“Max”

Henny (bukan nama sebenarnya), 46 tahun :

Menginjak usiaku yang ke 35 tahun aku resmi menyandang status janda cerai. Ya, aku bercerai dengan suamiku, sebut saja namanya mas Joko, karena aku tak mau dimadu. Aku tak mau cinta suamiku dibagi. Mulanya suamiku tak mau menceraikanku. Ia meyakinkanku bahwa cintanya padaku tetap sama seperti awal kami bertemu.

Tapi ku yang sudah terlanjur patah arang dan bersikeras untuk bercerai sejak awal mula ia utarakan keinginannya untuk menikah lagi. Bagiku, laki-laki selamanya adalah anak-anak. Jika seorang anak mempunyai mainan baru, cepat atau lambat mainan lamanya akan dicampakkan. Lebih baik sakit hati di depan untuk menata diri menghadapi hari kemudian. Begitulah prinsipku.

Dan menjadi janda tidaklah mudah. Terutama dalam hal meredam pandangan orang yang kerap negatif. Aku butuh waktu 1 tahun untuk menyesuaikan diri dengan statusku. Begitu juga kedua anak gadisku, Susi (12 tahun) dan Ruri (7 tahun). Mereka sudah terbiasa dengan ketiadaan papa mereka yang sudah makin jarang menjenguk.

Semenjak menjanda, sudah ada beberapa pria yang mencoba mendekatiku, Ada yang bekas teman sekolahku, ada juga yang tiba-tiba menelepon ke rumah untuk berkenalan. Entah dari mana mereka tahu statusku. Tapi aku sama sekali tak tertarik untuk menjalin sebuah hubungan baru.Setidaknya dalam waktu dekat ini.

Untuk mengisi waktu sekaligus menghidupi kedua anakku, aku meneruskan usaha persewaan baju adat yang telah kurintis 3 tahun lalu yang sempat terhenti karena suami kurang setuju. Berkat kegigihanku, perlahan-lahan usahaku maju pesat. Bahkan aku bisa mengembangkannya menjadi butik.

Karena kewalahan, aku merekrut salah seorang sahabatku waktu SMP. Namanya sebut saja Dewi. Aku memilihnya karena kami punya kesamaan minat tentang perbutikan. Ia juga punya bakat merancang busana, hingga aku menyerahinya untuk menangani produksi dan aku fokus pada pemasaran. Ketika internet mulai marak, aku merambah ke online marketing menggunakan blog.

Suatu hari aku dan Dewi ngobrol ke soal-soal pribadi, dan akhirnya menjurus pada kehidupan seks. Sebagaimana aku, Dewi juga seorang janda. Suaminya meninggal 7 tahun lalu karena sakit. Dengan blak-blakan Dewi mengatakan padaku, kalau sejak 2 tahun terakhir ini ia menggunakan alat bantu yang biasa disebut dildo untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Ia pun menyarankanku untuk mencobanya. Alat itu bisa dibeli secara online, sehingga tidak perlu malu. Bahkan ia menawarkan diri membantu memesannya.

Aku yang tak terbiasa dengan hal-hal seperti itu agak sedikit jengah juga. Kukatakan padanya kalau aku baik-baik saja. Bicara soal seks, terus terang aku memang butuh karena aku wanita normal. Kadang aku melakukannya dengan jariku, tapi jarang. Hanya jika kebutuhan untuk itu sudah tak bisa aku bendung lagi.

Lama-lama aku terpengaruh juga dengan usulan Dewi. Apalagi ketika saat senggang aku browsing internet mencari tahu seperti apa alat bernama dildo itu. Begitu melihat bentuknya yang mirip dengan aslinya, entah kenapa tiba-tiba gairah kewanitaan terasa tergelitik.

Setelah cukup lama merenungkannya, akhirnya kuberanikan diri memesan secara online, jenisnya yang bisa bergerak-gerak.

Tanganku agak gemetar ketika kubuka paket kiriman yang kuterima tadi siang. Isinya sesuai dengan yang kuminta, lengkap dengan baterainya. Sebelumnya, kupastikan lebih dulu kedua anakku sudah tidur nyenyak di kamarnya masing-masing. Setelah itu kukunci pintu kamarku. Lampu tidur yang redup kunyalakan.

