Suatu hari ibuku menelepon ke hapeku. Waktu itu aku sedang rapat dengan manajer dan beberapa orang lainnya. Manajerku sempat menegurku karena sebelum rapat dimulai sudah mengingatkan peserta rapat untuk mematikan suara hape agar tidak mengganggu.
Aku minta maaf pada manajerku dan minta ijin sebentar untuk menerima telepon dari ibuku. Aku jadi agak sedikit kesal karena ibu menelepon untuk minta diantar ke dokter sore nanti sepulang kerja karena dadanya terasa sesak.
Yang membuatku kesal adalah karena di rumah ada adikku. “Kenapa tidak diantar Riri saja?!” kataku setengah menghardik. Riri adalah adik bungsuku yang kuliah semester 2 dan waktu itu sedang libur semesteran. Lagipula aku sudah janji dengan Dinar istriku untuk makan malam di luar karena hari itu adalah ulang tahunnya.
Aku merasa ibuku kecewa dengan sikapku, tapi aku tak begitu mempedulikannya karena aku segera kembali ke ruang rapat.
Malam harinya pulang dari restoran kutelepon Riri, kutanyakan apa tadi jadi ke dokter. Kata Riri, sudah dan dokter memerintahkan agar ibu dirawat di rumah sakit, tapi ibu menolak. Ibu minta diberi resep saja dan ingin berobat di rumah. Waktu aku menelepon ibu sudah tidur, tapi nafasnya masih terlihat tersengal-sengal, kata Riri. Kuhibur dia dengan mengatakan kalau obatnya mungkin belum bereaksi.
Jam 3 pagi hapeku berdering. Riri meneleponku dan bilang kalau sesak nafas ibu makin parah. Segera kupacu mobilku menuju rumah ibu dan saat itu juga kubawa ke UGD rumah sakit terdekat.
Setelah mendapat perawatan di UGD ibu dibawa ke kamar untuk rawat inap. Di situ aku hanya bisa menatap wajah ibu yang sedang tidur dengan selang oksigen di hidungnya. Terbersit penyesalan kenapa aku menolak permintaannya kemarin.
Hari kelima di rumah sakit, ibu mulai menunjukkan kemajuan. Sesak nafasnya sudah tidak separah hari pertama. Aku merasa lega melihat kondisi ibu dan dalam hati aku berjanji akan mengajaknya jalan-jalan ke kota Batu yang sejuk dan menyewa vila di sana.
Tapi keesokan harinya aku mendapat telepon dari Riri. Sambil menangis ia bilang kalau sesak nafas ibu tiba-tiba kambuh. Aku minta ijin pada manajerku untuk meninggalkan kantor dan setelah itu aku segera menjemput Dinar di kantornya untuk kemudian bersama-sama ke rumah sakit.
Sampai di rumah sakit, kulihat beberapa kerabatku berkerumun di depan kamar ibu dirawat. Aku langsung menyeruak dan masuk ke kamar. Di situ tampak olehku Riri dan mbak Rina (kakakku) berpelukan di dekat dinding, sementara dokter dan 2 orang perawat tampak sibuk menangani ibu yang terbaring di ranjang. Dinar langsung bergabung dengan Riri dan mbak Rina, sementara aku terdiam di sudut kamar.
Beberapa saat kemudian dokter menoleh ke arahku sambil menggelengkan kepala. Aku paham maksudnya. Ia hendak bicara padaku tapi aku langsung menghambur, berbarengan dengan Riri, mbak Rina dan Dinar, memeluk tubuh ibu yang sudah tak bernyawa.
Lima tahun lalu ayahku meninggal karena sakit, sekarang ibu menyusulnya. Tapi ibu meninggalkan berjuta sesal dalam diriku. Sesal yang tak akan pernah bisa kubayar selain dengan doa-doa untuk almarhumah ibuku. (*)