Tuhan, Terimalah Tobatku ...

Bandot, 44 tahun, karyawan swasta, somewhere :
Hai, sebut saja aku Bandot. Aku ingin berbagi pengalaman 7 tahun yang lalu, yang kurasakan begitu indah pada saat menjalaninya, namun di sisa hidupku ini terus saja menghantui malam-malam menjelang tidurku.


Usiaku 37 tahun waktu itu dan sudah membina keluarga dengan Santi (bukan nama sebenarnya) selama hampir 10 tahun serta dikaruniai 2 orang anak. Santi memilih untuk berhenti dari pekerjaannya saat hamil anak pertama kami. Ia adalah seorang muslim yang taat beribadah, sementara aku “hangat-hangat tai ayam”.

Aku bekerja di sebuah perusahaan swasta bagian Pemasaran dan masih staf biasa. Karena pekerjaan itulah aku berkenalan dan kemudian akrab dengan, sebut saja, Rina. Rina adalah supervisor stock opname di perusahaan yang menjadi rekanan perusahaanku. Meski usianya terpaut 5 tahun lebih muda dari aku, tapi karirnya lebih dahulu melejit. Aku sudah cukup lama mengenalnya, sejak ia masih berstatus staf. Aku bahkan menghadiri pernikahannya waktu itu, saat anak pertamaku berusia 5. Di mataku Rina adalah seorang wanita yang supel dan ramah, selain juga cantik, mirip Desy Ratnasari.Tapi jujur tak ada rasa tertarik sama sekali padanya, terlebih ketika ia telah berstatus istri orang. Hubungan kami pun berjalan biasa, sebatas rekan bisnis. Frekuensi pertemuanku dengannya pun tergolong jarang. Paling cepat 1 bulan sekali.

Secara tak terduga, kami bertemu dalam satu acara pelatihan di kota B, Jawa Barat. Bertemu dengan orang yang kita kenal baik di kota yang jauh dari kota asal tentulah hal yang sangat menggembirakan bukan? Apalagi kalau kita masih asing di kota itu. Karena masih asing itulah aku berangkat 1 hari lebih awal dari jadwal pelatihan dan mencari hotel yang terdekat, sedangkan Rina baru datang pagi hari menjelang acara pelatihan dengan menumpang kereta api. Ia mandi dan berdandan di stasiun kereta api lalu langsung menuju lokasi pelatihan. Ia pun sudah punya langganan hotel di kota itu dan kebetulan juga berdekatan dengan lokasi pelatihan. Pelatihan hari pertama usai jam 4 sore dan kami berjalan bersama menuju hotel masing-masing.

Malam harinya kami makan di warung tenda di seberang hotel Rina. Menunya kesukaan kami berdua, pecel lele. Harganya pun tergolong murah dan sangat terjangkau uang saku dinasku. Bahkan berlebih. Saat sedang asyik menikmati hidangan, tiba-tiba hujan turun, membuat udara makin dingin.

Entah setan apa yang merasukiku. Usai makan dan sambil menunggu hujan reda aku mengucapkan sesuatu yang tak pernah kurencanakan sebelumnya.
“Rin, boleh nggak aku ngomong sesuatu ke kamu?”, kataku disela gemercik air hujan.
“Ngomong apa, bang?” tanya Rina sambil menyeruput teh hangatnya.
“Terus terang sudah lama aku naksir kamu. Maaf ya, Rin”, aku ucapkan itu sambil memandang jari-jemarinya yang lentik.
“Ah, abang. Jangan bercanda, bang. Nanti kalau ada setan lewat lho”, jawab Rina sambil tersenyum.
Aku tertegun sejenak mendengar jawaban Rina. Kukiran ia akan memelototi aku dan marah, tapi ternyata ...? Ini membuat keberanianku bangkit. Spontan aku berujar “Sungguh, Rin. Berani sumpah!”. Spontan pula tangannya kugenggam. Lagi-lagi aku tertegun. Ia sama sekali tak berusaha menepis genggamanku, seolah-olah isyarat kalau ia membuka hatinya untukku. Aku makin erat menggenggam jemarinya, namun segera kulepaskan karena ada orang yang masuk ke warung tenda dan melewati meja kami. Sejurus kemudian kami membisu, sesekali saling berpandangan, sesekali melihat ke jalanan yang basah oleh hujan. Entah apa yang ada di benaknya, tapi aku merasa ia pun punya perasaan yang sama denganku.