Biasanya, libidoku meninggi menjelang datang bulan. Tak heran ketika kulihat dan kusentuh untuk pertama kalinya wujud asli barang pesananku, aku merasakan bagian intim tubuhku berdenyut-denyut. Aku jadi tak sabar untuk mencobanya.

Kubilas benda itu dengan air hangat untuk memastikan kebersihannya. Kubaringkan tubuhku di ranjang, kuaktifkan benda itu. Kusingkap dasterku dan dengan penuh kelembutan kugesekkan di bagian bawah tubuhku dan oh... jan puenak tenan. Gerakan memilinnya sungguh sensasionalnya. Mataku terpejam menikmati detik demi detik letupan birahi yang makin membuncah.

Beberapa saat kemudian kulepas celana dalamku agar bisa kurasakan langsung sentuhan benda itu.

Kenikmatan itu sungguh memabukkan, membuaiku dalam gelinjang hasrat tak bertepi, hingga membuatku makin basah. Nafasku memburu dan jantungku makin berdebar saat memasuki babak selanjutnya. Pelan tapi pasti, kudorong benda itu memasukiku. Tubuhku meregang, menggelinjang dan tanpa sadar aku memekik lirih. Kurenggangkan dan kuangkat kedua kakiku agar bisa masuk lebih dalam lagi. Pinggulku meliuk-liuk seirama dengan gerakan memilin mainan baruku.

Sensasi yang sulit digambarkan dengan kata-kata manakala tanganku bergerak makin cepat memainkan benda itu. Dan … aku orgasme. Tapi aku tak ingin itu cepat berakhir. Kubiarkan benda itu berada di sana, berputar-putar seperti mesin bor seolah ingin menembus lebih dalam lagi.

Hanya sebentar aku telentang menikmati puncak kepuasanku, dan ketika gelitik birahiku kembali naik, aku siap untuk menggapai puncak kedua.

Aku bangkit, kulepas dasterku lalu aku jongkok dengan ¾ benda itu masih bercokol di dalam. Salah satu tanganku mengaturnya agar berada dalam posisi berdiri. Setelah pas, aku mulai melakukan gerakan naik-turun. Awalnya agak sulit melakukan gaya ini karena beberapa kali benda itu terguling. Namun dengan sedikit trik, aku bisa melanjutkan gerakanku hingga orgasme kedua kuraih.

Aku tertelungkup di ranjang dengan nafas memburu. Beberapa saat lamanya aku enggan bergerak. Sendi-sendiku seperti mau lepas merasakan kenikmatan ini. Aksi yang melelahkan, tapi terbayar dengan kepuasan tiada tara yang lama tak kurasakan.

Sejak malam itu, benda itu kunamai dengan Max, mengambil nama tokoh yang diperankan oleh Mel Gibson idolaku, Mad Max. Dan sejak malam itu pula, Max dengan setia menemaniku saat libidoku meletup-letup. Entah kenapa, aku jadi ingin selalu melakukan dan melakukan lagi pada malam-malam berikutnya. Jika laki-laki selalu mau tapi belum tentu mampu, maka Max selalu mampu ketika aku mau.

Pernah suatu malam mas Joko datang ke rumahku. Alasannya kangen padaku dan anak-anak. Ujung-ujungnya, ketika anak-anak masuk ke kamar masing-masing, ia mengajakku berhubungan. Secara halus aku menolaknya. Bukan karena dendam, tapi karena ia sudah beristri, dan itu bukan lagi aku. Ketika ia tanya padaku, apakah aku tidak “kepingin” setelah lama tak melakukan, kujawab asal saja, “Hidup bukan sekedar seks, mas. Aku sudah cukup sibuk mengurus anak-anak dan usahaku ini. Tak ada waktu untuk memikirkan seks”.

Malam itu aku memang ingin, dan Max membuatku puas.

Seiring bertambahnya usia, gairah seksku semakin menurun. Belakangan ini aku sudah jarang melakukannya. Paling hanya 1 atau 2 kali sebulan. Tapi Max tetap kusimpan rapi di tempat tersembunyi yang hanya aku sendiri yang tahu. Max akan selalu siap jika aku membutuhkannya.

Akhir kata, menurutku menggunakan “Max” bukanlah hal yang memalukan. Yang memalukan adalah merusak rumah tangga orang lain maupun rumah tangga sendiri dengan berselingkuh. (*)

Artikel Terkait Curhat