Jika anakku, sebut saja namanya X, yang kini sudah masuk semester terakhir kuliahnya tidak mengalaminya, mungkin aku tidak akan pernah tahu apa itu OCD. Secara garis besar, OCD (Obsessive-compulsive disorder) adalah semacam gangguan kejiwaan berupa kecemasan yang berlebihan sehingga memaksa si penderita untuk melakukan ritual atau kegiatan rutin tertentu yang tak wajar.
![]() |
| Ilustrasi. |
Perlu kuceritakan sedikit tentang X. X adalah anak yang cerdas, tapi pendiam dan kurang bersosialisasi. Saat kecil ia lebih suka menyibukkan diri dengan membaca komik dan main game. Di sekolah, saat teman-temannya bermain-main di halaman sekolah, ia justru hanya berdiam diri di depan kelas.
Pernah suatu ketika, waktu itu X masih TK, aku merayakan ulang tahunnya di sekolah. Saat acara tiup lilin tiba dan ia harus maju ke depan kelas, ia menangis, tak mau melakukannya. Baru ketika gurunya mengajak teman-temannya untuk maju ke depan kelas, ia mau meniup lilin. Itupun tidak dilakukannya sendiri, tapi bersama-sama dengan temannya.
Saat pertama ia menderita OCD, sekitar 1 tahun yang lalu, aku selalu memarahinya setiap kali ia mencuci tangannya berkali-kali. Ini karena aku belum tahu duduk persoalan yang sebenarnya. Yang kupikirkan hanya tagihan air yang melonjak hingga 100% dari biasanya, karena ia mencuci tangan selalu menggunakan selang agar air langsung mengucur ke tangannya.
Yang membuat aku terhenyak, ketika X menunjukkan print out artikel tentang penyakit seperti yang dideritanya kepadaku. Kata X, ia mencari sendiri dari internet dengan harapan bisa menemukan solusi untuk dirinya sendiri. Saat itulah aku sadar, kalau ada sesuatu yang tak beres dengan X.
Kata X, ia sadar semua yang dilakukannya tidak wajar, tapi ia tak mampu menolaknya. Ia merasa ada dorongan dalam dirinya kalau apapun yang ada di dekatnya kotor, sehingga memaksanya untuk mencuci tangan berulang-ulang.
Atas permintaan X sendiri, aku membawanya ke psikiater. Dari hasil tes psikologi yang dilakukan oleh psikiater memang benar X menderita OCD. Kemudian X diberikan terapi dan obat untuk mengurangi kecemasan yang kerap muncul dalam pikirannya.
Memang setelah minum obat ia merasa tenang, tapi begitu obatnya habis, perilaku tak wajarnya kembali berulang dan makin memburuk. Ia bahkan tak mengijinkan siapapun masuk ke kamarnya karena takut barang-barang miliknya tersentuh oleh orang lain.
Aku dan suamiku lalu membawanya ke psikolog untuk menjalani hipnoterapi. Tapi karena hanya sekali, OCDnya tak berkurang.
Karena tengah menyusun skripsi yang tertunda cukup lama, aku terpaksa menemui salah seorang dosen pembimbingnya untuk memberitahukan masalah yang menimpa X. Syukurlah dosen pembimbingnya mau mengerti keadaan X. Mereka lebih aktif menghubungi X, baik dengan menelepon maupun melalui SMS, untuk memantau perkembangan skripsinya.
Sekali lagi aku membawanya ke psikiater, tapi yang lebih senior, untuk mengatasi masalah X. Oleh psikiater, X diminta rutin datang seminggu sekali dan diberikan obat yang harus diminum selama 6 bulan.
Saat ini, meskipun gejala OCDnya masih terlihat, tapi X sudah mau menyentuh laptop dan komputernya untuk melanjutkan skripsinya yang tertunda.
Aku tahu kalau “penyakit” yang diderita oleh X anakku tak lepas dari kesalahanku di masa lalu. Sejak ia mulai sekolah, aku selalu mendorongnya untuk menjadi yang terbaik di antara teman-teman sekelasnya. Jika ia dapat nilai di bawah 9, aku langsung memarahinya tanpa pernah terpikir olehku dampaknya pada kejiwaan X. Memang hasilnya terlihat nyata karena ia selalu menjadi juara kelas, namun dampak lain yang lebih buruk justru terjadi saat ini.
Aku sadar kalau ini adalah cobaan dari Tuhan untukku dan keluargaku. Yang dibutuhkan adalah ikhtiar, kesabaran ekstra dan doa demi kesembuhan X. (**)