Begitu hujan reda, kami pun berjalan kembali ke hotel. Kugamit tangannya saat hendak menyeberang jalan yang ramai, dan kami terus bergandengan sampai di pintu lobi hotel Rina. Kuantar Rina hingga ke pintu kamarnya lalu aku pamit menuju hotelku. Malam itu aku tak bisa tidur. Aku masih tak percaya pada apa yang telah kulakukan. Aku juga tak percaya respon Rina yang tampaknya memberi harapan kepadaku.

Saat tengah melamun tiba-tiba nada SMS masuk ke HP-ku. Kukira dari Santi, ternyata nomor Rina. Kontan jantungku berdebar-debar. Jangan-jangan Rina melampiaskan kemarahannya padaku melalui SMS ini karena waktu di warung tenda tadi tidak memungkinkan. Dengan tangan gemetar kubuka SMS itu. Kira-kira begini bunyinya :
“Bang Bandot, aku juga suka sama abang, tapi tolong jangan sampai ini mengganggu keharmonisan keluarga kita masing-masing ya”. Oh, serasa terbang ke awang-awang aku membaca SMS Rina. Ingin rasanya aku mendatangi hotelnya, tapi aku masih bisa menahan diri. Lagi pula waktu menunjukkan jam 11 malam.

Malam itu aku tidur dengan hati berbunga-bunga dan tak sabar menunggu datangnya pagi.

Paginya, bergegas aku menuju hotel Rina untuk menjemputnya. Saat itu Rina tengah berbenah diri usai mandi. Setelah membukakan pintu untukku, aku masuk ke kamarnya dan ia melanjutkan berdandan di depan cermin, sedangkan aku duduk di ranjangnya. Dan, harum tubuhnya menggodaku untuk bangkit, mendekatinya, merengkuh pundaknya lalu mencium lembut rambut panjangnya yang terurai. Karena Rina diam saja dan masih sibuk berdandan, keberanianku makin menjadi-jadi. Kusibak rambutnya, lalu kucumbui lehernya yang jenjang. Saat itulah Rina menghentikan dandannya, mendesah lirih lalu membalikkan tubuhnya menghadap aku dan memelukku erat-erat.

Dalam situasi seperti itu aku tak mampu berkata apa-apa selain membalas pelukannya sambil mencumbui telinga dan lehernya. “Oh, bang ...”, desahnya. Naluri kelelakianku sontak meronta. Kukecup bibirnya. Kami pun berciuman dengan ritme yang semula lembut, lama kelamaan makin liar. Sambil berciuman itulah pelahan-lahan kugeser tubuh kami berdua menuju ranjang. Tapi saat sampai di tepi ranjang, Rina tiba-tiba menghentikan langkahku. “Jangan sekarang, bang ... Nanti kita terlambat”, katanya dengan nafas tersengal. Aku tahu ia sama bergairahnya denganku, tapi ia lebih mampu menguasai diri. Aku pun tak ingin memaksanya.

Tak seperti hari sebelumnya, usai pelatihan terakhir itu aku tak langsung kembali ke hotelku setelah mengantar Rina. Aku mampir di hotelnya dan berharap bisa melanjutkan percumbuan yang tadi pagi tertunda, karena esok kami harus kembali ke kota asal kami dengan kereta api pagi. Jujur saja, saat pelatihan berlangsung, aku sama sekali tak berkosentrasi menyimak materi yang disajikan. Pikiranku hanya tertuju pada Rina, Rina dan Rina. Dan aku sudah tak sabar menunggu saat itu. Begitu masuk kamarnya, kurengkuh tubuh indahnya dan kami kembali melakukan percumbuan, bagaikan sepasang kekasih yang lama tak berjumpa dan menahan kerinduan yang sangat dalam. Dan, berakhir dalam keletihan yang sensasional.

