak. Rumah saya dekat tempat nak Khoirul berhenti tadi”.

Mendengar jawaban pak Kiat, aku sempat berpikir. Setahuku, tak ada satu rumahpun kulewati, kecuali ladang dan kebun berbagai jenis tanaman. “Mungkin rumahnya ada di belakang salah satu ladang tadi”, pikirku menjawab keherananku sendiri. Aku pun tak terlalu mempersoalkan itu. Yang penting masalahku segera selesai dan aku bisa melanjutkan perjalanan.

Rumah yang ditunjukkan pak Kiat berada kira-kira 100 meter dari jalan raya. Andai tak ada pak Kiat, aku tak akan tahu di situ ada rumah, karena di sekitarnya di kelilingi pepohonan rimbun.

Sampai di depan rumah itu aku langsung mengetuk pintu rumah yang ditunjukkan pak Kiat. Beberapa saat kemudian seorang laki-laki membuka pintu. Usianya sekitar 30an dan menanyakan maksud kedatanganku. Setelah kuperkenalkan diriku dan kuutarakan masalahku, ia, namanya mas Diono, mempersilakanku duduk di bangku bambu yang ada di halaman rumahnya, sementara ia masuk kembali ke dalam rumahnya.

Saat itu aku baru sadar kalau pak Kiat sudah tidak ada di situ. Kupikir, ia langsung pulang begitu si pemilik rumah menyanggupi untuk membantuku. Aku menyesal tak sempat mengucapkan terima kasih kepadanya.

Tak lama, pemilik rumah datang dengan membawa perlengkapannya.

Mas tahu dari mana kalau saya bisa memperbaiki sepeda motor?,” tanya mas Diono sambil menyiapkan alat-alat perbengkelannya.

“Dari pak Kiat, mas. Tadi saya malah dibantu mendorong motor ini ke sini. Mungkin tadi mas Diono sempat melihatnya,” jawabku.

Mendengar jawabanku mas Diono menghentikan aktifitasnya lalu menoleh ke arahku dengan tatapan aneh. “Siapa, mas?” tanya mas Diono seolah tak mendengar jelas ucapanku.

“Pak Kiat. Kenal mas?,” ujarku dengan suara agak keras.

“Oo… ya, ya. Saya kenal baik dengannya,” kata mas Diono sambil melanjutkan pekerjaannya.

Dengan cekatan mas Diono menyambung rantai motorku yang putus. Jika melihat perlengkapan yang dmilikinya, serta persediaan beberapa komponen sepeda motor, tampaknya mas Diono memang berporfesi sebagai montir (mekanik) sepeda motor. Buktinya, beberapa komponen rantai motorku yang hilang digantinya dengan miliknya.

Hanya dalam waktu sekitar 15 menit pekerjaannya selesai dan kubayar sesuai dengan tarif yang dikatakan mas Diono. Tapi sebelum aku menghidupkan mesin motorku, mas Diono menanyakan padaku, “Mas Khoirul yakin tadi bertemu pak Kiat?”

“Yakin, mas.”

Aku menunjuk ke arah di mana motorku mogok yang berjarak sekitar 300 meter dari rumah mas Diono ketika ia tanya di mana aku bertemu pak Kiat.

“Bagaimana ciri-cirinya?”, mas Diono kembali bertanya.

“Sudah agak tua, kurus, kulitnya agak hitam. Kenapa, mas?”, aku jadi penasaran dengan sikap mas Diono yang terlihat seperti polisi menginterogasi maling.

“Begini, mas Khoirul. Sebenarnya pak Kiat meninggal dunia tadi siang …”

Mulutku terperangah. Aku ingin bicara, tapi tak tahu apa yang harus kuucapkan. Bulu kudukku mendadak meremang. Terlebih saat mas Diono melanjutkan penjelasannya, “Ada truk pengangkut pasir nyelonong masuk ke rumahnya. Kelihatannya waktu itu pak Diono sedang sholat Dhuhur di ruang tamu rumahnya, terlihat dari sajadah dan jenazahnya yang kami temukan di antara reruntuhan kayu dan genteng yang hancur diseruduk truk.”

“Biasanya pak Kiat kalau sholat di langgar (musholla) dekat rumahnya, tapi entah kenapa hari itu ia sholat di rumah…”, lanjut mas Diono. Matanya menerawang ke arah di mana motorku mogok tadi, “Dan motor mas Khoirul mogok tepat di depan rumahnya.”

Kata mas Diono, pak Kiat tinggal sendirian di rumah itu. Istrinya sudah meninggal sekian tahun yang lalu, sementara 2 orang anaknya merantau entah kemana dan tak pernah ada kabar beritanya. Dulunya pak Kiat bertani, tapi karena fisiknya makin lemah seiring dengan bertambahnya usia, ia beralih profesi menjadi dukun pijat.

Di antara warga desa, pak Kiat dikenal ringan tangan. Ia siap membantu siapa saja yang butuh bantuannya, walau kadang hanya dibayar dengan sepiring nasi dan kopi panas.

Dalam perjalanan pulang, pikiranku terus saja pada pak Kiat. Memang aku tak melihat dengan jelas raut wajahnya karena keadaan agak gelap. Tapi dari cara bicaranya, aku tahu ia orang yang ramah. Bahkan ketika sudah meninggal sekalipun, ia masih menyempatkan diri menolong orang lain, ujarku dalam hati.

Sejak saat itu, aku kadang menyempatkan diri singgah di reruntuhan rumah pak Kiat untuk meletakkan karangan bunga dan mengirimkan doa untuknya.

Beberapa tahun kemudian desa itu makin ramai, dan reruntuhan rumah almarhum pak Kiat tak ada lagi. Diganti dengan bangunan baru, demikian pula di kiri kanannya dan karena itulah aku tak ingat lagi letak rumah pak Kiat.  (*)

Artikel Terkait Curhat