Itulah awal dari semua konflik batin yang menderaku hingga ini. Aku tak pernah membayangkan akan seperti ini jadinya. Saat itu memang aku benar-benar terbuai oleh nikmatnya sebuah hubungan gelap. Betapa tidak. Sejak kejadian di kota B itu, intensitas pertemuanku dengan Rina makin sering. Tentunya bukan untuk urusan pekerjaan, tapi menyalurkan hasrat yang meletup-letup di hotel. Rina benar-benar wanita yang tahu bagaimana menyenangkan pria. Ia memperlakukan aku seolah aku ini suaminya. Bahkan ia rela bergantian membayar biaya hotel denganku. Dan yang membuatku tenggelam dalam lumpur dosa adalah karena aku bisa mewujudkan semua fantasiku dalam berhubungan badan dengannya. Semua adegan ranjang yang semula hanya kusaksikan dalam film biru sudah kulakukan bersama Rina. Ya, semuanya ... (maaf, dengan pertimbangan kesusilaan kami tidak dapat menuliskan semua fantasi yang secara blak-blakan diceritakan Bandot di sini. Red.)

Tanpa terasa skandal itu berlangsung selama 5 tahun dengan aman. Entah dengan Rina, tapi aku cukup punya banyak alasan kepada Santi untuk melakukan aksi gila-gilaanku dengan Rina. Aku jadi sulit membedakan, apakah semua yang kulakukan itu didasari cinta atau sekedar mengumbar syahwat saja.

Suatu ketika, aku jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit karena radang usus. Satu minggu aku terbaring di sana dan Santi menunjukkan kecintaan dan kesetiaan seorang istri kepadaku. Saat sedang parah-parahnya sakitku ia rela tidur di rumah sakit menjagaku, sementara anak-anak di rumah diasuh oleh kedua orang tua Santi. Entah kenapa dalam sakit itu aku melihat Santi tampak sangat cantik berbalut jilbab yang dikenakannya sejak pertama kami menikah. Aku kerap mencuri-curi pandang padanya dan tiba-tiba saja penyesalan dan perasaan bersalah menyeruak di batinku. Betapa selama ini aku telah mengkhianati kesetiaannya, mengumbar nafsu dengan kebohongan demi kebohongan. Ia sibuk mengurus anak-anak dan aku bersenang-senang dengan wanita lain.

Pulang dari rumah sakit aku masih harus bed rest di rumah dan dalam kurun waktu masa istirahatku sekitar 1 bulan itulah mata hatiku makin terbuka lebar. Istriku punya kebiasaan mengikuti acara ceramah agama di TV setiap pagi dengan volume dikeraskan karena itu dilakukan sambil mengurus anak-anak, memasak dan bersih-bersih rumah. Mau tak mau aku pun turut mendengarkan walaupun aku berada di dalam kamar. Bila kuperhatikan, dari hari ke hari permasalahan yang dibahas kebanyakan adalah perselingkuhan! Ini membuat telingaku terasa panas, seolah-olah menyindir kebejadanku selama ini. Seolah-olah ribuan mata menatapku dengan pandangan mencibir. Ya Tuhan! Sebetulnya sejak dulu aku tahu berzina itu dosa, tapi kenapa kulakukan juga? Setan benar-benar telah menguasai pikiranku hingga mengabaikan norma-norma itu.

Aku merasa, sakit yang kuidap itu adalah cubitan dari Allah untuk mengingatkanku agar kembali ke jalan-Nya. Aku merasa, itu adalah saatnya aku bertobat. Dan aku bersungguh-sungguh sadar telah melakukan kesalahan yang teramat besar. Aku tak lagi berhubungan dengan Rina, bahkan untuk sekedar mengirim SMS. Kami makin jarang bertemu, karena 1 tahun setelah itu aku dipromosikan jadi asisten manajer, di mana aku tak perlu lagi kesana kemari menawarkan produk ke rekanan. Tampaknya Rina pun menyadari kalau aku mulai menjauh. Meski begitu, aku masih bersahabat baik dengannya. Bila bertemu, kami bersikap seolah tak pernah terjadi apa-apa antara kami berdua.

Namun, ada satu hal yang hingga kini selalu menyiksa batinku. Dosaku sudah teramat besar. Meski aku makin rajin beribadah, baik yang wajib maupun sunnah, rasanya itu tak akan mampu menebus dosa masa laluku. Aku takut Allah menutup pintu tobat untukku. Yang kupikirkan adalah, apakah kegalauanku ini merupakan hukuman dari-Nya?

Ya Tuhan, terimalah tobat hamba-Mu yang hina ini.(mp2)

Artikel Terkait Curhat